BERITA TERKINI
Direktur NCTC AS Joe Kent Mundur, Kritik Trump soal Perang dengan Iran

Direktur NCTC AS Joe Kent Mundur, Kritik Trump soal Perang dengan Iran

Direktur Pusat Antiterorisme Nasional (NCTC) Amerika Serikat, Joe Kent, resmi mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap perang melawan Iran. Pengunduran diri ini menjadi yang paling mencolok sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu.

Dalam surat pengunduran diri yang diunggah di platform X dan dikutip dari laporan Al-Jazeera pada Rabu (18/3/2026), Kent menyatakan tidak bisa “dengan hati nurani yang bersih” mendukung keterlibatan AS dalam perang tersebut. Ia menuduh Presiden AS Donald Trump telah “terjebak” oleh kampanye disinformasi yang, menurutnya, dilakukan pejabat Israel dan pelobi berpengaruh di AS hingga mendorong konflik yang dinilai merugikan kepentingan nasional Amerika.

“Iran tidak memberikan ancaman nyata bagi negara kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan pelobi kuatnya di Amerika,” tulis Kent dalam surat tersebut.

Kent, mantan US Army Ranger yang disebut memiliki 11 penugasan tempur di Timur Tengah, turut menyoroti aspek hukum terkait dasar serangan. Ia menilai klaim “ancaman nyata” (imminent threat)—yang menjadi prasyarat hukum bagi presiden untuk menyerang tanpa persetujuan Kongres—tidak terpenuhi dalam kasus ini.

Ia juga menilai Trump telah melenceng dari janji kampanyenya untuk mengakhiri keterlibatan militer AS di luar negeri. Menurut Kent, Trump sempat memahami bahwa perang di Timur Tengah merupakan “perangkap yang merampas nyawa patriot” serta menguras kekayaan dan kemakmuran Amerika. Namun, pada periode keduanya, Kent menyebut Trump terpengaruh “ruang gema” (echo chamber) dari pejabat Israel dan media yang, menurutnya, menyebarkan narasi palsu mengenai ancaman Iran.

“Ruang gema ini digunakan untuk menipu Anda agar percaya bahwa Iran memberikan ancaman nyata bagi Amerika Serikat, dan bahwa Anda harus menyerang sekarang, karena ada jalan yang jelas menuju kemenangan cepat,” tulis Kent.

Menanggapi pengunduran diri tersebut, Trump menepisnya dengan nada meremehkan. “Saya selalu menganggapnya lemah dalam hal keamanan,” ujar Trump kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa ia tidak mengenal Kent dengan baik. Trump tetap bersikeras bahwa Iran merupakan ancaman nyata, meski pemerintahannya disebut belum memberikan bukti konkret atas klaim pengembangan rudal dan nuklir Iran yang dijadikan pembenaran serangan.

Dalam suratnya, Kent juga menyinggung latar belakang pribadi. Ia menyebut istrinya tewas akibat serangan bom bunuh diri ISIS di Suriah pada 2019. Kent menyatakan istrinya tewas dalam perang yang ia sebut “diciptakan oleh Israel” dan menegaskan tidak bisa mendukung pengiriman generasi berikutnya untuk bertempur dan mati dalam perang yang, menurutnya, tidak memberi manfaat bagi rakyat Amerika maupun sepadan dengan biaya nyawa warga AS.

Sejak perang dimulai, 13 tentara AS dilaporkan tewas. Sementara itu, sedikitnya 1.444 orang di Iran, 20 orang di wilayah Teluk, dan 15 orang di Israel dilaporkan kehilangan nyawa. Meski pemerintahan Trump mengklaim perang akan berakhir dalam hitungan minggu, para analis memperingatkan konflik ini berpotensi berkembang menjadi perang berkepanjangan.

Langkah Kent juga menambah daftar kritik dari kalangan internal pergerakan Make America Great Again (MAGA) yang kecewa terhadap kebijakan perang Trump. Sebelumnya, Kent sempat dipuji oleh Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard sebagai sosok yang “secara konsisten mengutamakan negara di atas kepentingan pribadi.” Meski demikian, Kent menutup surat pengunduran dirinya dengan harapan agar Trump mengubah arah kebijakan.