BERITA TERKINI
Intervensi Gizi Dini Dinilai Penting untuk Cegah Stunting, Ini Bentuk Program Sensitif dan Spesifik

Intervensi Gizi Dini Dinilai Penting untuk Cegah Stunting, Ini Bentuk Program Sensitif dan Spesifik

Intervensi gizi dinilai penting dalam upaya pencegahan stunting agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara sehat. Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang terjadi akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Anak yang mengalami stunting disebut berisiko menghadapi sejumlah dampak, mulai dari infeksi akut berulang, penurunan kemampuan intelektual, penurunan produktivitas, gangguan reproduksi, hingga peningkatan risiko obesitas yang dapat berujung pada penyakit degeneratif di masa depan. Karena itu, intervensi gizi ditekankan untuk dilakukan sedini mungkin.

Dalam upaya pencegahan stunting, intervensi gizi dikelompokkan menjadi dua, yakni intervensi sensitif dan intervensi spesifik.

Intervensi gizi sensitif dilakukan oleh sektor di luar kesehatan yang terkait dengan penanggulangan stunting. Program yang termasuk dalam intervensi sensitif antara lain penyediaan akses air bersih, penyediaan akses sanitasi termasuk melalui program STBM, fortifikasi bahan pangan oleh Kementerian Pertanian, penyediaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), penyediaan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal), pendidikan pengasuhan bagi orang tua, pendidikan anak usia dini universal oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, program Keluarga Berencana (KB), edukasi kesehatan seksual dan reproduksi serta gizi remaja, pengentasan kemiskinan, serta peningkatan ketahanan pangan dan gizi.

Intervensi gizi spesifik dilakukan oleh sektor kesehatan melalui Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Intervensi ini dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu intervensi prioritas yang dinilai berdampak paling besar dan ditujukan menjangkau semua sasaran prioritas, intervensi pendukung yang diprioritaskan setelah intervensi prioritas, serta intervensi prioritas sesuai kondisi tertentu, termasuk untuk situasi darurat bencana melalui program gizi darurat.

Pembagian tersebut dimaksudkan sebagai panduan dalam pelaksanaan program penurunan stunting, terutama ketika terdapat keterbatasan sumber daya.

Intervensi spesifik juga dapat dikelompokkan berdasarkan sasaran program. Pada sasaran ibu hamil, intervensi dilakukan melalui perlindungan dari kekurangan zat besi, asam folat, serta kekurangan energi dan protein kronis, termasuk perlindungan dari kekurangan iodium dan perlindungan terhadap malaria.

Pada sasaran ibu menyusui dan anak usia 0–6 bulan, intervensi dilakukan melalui dorongan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) atau pemberian kolostrum ASI, edukasi ASI eksklusif, pemberian imunisasi dasar, pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita setiap bulan, serta penanganan bayi sakit secara tepat.

Sementara pada sasaran ibu menyusui dan anak usia 7–23 bulan, intervensi dilakukan melalui dorongan pemberian ASI hingga usia 23 bulan yang didampingi Makanan Pendamping ASI (MPASI). Program lain meliputi penyediaan dan pemberian obat cacing, suplementasi zink, fortifikasi zat besi ke dalam makanan, perlindungan terhadap malaria, pemberian imunisasi, serta pencegahan dan pengobatan diare.

Pencegahan pada tahap awal kehidupan turut menjadi perhatian karena stunting pada usia dini dapat menimbulkan dampak merugikan dalam jangka pendek maupun panjang, terutama bila gangguan pertumbuhan dimulai pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sejak konsepsi hingga usia dua tahun.

Dalam informasi yang dirangkum, stunting pada balita disebut tidak bisa disembuhkan, namun perbaikan gizi dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup. Upaya yang disampaikan meliputi pemenuhan kebutuhan gizi sejak masa kehamilan dengan konsumsi makanan sehat bergizi dan suplemen sesuai anjuran dokter serta pemeriksaan rutin ke dokter atau bidan.

Selain itu, ibu disarankan memberikan ASI eksklusif hingga bayi berusia enam bulan. Setelah itu, ASI didampingi MPASI dengan memastikan asupan gizi mikro dan makro terpenuhi. Rekomendasi fortifikasi atau penambahan nutrisi ke dalam makanan juga disebutkan, dengan catatan pemilihan produk tambahan sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

Orang tua juga diimbau terus memantau pertumbuhan anak, terutama tinggi dan berat badan, dengan membawa anak secara berkala ke Posyandu atau klinik anak untuk mengenali gejala awal gangguan dan penanganannya. Kebersihan lingkungan pun ditekankan karena anak rentan terserang penyakit seperti diare, yang dapat meningkatkan peluang stunting, salah satunya akibat paparan kotoran yang masuk ke dalam tubuh.