BERITA TERKINI
Film Pendek “Lift” Jadi Terbaik di Festival Film Horor Edisi Ke-4, Diskusi Soroti Peran Musik dan Desain Suara

Film Pendek “Lift” Jadi Terbaik di Festival Film Horor Edisi Ke-4, Diskusi Soroti Peran Musik dan Desain Suara

Festival Film Horor (FFH) edisi ke-4 digelar di Pictum Cafe dengan rangkaian acara yang memadukan pemutaran film pilihan bulanan dan diskusi mendalam seputar proses kreatif di balik layar. Dalam penyelenggaraan kali ini, film pendek “Lift” terpilih sebagai film terbaik bulan Maret.

Selain menetapkan “Lift” sebagai film terbaik, FFH juga memberikan penghargaan kepada sejumlah insan film yang terlibat dalam karya tersebut. Penghargaan diberikan kepada Alfie Afandi sebagai aktor terbaik, Ismi Melinda sebagai aktris terbaik, Risky Dwipanca sebagai sinematografer terbaik, serta Randy Chana sebagai sutradara terbaik.

FFH tidak hanya menempatkan penghargaan sebagai fokus utama, tetapi juga mengangkat diskusi tematik yang ditujukan sebagai referensi bagi sineas muda. Pada edisi ke-4, tema yang diusung adalah “Musik Horor yang Membumi: Membangun Vibes Horor Tanpa Kehadiran Setan”, yang membahas bagaimana musik dan desain suara dapat membangun ketegangan psikologis tanpa harus selalu menampilkan sosok makhluk supranatural.

Diskusi menghadirkan produser eksekutif Lok S. Iman, sutradara Randy Chana, music director Bemby Gusti, serta dimoderatori Alyne Ma’arif. Para pembicara menekankan bahwa musik memegang peran penting dalam membentuk emosi penonton, terutama dalam genre horor yang bertumpu pada atmosfer dan ketegangan psikologis. Mereka juga menyinggung bahwa dalam sejarah sinema, musik telah menjadi elemen yang menghidupkan film sejak era film bisu.

Meski demikian, para pembicara menggarisbawahi perlunya membedakan musik dan sound design dalam produksi film. Tidak semua bunyi dalam film merupakan musik, karena banyak elemen audio yang berupa sound effect atau sound design yang dirancang untuk memunculkan respons emosional tertentu.

Lok S. Iman menyampaikan bahwa dalam proses produksi, ia cenderung memberi kebebasan kepada tim kreatif untuk menentukan komposisi musik maupun desain suara. Menurutnya, meski ada produser yang ikut campur dalam menentukan unsur musik pada film yang mereka biayai, para pembuat film dinilai lebih memahami kebutuhan artistik karya yang sedang dikerjakan. “Saya percaya dengan tim kreatif yang mengerjakan film tersebut. Mereka yang lebih memahami bagaimana musik atau sound harus ditempatkan dalam cerita,” ujarnya dalam diskusi.

Pandangan serupa disampaikan Bemby Gusti yang menilai musik memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi psikologi penonton. Ia menjelaskan bahwa sebelum menentukan komposisi musik pada suatu adegan, kerap terjadi diskusi bahkan perdebatan kreatif antara music director dan sutradara. Namun, ia menegaskan bahwa visi sutradara tetap menjadi acuan utama dalam menentukan arah artistik film.

Randy Chana menambahkan bahwa pemilihan musik harus selaras dengan tema cerita. Dalam film horor, musik disebut dapat membangun ketegangan bahkan sebelum sesuatu yang menakutkan muncul di layar. Karena itu, ia menekankan pentingnya komunikasi intens antara sutradara dan music director agar setiap elemen suara mendukung alur cerita secara maksimal.

Diskusi di FFH edisi ke-4 kemudian mengerucut pada kesimpulan bahwa musik bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen yang dapat menentukan bagaimana sebuah cerita terasa selesai bagi penonton. Tanpa musik yang tepat, sebuah film dinilai bisa terasa belum mencapai akhir emosionalnya, sementara musik yang sesuai dapat menutup pengalaman sinematik dan memberi makna pada perjalanan cerita di layar.

Melalui format yang menggabungkan pemutaran film dan diskusi, FFH diharapkan terus menjadi ruang apresiasi sekaligus forum kreatif bagi sineas, khususnya pembuat film independen, untuk memperkenalkan karya mereka dan memperkaya perspektif tentang proses kreatif di industri perfilman Indonesia, terutama di genre horor.