Festival Film Horor (FFH) Edisi Ke-4 digelar di Pictum Cafe, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Berbeda dari festival film pada umumnya, FFH disebut konsisten menghadirkan ruang diskusi mendalam bagi para sineas. Pada edisi kali ini, FFH menyoroti peran musik dalam membangun atmosfer ketegangan melalui tema “Musik Horor yang Membumi: Membangun Vibes Horor Tanpa Kehadiran Setan”.
Diskusi menghadirkan produser eksekutif Lok S. Iman, sutradara Randy Chana, serta penata musik (music director) Bemby Gusti, dengan moderator Alyne Ma’arif. Para narasumber menekankan bahwa musik bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen yang ikut menentukan emosi penonton.
Bemby Gusti menyoroti pentingnya membedakan musik dan sound atau bunyi-bunyian. Ia menilai musik memiliki kekuatan psikologis yang besar. Namun, ia juga menyebut dalam proses kreatif kerap muncul perdebatan antara visi sutradara dan penata musik.
Dalam kesimpulan diskusi, para pembicara menyatakan musik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam film. Mereka menilai, jika tidak digarap dengan serius, sebuah film dapat terasa seolah tidak memiliki akhir cerita yang tuntas.
Lok S. Iman menyampaikan pendekatan yang memberi keleluasaan bagi para kreator dalam menentukan unsur audio di film mereka. “Aku percaya dengan mereka, terserah mereka saja menentukan musiknya,” ujar Lok. Sikap ini dinilai membuka ruang bagi sutradara, termasuk Randy Chana, untuk lebih cermat memilih musik yang sesuai tema film demi membangkitkan ketegangan psikologis penonton tanpa harus selalu mengandalkan kemunculan sosok setan secara visual.
Puncak acara ditandai dengan pengumuman film dan individu terpilih untuk periode Maret 2026. Film berjudul “Lift” dinyatakan sebagai film terpilih pada FFH Edisi Ke-4.

