BERITA TERKINI
IHSG Cetak Rekor 8.600, Kenaikan Pekan Ini Didominasi Saham Konglomerasi; Bank Besar Tertinggal

IHSG Cetak Rekor 8.600, Kenaikan Pekan Ini Didominasi Saham Konglomerasi; Bank Besar Tertinggal

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren positif dan sempat menyentuh rekor tertinggi baru di level 8.600. Sepanjang pekan, IHSG ditutup menguat 1,1% secara mingguan (week-on-week/w-w) sehingga kinerja sejak awal tahun (year-to-date/YTD) mencapai 20,2%.

Meski naik, penguatan IHSG pada pekan tersebut lebih banyak ditopang saham-saham grup konglomerasi. Sejumlah saham mencatat kenaikan tajam, di antaranya DSSA yang naik 10,0% w-w, CUAN 18,6%, PTRO 11,7%, dan RATU 23,1%.

Di sisi lain, saham perbankan berkapitalisasi besar justru tertinggal. BBRI turun 7,1% w-w, BBCA melemah 1,5%, dan BMRI turun 2,4%.

Untuk sektor yang dipantau, Industrial Estate menjadi salah satu yang berkinerja kuat dengan kenaikan 5,5% w-w. Sektor Telco naik 3,4% dan Heavy Equipment menguat 3,6%. Sementara itu, sektor Banks turun 3,1% w-w dan Retailers melemah 2,3%, seiring masih lemahnya kinerja earnings Oktober 2025.

Dari sisi arus dana, aliran dana asing tetap berada di zona positif sebesar US$59 juta untuk seluruh pasar. Kondisi ini menempatkan IHSG sebagai salah satu dari sedikit pasar negara berkembang yang mencatat inflow pada pekan tersebut. Pergerakan arus dana terlihat bergeser ke saham-saham yang masuk indeks MSCI seperti BRMS dan BREN, sementara bank-bank besar seperti BBRI dan BBCA mengalami pembalikan arus (flow reversals). BMRI disebut menjadi salah satu saham yang masih mencatat inflow konsisten selama enam pekan terakhir.

Memasuki pekan berikutnya, perhatian pasar tertuju pada keberlanjutan penurunan volatilitas serta pemulihan harga saham dan komoditas, setelah pekan perdagangan yang lebih singkat di pasar AS.

Dalam pembaruan pandangan terhadap BBCA, target harga (TP) diturunkan menjadi Rp10.800 dengan rekomendasi tetap “Buy”. Proyeksi tahun buku 2026 (FY26) menekankan pertumbuhan laba yang ditopang volume yang lebih tinggi dan kualitas aset yang membaik. Namun, margin bunga bersih (NIM) diperkirakan menurun akibat turunnya imbal hasil aset produktif dalam lingkungan suku bunga lebih rendah, meski sebagian terimbangi oleh biaya dana (CoF) yang juga lebih rendah.

Untuk FY26, laba bersih diproyeksikan tumbuh 2% secara tahunan (year-on-year/yoy), didorong oleh pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dan biaya kredit yang lebih rendah, meskipun NIM menurun. Penilaian valuasi digeser ke FY26 dengan asumsi ROE 19,8% dan CoE 6,8%, yang menjadi dasar penurunan target harga ke Rp10.800.