Di tengah linimasa yang penuh kabar keras, satu berita terasa menyejukkan dan justru ramai dibicarakan.
Kebun Raya Bogor mengembangkan konsep eduwisata berbasis pengalaman lewat kelas-kelas edukasi.
Isu ini menjadi tren karena menawarkan sesuatu yang langka: kesempatan menyentuh pengetahuan dengan tangan sendiri, bukan sekadar membaca papan informasi.
Orang datang bukan hanya untuk berjalan, melainkan untuk belajar mencangkok, membuat kompos, hingga merangkai seni bunga kering.
Di balik kesederhanaannya, ada perubahan cara kita memaknai wisata, alam, dan pendidikan publik.
-000-
Isu yang Membuatnya Menanjak di Google Trend
Kelas edukasi di Kebun Raya Bogor diposisikan sebagai ruang interaksi masyarakat dengan alam.
Pernyataan itu disampaikan General Manager Corporate Communication PT Mitra Natura Raya, Zaenal Arifin, dalam keterangan resmi, Selasa (11/8/2026).
Ia menekankan kebun raya bukan hanya tempat melihat koleksi tumbuhan.
Di sana, masyarakat dapat belajar dan berinteraksi langsung melalui berbagai aktivitas.
Tujuannya bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga membangun kepedulian terhadap konservasi.
Gagasan ini terasa relevan pada masa ketika banyak orang merasa jauh dari alam, meski hidupnya bergantung pada alam.
-000-
Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Menjadi Tren
Pertama, format “belajar sambil praktik” menjawab kejenuhan wisata yang repetitif.
Berfoto di tempat yang sama mudah dilupakan.
Namun pengalaman mencangkok, meracik kompos, atau membuat terrarium meninggalkan ingatan yang lebih panjang.
Kedua, temanya dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Daftar kelasnya menyentuh kebutuhan rumah tangga, hobi, hingga keterampilan kreatif.
Kompos, tabulampot, kokedama, ecoprint, dan kultur jaringan terdengar teknis.
Namun semuanya berangkat dari pertanyaan sederhana: bagaimana merawat, memperbanyak, dan menghargai tumbuhan.
Ketiga, ada unsur aksesibilitas yang memicu percakapan.
Harga kelas mulai Rp 65.000 per peserta, di luar tiket masuk, tergantung jenis aktivitas.
Informasi biaya yang jelas membuat publik mudah membayangkan rencana kunjungan.
Selain itu, bahan dan perlengkapan praktik disiapkan pengelola.
Orang tidak harus punya alat khusus untuk memulai.
-000-
Dari “Melihat” Menjadi “Mengalami”
Di kebun raya, tumbuhan biasanya diposisikan sebagai objek pandang.
Koleksi dirawat, label dipasang, pengunjung mengamati, lalu pulang.
Kelas edukasi menggeser logika itu.
Tumbuhan menjadi mitra belajar yang disentuh, diukur, disusun, dan dipahami proses hidupnya.
Perubahan ini tampak kecil, tetapi berdampak pada cara orang mengingat alam.
Ketika tangan ikut bekerja, pengetahuan tidak lagi abstrak.
Konservasi pun tidak terdengar seperti slogan.
Ia hadir sebagai kebiasaan kecil yang mungkin dibawa pulang.
-000-
Ragam Kelas: Pengetahuan yang Ditanamkan Pelan-Pelan
Kebun Raya Bogor menawarkan kelas kompos, propagasi tanaman buah dengan mencangkok, dan tabulampot.
Ada pula kokedama, nepenthes, terrarium, platycerium, kultur jaringan, oshibana, hingga ecoprint.
Formatnya tidak berhenti pada teori.
Peserta diajak praktik dengan pendampingan fasilitator.
Ini penting karena keterampilan botani sering terasa menakutkan bagi pemula.
Pendampingan membuat proses belajar lebih aman dan terarah.
Di titik ini, kebun raya berfungsi seperti laboratorium terbuka.
Bedanya, laboratorium ini tidak mengasingkan orang awam.
Ia mengundang publik untuk masuk, mencoba, dan bertanya.
-000-
Oshibana: Seni yang Mengajarkan Kesabaran
Salah satu kelas yang mendapat sorotan adalah oshibana.
Ini seni membuat karya dengan bunga dan dedaunan yang dikeringkan menggunakan teknik press.
Nama oshibana berasal dari bahasa Jepang.
Oshi berarti “ditekan” dan bana berarti “bunga”.
Teknik ini menjaga bentuk dan warna alami material yang dikeringkan.
Setelah itu, bunga dan daun disusun menjadi komposisi bernilai estetika.
Dalam kelas, peserta dikenalkan teknik dasar lalu mempraktikkannya memakai material yang disediakan.
Aktivitas ini mengasah kreativitas dan menuntut ketelitian.
Ia juga membutuhkan fokus dan kesabaran.
Pengalaman tersebut dirasakan peserta Kampung Inggris LC yang mengikuti kelas oshibana di Gedung Samida.
Kegiatan itu berlangsung pada Sabtu (4/7/2026).
-000-
Isu Besar di Balik Kelas-Kelas Kecil
Tren ini dapat dibaca sebagai gejala sosial yang lebih luas.
Indonesia sedang mencari cara baru membangun literasi lingkungan di ruang publik.
Selama ini, pembicaraan tentang krisis iklim dan konservasi kerap terasa jauh.
Bahasanya besar, datanya rumit, dan sering berakhir pada rasa tidak berdaya.
Eduwisata berbasis pengalaman menawarkan jalur lain.
Ia memecah isu besar menjadi tindakan kecil yang bisa dipelajari.
Mencangkok misalnya, mengajarkan siklus hidup dan ketergantungan pada media tanam.
Kompos mengajarkan bahwa sampah organik bukan akhir, melainkan awal.
Terrarium mengajarkan keseimbangan ekosistem dalam ruang sempit.
Jika kebiasaan ini menyebar, dampaknya bisa melampaui pagar kebun raya.
-000-
Kerangka Riset: Mengapa Pembelajaran Berbasis Pengalaman Menempel di Ingatan
Penjelasan konseptualnya dapat ditautkan pada gagasan pembelajaran berbasis pengalaman.
Dalam tradisi pendidikan, praktik langsung sering dipahami membantu orang membangun makna dari apa yang dipelajari.
Orang tidak hanya menerima informasi, tetapi menguji dan merasakannya.
Ruang belajar seperti ini juga memadukan aspek kognitif dan afektif.
Pengetahuan berjalan bersama emosi, karena ada rasa berhasil, gagal, lalu mencoba lagi.
Di kebun raya, emosi itu muncul saat tangan kotor oleh tanah.
Atau saat susunan bunga kering akhirnya tampak harmonis.
Pengalaman semacam ini sering membuat orang lebih ingin merawat apa yang ia pahami.
Dan di situlah konservasi menemukan pintu masuk yang lebih manusiawi.
-000-
Ruang Interaksi Masyarakat dengan Alam
Zaenal Arifin menyebut pengembangan kelas edukasi sebagai upaya menjadikan kebun raya ruang interaksi masyarakat dengan alam.
Pernyataan ini menempatkan kebun raya sebagai infrastruktur sosial, bukan sekadar destinasi.
Infrastruktur sosial bekerja ketika orang datang, berjumpa, dan berbagi pengalaman.
Di kelas, orang asing bisa saling bertanya soal media tanam.
Mereka mungkin saling berbagi cerita tentang tanaman di rumah.
Interaksi ini membangun komunitas kecil yang berangkat dari kepedulian.
Ketika komunitas terbentuk, isu lingkungan lebih mudah bertahan sebagai percakapan.
Bukan percakapan yang menggurui, melainkan percakapan yang tumbuh dari praktik.
-000-
Referensi Serupa di Luar Negeri
Di banyak negara, kebun botani juga mengembangkan program edukasi publik.
Umumnya berupa lokakarya hortikultura, tur interpretatif, atau kegiatan seni berbasis tumbuhan.
Polanya mirip: mengubah kebun botani dari ruang pamer menjadi ruang belajar.
Kesamaannya terletak pada penekanan pengalaman langsung.
Pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi peserta.
Dalam konteks itu, langkah Kebun Raya Bogor dapat dibaca sebagai bagian dari arus global.
Arus yang mencoba menjembatani jarak antara kota modern dan pengetahuan ekologis.
-000-
Risiko Persepsi dan Tantangan yang Perlu Dijaga
Tren yang positif tetap membutuhkan kehati-hatian dalam pengelolaan persepsi.
Eduwisata tidak boleh terjebak menjadi sekadar aktivitas hiburan yang kehilangan pesan konservasi.
Kelas praktik perlu menjaga kedalaman materi, meski dikemas ringan.
Biaya kelas yang terjangkau juga perlu diimbangi dengan akses informasi yang merata.
Publik harus paham bahwa harga kelas belum termasuk tiket masuk.
Kejelasan ini penting agar antusiasme tidak berubah menjadi kekecewaan.
Selain itu, kualitas fasilitator menjadi kunci.
Karena pengalaman belajar sering ditentukan oleh cara pengetahuan disampaikan.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik dapat memandang kelas-kelas ini sebagai investasi literasi lingkungan.
Datanglah bukan hanya untuk selesai, tetapi untuk membawa pulang kebiasaan baru.
Mencoba kompos di rumah, misalnya, bisa menjadi tindak lanjut sederhana.
Kedua, sekolah dan komunitas dapat memanfaatkan kelas sebagai pengayaan pembelajaran.
Materi biologi, seni, dan keterampilan hidup dapat bertemu dalam satu pengalaman.
Ketiga, pengelola dapat terus menegaskan benang merah konservasi di setiap aktivitas.
Dengan begitu, kelas tidak sekadar menjadi agenda akhir pekan.
Ia menjadi cara baru membangun kepedulian yang bertahan.
Keempat, media dan pembuat kebijakan dapat melihat ini sebagai contoh inovasi edukasi publik.
Ruang hijau bisa diberi peran lebih luas dari sekadar estetika kota.
-000-
Penutup: Ketika Alam Mengajar Kita Kembali
Tren kelas edukasi di Kebun Raya Bogor menunjukkan masyarakat masih merindukan hubungan yang jujur dengan alam.
Hubungan yang tidak berhenti pada kagum, tetapi berlanjut pada memahami dan merawat.
Di era serba cepat, kelas seperti oshibana mengajarkan pelan-pelan.
Bahwa keindahan sering lahir dari ketekunan, bukan dari tergesa.
Dan bahwa konservasi bukan hanya urusan lembaga, melainkan kebiasaan yang dibangun satu tangan, satu pot, satu komposisi pada satu waktu.
Seperti pepatah yang sering diulang dalam berbagai bentuk, kita diingatkan kembali.
“Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur, kita meminjamnya dari anak cucu.”