BERITA TERKINI
Efek Praktikal dan Prostetik Jadi Kunci Horor Tubuh dalam Serial The Beauty

Efek Praktikal dan Prostetik Jadi Kunci Horor Tubuh dalam Serial The Beauty

Jakarta — Sejak penayangan perdana The Beauty di FX, serial ini ramai diperbincangkan di media sosial karena memunculkan respons yang bertolak belakang: kekaguman sekaligus kengerian. Karya terbaru dari kreator Ryan Murphy tersebut mengangkat obsesi terhadap kecantikan, namun juga disebut menetapkan standar baru untuk genre body horror lewat pendekatan visual yang ekstrem.

Laporan mendalam yang dikutip dari Variety menyebutkan, kesan “sempurna” yang terlihat di layar bukan semata hasil olah komputer. Produksi serial ini melibatkan kerja teknis yang intens, termasuk penggunaan ribuan liter darah buatan serta pengembangan prostetik yang dirancang untuk menghadirkan transformasi tubuh secara meyakinkan.

Di saat banyak produksi memilih mengandalkan computer-generated imagery (CGI), sutradara Jennifer Lynch justru mengambil arah sebaliknya. Tim produksi memutuskan untuk membangun rasa takut dari sesuatu yang benar-benar ada di lokasi syuting. Kepala tim prostetik menyebut ada sensasi yang lebih mengganggu ketika penonton melihat kulit silikon yang robek secara nyata.

Efek praktikal itu menghadirkan detail yang sulit ditiru oleh grafis komputer: kilau lendir, kontraksi otot buatan, hingga pori-pori yang tampak meregang saat karakter mengalami perubahan. Dalam prosesnya, setelah tubuh aktor dilapisi cairan lengket dan riasan, mereka dimasukkan ke kantong silikon seberat 27 hingga 32 kilogram. Area tertentu pada kantong sengaja dibuat lebih rentan sebagai titik robekan ketika adegan dimulai, sementara ventilasi khusus di bagian belakang disiapkan agar udara tetap bersirkulasi.

Komunikasi di lokasi pun dibuat menyesuaikan kondisi tersebut. Murphy dan para sutradara berkomunikasi dengan aktor melalui radio yang ditempatkan di bawah kantong silikon, karena ketebalan material membuat mereka sulit mendengar satu sama lain. Di sisi lain, tim prostetik yang dipimpin Dave Presto bersiaga dengan ember-ember lendir untuk disiramkan segera setelah sutradara meneriakkan “action”.

Menurut Presto, lendir yang terlihat jatuh dari kantong-kantong silikon dalam pengambilan gambar adalah nyata. Ia mengatakan, tahap pascaproduksi hanya menambahkan sedikit efek asap dan gelembung. Presto juga menyebut sebagian besar efek visual grafis dalam serial ini dibuat secara manual dengan pengeditan yang minimal.

Proses itu, kata Presto, membutuhkan material dalam jumlah besar. Tim menghabiskan sekitar 200 galon atau sekitar 757 liter silikon untuk membuat 25 hingga 30 kantong. Kantong-kantong tersebut disebut sangat berat, dan menjadi makin sulit dipindahkan setelah ditambah lendir.

Tim prostetik lainnya, Brett Schmidt, menambahkan bahwa ide-ide baru terus muncul selama syuting berlangsung. Murphy kerap mengubah arah setelah melihat sesuatu di lapangan. Awalnya, tim tidak yakin apakah seluruh adegan transformasi akan dibuat seragam, namun hasil akhirnya berbeda: setiap transformasi dirancang memiliki keunikan tersendiri, seolah menampilkan makhluk yang berbeda.

Bagi para aktor seperti Evan Peters dan Ashton Kutcher, proses ini menuntut ketahanan fisik. Disebutkan, beberapa sesi aplikasi riasan dan prostetik dapat memakan waktu hingga delapan jam sebelum kamera mulai merekam.

Dalam salah satu adegan yang disebut paling ikonik di episode terbaru, penonton diperlihatkan bagaimana zat kecantikan perlahan menggantikan organ tubuh asli manusia. Pesan yang ingin disampaikan digambarkan tegas: keinginan menjadi sempurna secara instan dapat menghancurkan kemanusiaan dari dalam.

Sejumlah kritikus memuji keberanian serial ini dalam menampilkan horor yang elegan namun menjijikkan. Dengan capaian visual tersebut, The Beauty juga diprediksi berpeluang kuat bersaing di kategori teknis pada ajang Emmy, terutama untuk desain tata rias dan efek visual.