BERITA TERKINI
Di Tengah Gelombang AI, Antrean Kuliah Seni Mengular: 12.737 Pendaftar ISI Yogyakarta dan Pertanyaan Besar tentang Masa Depan Indonesia

Di Tengah Gelombang AI, Antrean Kuliah Seni Mengular: 12.737 Pendaftar ISI Yogyakarta dan Pertanyaan Besar tentang Masa Depan Indonesia

Nama ISI Yogyakarta mendadak ramai dicari.

Angkanya membuat orang berhenti sejenak di linimasa: 12.737 pendaftar pada 2026, ketika teknologi dan AI kerap disebut kiblat pendidikan global.

Di saat banyak keluarga menimbang jurusan yang dianggap “pasti kerja”, kabar ini terasa seperti anomali yang menenangkan.

Namun justru karena itu, ia menjadi tren.

Orang ingin tahu, mengapa seni tetap dipilih, bahkan ketika mesin semakin pintar.

-000-

Angka yang Berbicara, dan Pilihan yang Tidak Sederhana

Institut Seni Indonesia Yogyakarta mencatat 12.737 pendaftar pada 2026.

Dari jumlah itu, 1.967 dinyatakan diterima sebagai calon mahasiswa.

Yang sudah registrasi ulang berjumlah 1.899 orang.

Dengan begitu, mereka resmi menjadi bagian dari keluarga besar ISI Yogyakarta.

Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, menyebut animo itu sebagai tanda minat belajar seni tetap tumbuh.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam Sidang Senat Terbuka dan PKKMB ISI Yogyakarta 2026, seperti dilansir Antara pada Rabu (19/8/2026).

Di hadapan mahasiswa baru, Irwandi juga memberi pesan yang tidak semata romantik.

Ia meminta mereka menjadikan kesempatan ini sebagai amanah dan tantangan untuk bertumbuh.

Untuk menghasilkan karya, dan bahkan menciptakan lapangan pekerjaan.

Ia berharap lulusan ISI mampu membawa nama kampus, Indonesia, dan kebudayaan Nusantara ke tingkat dunia.

Pesan lain terdengar seperti peta bertahan hidup di era disrupsi.

Mahasiswa diminta tidak terkotak pada satu disiplin, mampu berkolaborasi, dan punya multikompetensi.

-000-

Mengapa Isu Ini Menjadi Tren: Tiga Alasan yang Terlihat di Permukaan

Pertama, ada kontras yang tajam antara narasi AI dan kenyataan pilihan pendidikan.

Ketika publik dibanjiri kabar otomasi, justru ribuan orang mengantri di sekolah seni.

Kontras selalu memancing rasa ingin tahu, dan rasa ingin tahu adalah bahan bakar tren.

Kedua, angka pendaftar yang besar memberi sensasi “peristiwa sosial”, bukan sekadar berita kampus.

12.737 adalah jumlah yang mudah dibayangkan sebagai kerumunan.

Ia menghadirkan pertanyaan kolektif: apa yang sedang dicari generasi muda dari seni.

Ketiga, seni menyentuh identitas, dan identitas selalu memicu percakapan yang emosional.

Di Indonesia, seni bukan hanya keterampilan, melainkan bahasa kebudayaan.

Ketika seni dipilih, publik membaca itu sebagai sikap terhadap masa depan bangsa.

-000-

Di Balik Tren: Seni sebagai Jawaban atas Kecemasan Zaman

Era AI membuat banyak orang merasa harus mengejar yang “terukur”.

Nilai ujian, sertifikat, portofolio teknis, dan kata-kata seperti efisiensi.

Di tengah itu, seni menawarkan ruang lain: ruang untuk merasakan, menafsir, dan menyusun makna.

Barangkali inilah yang tidak selalu diucapkan, tetapi terasa.

Ketika dunia makin cepat, manusia mencari cara untuk tetap menjadi manusia.

Minat kuliah seni yang tinggi bisa dibaca sebagai upaya mempertahankan bagian itu.

Namun membaca seni hanya sebagai pelarian juga tidak adil.

Rektor ISI menekankan kerja, karya, dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Artinya, seni juga sedang bernegosiasi dengan realitas ekonomi.

-000-

Jalur Masuk dan Peta Persaingan

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Perencanaan ISI Yogyakarta, Dr. Dewanto Sukistono, menyebut proses penerimaan berjalan lancar.

Angka pendaftar tercatat melalui beberapa jalur seleksi.

Jalur SNBP diisi 3.486 pendaftar.

Jalur SNBT mencapai 5.656 pendaftar.

Jalur mandiri sekitar 2.969 pendaftar.

Di balik statistik itu, ada ribuan cerita yang tidak masuk berita.

Ada yang datang dari kota besar, ada yang mungkin dari daerah yang jauh.

Ada yang menabung lama untuk kursus, ada yang belajar otodidak.

Semua bertemu pada satu pintu yang sama: seleksi masuk.

-000-

Isu Besar Indonesia: Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, dan Ketahanan Sosial

Minat kuliah seni tidak berdiri sendiri.

Ia terkait langsung dengan isu besar Indonesia: bagaimana ekonomi kreatif dibangun, dan siapa yang mengisinya.

Jika ribuan anak muda memilih seni, itu berarti ada pasokan talenta yang besar.

Talenta ini bisa menjadi energi budaya, sekaligus energi ekonomi.

Namun energi tidak otomatis menjadi daya.

Ia butuh ekosistem, pasar yang adil, serta kebijakan yang tidak memandang seni sebagai hiasan.

Berita ISI juga menyentuh isu kebudayaan sebagai daya saing.

Irwandi menyebut harapan membawa kebudayaan Nusantara ke tingkat dunia.

Di era global, kebudayaan bisa menjadi pembeda.

Negara yang kuat bukan hanya yang mampu membuat teknologi, tetapi juga yang mampu menceritakan dirinya.

Di sini seni bekerja sebagai narasi kolektif.

Ia mengikat ingatan, membentuk empati, dan mengajari masyarakat hidup dengan perbedaan.

Ketahanan sosial sering dibahas lewat keamanan dan ekonomi.

Tetapi ketahanan sosial juga lahir dari kemampuan warga untuk saling memahami.

Seni, pada bentuk terbaiknya, melatih kemampuan itu.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa Seni Penting di Era Disrupsi

Sejumlah riset pendidikan dan ketenagakerjaan global berulang kali menempatkan kreativitas sebagai kompetensi kunci abad ke-21.

Kerangka “21st century skills” yang banyak dirujuk menekankan kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis.

Empat kemampuan itu dekat dengan praktik seni.

Seni melatih proses, bukan hanya hasil.

Ia membiasakan orang menerima umpan balik, mengolah kegagalan, dan memperbaiki karya.

Dalam bahasa ekonomi, itu membangun ketangguhan.

Dalam bahasa psikologi, itu membangun daya lenting.

Selain itu, riset tentang pembelajaran berbasis seni sering menunjukkan kaitan dengan kemampuan memahami perspektif orang lain.

Empati bukan kata yang lembek.

Di tempat kerja yang lintas budaya, empati adalah kompetensi.

Di masyarakat yang majemuk, empati adalah prasyarat hidup bersama.

Berita ISI menjadi pintu untuk melihat bahwa pendidikan seni bukan sekadar soal panggung.

Ia juga soal keterampilan manusiawi, yang justru kian mahal ketika mesin mengambil tugas rutin.

-000-

Ketika Kampus Seni Berusaha Menampung Lebih Banyak

Irwandi menyatakan ISI Yogyakarta berupaya meningkatkan daya tampung.

Pernyataan ini terdengar sederhana, tetapi implikasinya besar.

Meningkatkan daya tampung berarti memperluas akses.

Namun akses harus diikuti mutu.

Di pendidikan seni, mutu bukan hanya soal ruang kelas.

Ia soal studio, alat, ruang latihan, panggung, galeri, dan waktu bimbingan.

Ia juga soal jejaring industri, festival, residensi, dan peluang tampil.

Jika daya tampung naik tanpa ekosistem pendukung, kampus bisa kewalahan.

Jika daya tampung naik dengan perencanaan, Indonesia bisa mendapat lompatan talenta kreatif.

Dewanto menyebut proses penerimaan berjalan lancar.

Kelancaran administrasi penting, tetapi tantangan sesungguhnya ada setelah gerbang masuk.

Bagaimana kampus mengantar mahasiswa menjadi seniman dan insan kreatif yang mandiri.

-000-

Referensi Luar Negeri: Ketika Seni Tetap Dicari di Tengah Teknologi

Fenomena minat pada pendidikan seni di tengah kemajuan teknologi bukan hanya cerita Indonesia.

Di sejumlah negara, perdebatan tentang STEM versus seni melahirkan gagasan STEAM.

STEAM menambahkan “Arts” ke dalam sains, teknologi, teknik, dan matematika.

Gagasannya sederhana: inovasi butuh imajinasi dan desain, bukan hanya kalkulasi.

Di Amerika Serikat, misalnya, banyak universitas menguatkan program desain, media, dan seni digital.

Di Korea Selatan, industri budaya populer memperlihatkan bagaimana investasi pada talenta kreatif dapat menjadi kekuatan global.

Di Inggris, sekolah seni dan desain kerap dikaitkan dengan industri kreatif yang menyumbang nilai ekonomi besar.

Perbandingan ini tidak berarti menyalin mentah-mentah.

Namun ia memberi cermin: ketika seni diperlakukan serius, ia bisa menjadi strategi nasional.

Berita ISI Yogyakarta mengingatkan bahwa Indonesia memiliki modal manusia untuk itu.

-000-

Membaca Pesan Rektor: Kolaborasi dan Multikompetensi

Irwandi menekankan agar mahasiswa tidak terkotak pada satu disiplin.

Ini penting, karena seni hari ini jarang berdiri sendiri.

Musik bertemu teknologi rekam.

Teater bertemu tata cahaya digital.

Film bertemu platform distribusi.

Seni rupa bertemu kurasi, manajemen pameran, dan pasar.

Kolaborasi bukan jargon, melainkan cara bertahan.

Multikompetensi bukan berarti menjadi serba bisa tanpa kedalaman.

Ia berarti punya inti yang kuat, lalu memahami bahasa bidang lain untuk bekerja bersama.

Di era disrupsi, kemampuan lintas bidang sering menjadi pembeda.

Dan kampus seni, jika dirancang tepat, bisa menjadi laboratorium lintas disiplin yang alami.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik perlu berhenti menempatkan seni sebagai pilihan “cadangan”.

Angka pendaftar ISI menunjukkan seni adalah pilihan sadar, bukan kecelakaan.

Perbincangan sebaiknya bergeser dari meremehkan, menjadi memahami ekosistem kerja kreatif.

Kedua, kampus dan pemangku kebijakan perlu menata peningkatan daya tampung secara bertahap.

Fokusnya bukan hanya menerima lebih banyak, tetapi memastikan ruang belajar memadai.

Termasuk fasilitas, dosen, dan akses pada panggung publik.

Ketiga, dunia industri dan pemerintah daerah dapat memperluas jembatan magang dan proyek.

Jika mahasiswa diminta menciptakan lapangan pekerjaan, mereka butuh akses pasar dan jejaring.

Kolaborasi dengan festival, ruang seni, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif bisa menjadi jalur.

Keempat, masyarakat perlu memandang seni sebagai bagian dari literasi kebudayaan.

Literasi ini penting agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen budaya global.

Indonesia perlu menjadi produsen narasi, produsen estetika, dan produsen makna.

Kelima, mahasiswa seni sendiri perlu memegang pesan Irwandi sebagai disiplin harian.

Bertumbuh, menghasilkan karya, dan memikirkan dampak.

Di situ seni menjadi kerja yang bertanggung jawab, bukan sekadar ekspresi.

-000-

Penutup: Di Antara Mesin dan Manusia

Berita 12.737 pendaftar ISI Yogyakarta bukan sekadar kabar kampus.

Ia adalah potret kecil dari pergulatan besar: bagaimana Indonesia menyiapkan masa depan tanpa kehilangan jiwanya.

AI akan terus maju, dan pendidikan harus menyesuaikan.

Namun kemajuan tidak harus menghapus ruang batin.

Ketika ribuan orang memilih seni, mereka sedang mengatakan sesuatu.

Bahwa kreativitas masih dipercaya.

Bahwa kebudayaan masih dianggap penting.

Bahwa manusia tidak hanya ingin hidup efisien, tetapi juga bermakna.

Dan mungkin, di situlah harapan itu berdiam.

Seperti pengingat yang sering diulang dalam berbagai bentuk kebijaksanaan: “Kita tidak mewarisi masa depan, kita menciptakannya.”