Balikpapan Film Festival (BFF) 2025 resmi berakhir pada Sabtu (22/11/2025) di Gedung Kesenian Balikpapan. Penyelenggaraan tahun ini mencatat partisipasi 259 film dari 92 kota/kabupaten di Indonesia, dengan rangkaian kegiatan yang mencakup pemutaran film, talkshow, temu komunitas, hingga malam penganugerahan.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, membuka kegiatan sekaligus menyampaikan arah kebijakan Pemerintah Kota Balikpapan terkait penguatan ekonomi kreatif. Ia menyebut subsektor film, animasi, kuliner, dan layanan kreatif digital menjadi prioritas dalam merespons peluang baru seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“IKN membuka permintaan baru. Produksi film, konten animasi, kuliner lokal, hingga layanan kreatif digital akan menjadi kebutuhan strategis. Karena itu persiapan SDM sejak dini sangat penting,” kata Bagus.
Menurutnya, ruang kolaborasi antarpelaku kreatif juga diperlukan agar ekosistem industri dapat tumbuh lebih kuat. “Perlu kolaborasi antara komunitas kreatif, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha agar sineas kita bisa bersaing secara profesional,” ujarnya.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan, Ratih Kusuma, mengatakan BFF menjadi wadah pertemuan pelaku film dari berbagai latar belakang, mulai dari sutradara, produser, editor, aktor, hingga komunitas film.
“Balikpapan Film Festival menjadi tempat bertemunya sineas dari berbagai daerah. Mereka berbagi pengalaman dan memperluas jaringan di industri film,” kata Ratih.
Ia menjelaskan, pendaftaran film berlangsung pada 8–12 September 2025 dan dilanjutkan proses penjurian pada 14–19 September 2025. Sementara pemutaran film dan talkshow digelar selama pelaksanaan festival.
Tim kurator Al Fayed Muhammad, Munir Shadikin, dan Servita Ramadhianti merilis catatan kuratorial yang menekankan tema “Harmoni Berkelanjutan”. Tema tersebut menjadi dasar pemilihan film untuk menghadirkan ruang refleksi atas suara-suara kecil yang dinilai kerap terpinggirkan oleh hiruk-pikuk politik maupun percepatan pembangunan.
“Film-film ini dipilih untuk menghadirkan ingatan dan ruang refleksi untuk mengajak kita memberi tempat bagi suara-suara kecil yang kerap luput,” ungkap Fayed.
Sejumlah film yang lolos kurasi tahun ini banyak mengangkat narasi kehidupan sehari-hari, relasi manusia dan lingkungan, serta perubahan sosial. Dalam catatan kuratorial disebutkan, “Kita diajak untuk melihat dengan jeda, menyimak ulang, lalu membayangkan masa depan yang lebih dekat, manusiawi, dan berkelanjutan.”
Puncak acara ditandai dengan malam penganugerahan yang menetapkan enam kategori resmi BFF 2025.

