Ada satu kata yang belakangan sering muncul di pencarian: kepemimpinan.
Bukan kepemimpinan yang lahir dari slogan, melainkan yang mampu hidup di tengah kecerdasan buatan, arus konten, dan kecemasan masa depan.
Itu sebabnya Jakarta Student Leader Summit (JSLS) 2026 menjadi perbincangan.
Forum ini digelar Telkom University Jakarta untuk pertama kalinya, Sabtu (23/5/2026), di Gedung Stasiun Bumi, Kampus Daan Mogot, Jakarta.
Sekitar 450 pelajar SMA dan SMK sederajat dari DKI Jakarta dan Banten hadir.
Tema yang diusung terdengar sederhana, tetapi menyentuh urat zaman: “SYNC: Synchronizing Art, Tech, and Leadership”.
Kata “sync” menyiratkan sesuatu yang selama ini tercerai: kreativitas, teknologi, dan karakter.
Dalam ruang yang sama, pelajar diajak membayangkan masa depan yang tidak menunggu mereka siap.
Di sinilah isu itu menjadi tren.
Ia bukan sekadar acara kampus, melainkan cermin kebutuhan sosial yang lebih luas.
-000-
Mengapa JSLS 2026 Menjadi Tren: Tiga Alasan yang Membentuk Gelombang
Alasan pertama adalah keresahan kolektif tentang AI.
Pelajar melihat AI bukan lagi wacana, melainkan alat yang masuk ke tugas sekolah, konten media sosial, hingga cara orang bekerja.
Ketika teknologi terasa dekat, kebutuhan akan panduan terasa mendesak.
JSLS 2026 menawarkan bahasa yang tidak menggurui, tetapi mengajak memahami.
Alasan kedua adalah kelangkaan ruang pengembangan diri yang relevan bagi Gen Z.
Berita ini menyebut peserta antusias.
Antusiasme itu menandai sesuatu: pelajar membutuhkan forum yang mengakui dunia mereka, termasuk kreativitas, hiburan, dan pengalaman praktik.
Alasan ketiga adalah perpaduan format yang komplet.
Ada talk show, trial class interaktif, pameran inovasi, hingga sesi hiburan yang menutup acara dengan kebersamaan.
Di era ekonomi atensi, format yang berlapis sering lebih mudah menyebar.
Bukan karena dangkal, tetapi karena terasa hidup.
-000-
Di Balik Tema “SYNC”: Pendidikan Tinggi yang Tidak Lagi Cukup Hanya “Pilih Jurusan”
Telkom University Jakarta menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan pilihan program studi.
Pernyataan ini penting, karena ia menantang cara lama memandang pendidikan sebagai jalur tunggal.
Selama bertahun-tahun, banyak keluarga menanyakan satu hal: masuk jurusan apa.
Pertanyaan itu sah, tetapi kini tidak memadai.
Perubahan teknologi membuat keterampilan cepat usang.
Yang lebih bertahan adalah kemampuan menyelaraskan bakat, memahami teknologi, dan memimpin.
JSLS 2026 menaruh tiga hal itu dalam satu panggung.
Ia mengajak pelajar memikirkan diri sebagai manusia utuh, bukan hanya calon pekerja.
Di titik ini, tema “SYNC” menjadi lebih dari jargon.
Ia menjadi ajakan untuk menyatukan yang sering dipisah oleh sistem.
-000-
Karakter dan Adaptasi: Pesan dari Kampus dan Pemerintah
Wakil Rektor Bidang Admisi, Kemahasiswaan, dan Alumni Telkom University Prof Dr Ratri Wahyuningtyas menekankan bahwa adaptasi teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan karakter.
Tujuannya, kata Ratri, mempersiapkan generasi penerus bangsa dan menciptakan the future leaders yang memiliki karakter kuat.
Pesan itu terdengar klasik, tetapi konteksnya baru.
AI membuat banyak hal menjadi mudah, termasuk meniru, memanipulasi, dan memproduksi informasi tanpa verifikasi.
Di tengah kemudahan, karakter menjadi pagar.
Telkom University Jakarta menyebut nilai HEI: Harmony, Excellence, dan Integrity.
Nilai-nilai ini bekerja sebagai kompas moral ketika teknologi menawarkan jalan pintas.
Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Seksi Kelembagaan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Drs Umaryadi juga menekankan kebijaksanaan memanfaatkan teknologi.
Selain menjadi pengguna, pelajar perlu berinovasi dan memperkuat karakter, kata Umaryadi.
Dua suara ini bertemu pada satu titik: teknologi tanpa karakter berisiko.
-000-
“The Triple Threat Leader”: Seni, Teknologi, dan Kepemimpinan sebagai Satu Paket
Sesi utama JSLS 2026 menghadirkan dosen sekaligus influencer Risky Danie Fahrulloh, dikenal sebagai Dann Rizky.
Ia membahas konsep “The Triple Threat Leader” dengan tiga pilar: art, tech, dan leadership.
Di pilar seni, Dann menempatkan empati dan daya cerita.
Seni, kata Dann, membantu pemimpin menyampaikan gagasan lebih menarik dan memecahkan masalah secara kreatif.
Ini relevan di sekolah, organisasi, dan ruang publik.
Karena banyak konflik bukan lahir dari kurangnya data, melainkan kurangnya kemampuan memahami manusia.
Di pilar teknologi, Dann menekankan AI sebagai asisten cerdas atau copilot.
Bukan pengganti manusia.
Manusia harus menjadi pilot yang memegang kendali atas keputusan, arah berpikir, dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Di pilar kepemimpinan, ia menekankan empati, konsistensi visi, dan keberanian bertindak.
Dann juga menyebut “era ekonomi atensi”.
Dalam era itu, memahami AI, membangun kolaborasi, dan memimpin dengan kejujuran lebih penting daripada memperdebatkan latar belakang pendidikan.
-000-
Kepemimpinan yang Dimulai dari Diri: Pelajaran dari Forum OSIS
Sesi berbagi pengalaman diisi perwakilan Forum OSIS (FOS) DKI Jakarta, Aisya dan Arsya.
Mereka menekankan kepemimpinan yang dimulai dari diri sendiri.
Kata kuncinya: komitmen, empati, dan komunikasi.
Mereka juga menggambarkan pemimpin sebagai coach.
Sosok yang mau mendengar aspirasi anggota, mengambil keputusan cepat, dan menjaga sisi humanis.
Gagasan “coach” ini menarik, karena menggeser citra pemimpin dari penguasa menjadi pengasuh.
Dalam organisasi pelajar, pergeseran ini sering menentukan apakah kegiatan menjadi ruang tumbuh atau ruang takut.
-000-
Trial Class, IoT, DKV, Chatbot: Ketika Masa Depan Dibuat Bisa Disentuh
JSLS 2026 tidak berhenti pada kata-kata.
Peserta merasakan simulasi perkuliahan melalui trial class interaktif dengan pendekatan hands-on innovation.
Ada uji coba komponen proyek internet of things (IoT) bersama Program Studi S1 Teknik Telekomunikasi.
Ada pembuatan ilustrasi di kelas S1 Desain Komunikasi Visual.
Ada pembuatan chatbot tanpa coding dalam 60 menit bersama S1 Teknologi Informasi.
Ada pula analisis jejak media sosial untuk strategi pengambilan keputusan di kelas S1 Sistem Informasi.
Rangkaian ini penting karena mengubah “teknologi” dari sesuatu yang jauh menjadi pengalaman.
Ketika pelajar menyentuh proses, mereka lebih mampu menilai minatnya sendiri.
Dan lebih paham bahwa AI bukan sihir, melainkan sistem yang perlu diarahkan.
-000-
Expo Inovasi dan Market Day: Pendidikan yang Dekat dengan Industri, Tanpa Menghapus Kemanusiaan
Di luar kelas, ada Campus Innovation Expo and Market Day.
Pameran menampilkan karya inovatif dari empat program studi: Teknik Telekomunikasi, Teknologi Informasi, Sistem Informasi, dan DKV.
Bagi pelajar, pameran semacam ini memberi dua hal sekaligus.
Pertama, gambaran pilihan studi lanjut.
Kedua, contoh penerapan ilmu yang dekat dengan kebutuhan industri masa depan.
Namun kedekatan dengan industri juga memunculkan pertanyaan kontemplatif.
Apakah kita mengejar masa depan demi pasar semata.
Atau demi kemampuan manusia untuk hidup lebih bermakna.
Di sinilah pilar seni dan kepemimpinan menjadi penyeimbang.
Teknologi memberi daya, tetapi nilai menentukan arah.
-000-
Isu Besar Indonesia: Bonus Demografi, Kesenjangan Keterampilan, dan Etika Teknologi
JSLS 2026 dapat dibaca sebagai potongan puzzle dari isu besar Indonesia.
Indonesia sering berbicara tentang bonus demografi.
Bonus itu bukan otomatis menjadi berkah.
Ia menjadi berkah jika generasi muda punya keterampilan relevan dan karakter kuat.
Di sisi lain, kesenjangan keterampilan menjadi kekhawatiran yang nyata.
Ketika teknologi bergerak cepat, sekolah dan keluarga sering tertinggal dalam memberi peta.
Forum seperti JSLS menjadi jembatan sementara.
Ia mempertemukan pelajar dengan praktik, jejaring, dan narasi masa depan.
Isu lain yang mengintai adalah etika teknologi.
Jika AI dipahami hanya sebagai alat produktivitas, kita kehilangan diskusi tentang tanggung jawab.
Pesan “AI sebagai copilot” mengingatkan bahwa keputusan tetap milik manusia.
Dan manusia harus siap menanggung konsekuensinya.
-000-
Riset yang Relevan: Mengapa Seni dan Karakter Tidak Boleh Kalah oleh Teknologi
Dalam kajian pendidikan, keterampilan abad ke-21 sering menekankan kombinasi berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
Kerangka ini membuat seni tidak bisa dipandang sebagai pelengkap.
Seni melatih imajinasi, empati, dan kemampuan menyusun makna.
Di saat yang sama, riset tentang literasi digital menekankan pentingnya kemampuan mengevaluasi informasi.
Ketika konten mudah diproduksi, kemampuan menilai menjadi lebih penting daripada kemampuan mengakses.
Di sinilah integritas menjadi keterampilan, bukan sekadar moralitas.
Riset lain tentang pembelajaran berbasis pengalaman juga menunjukkan bahwa praktik langsung membantu pemahaman lebih dalam.
Trial class dan pameran inovasi menjawab kebutuhan itu.
Pelajar belajar bukan hanya dari penjelasan, tetapi dari proses.
-000-
Referensi Luar Negeri: Ketika Kepemimpinan Digital Menjadi Agenda Publik
Di berbagai negara, diskusi kepemimpinan muda di era digital juga menguat.
Forum kepemudaan, program kepemimpinan, dan pelatihan literasi AI berkembang sebagai respons terhadap perubahan teknologi.
Di sejumlah tempat, isu utamanya serupa: bagaimana memastikan teknologi memperkuat manusia, bukan melemahkannya.
Perbandingan ini penting bukan untuk meniru mentah-mentah.
Melainkan untuk melihat bahwa Indonesia tidak sendirian menghadapi pertanyaan yang sama.
Bagaimana mendidik generasi yang cakap, tetapi tetap berempati.
Bagaimana mendorong inovasi, tetapi tetap berintegritas.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi: Rekomendasi untuk Sekolah, Orang Tua, dan Pembuat Kebijakan
Pertama, sekolah perlu memperluas definisi prestasi.
Prestasi tidak hanya nilai ujian, tetapi juga proyek, kolaborasi, dan kemampuan memimpin dengan empati.
Kedua, orang tua perlu mengubah pertanyaan di rumah.
Bukan hanya “kamu mau jadi apa”, melainkan “kamu mau menyelesaikan masalah apa”.
Pertanyaan kedua lebih manusiawi dan lebih tahan terhadap perubahan teknologi.
Ketiga, kampus dan pemerintah dapat memperbanyak ruang aman untuk eksperimen.
Trial class, expo inovasi, dan forum kepemimpinan perlu dibuat berkelanjutan, agar tidak berhenti sebagai acara.
Keempat, literasi AI perlu dipasangkan dengan literasi etika.
Jika AI dipakai sebagai copilot, maka pelajar harus paham batas, tanggung jawab, dan dampaknya pada orang lain.
Kelima, seni perlu dipulihkan martabatnya dalam pendidikan.
Seni bukan sekadar panggung hiburan.
Seni adalah latihan empati, cara menyusun makna, dan jalan untuk memahami manusia yang berbeda.
-000-
Penutup: Ketika Generasi Muda Mencari Kompas, Bukan Sekadar Peta
JSLS 2026 ditutup dengan hiburan yang membangun kebersamaan antarsekolah.
Pada puncak acara, penampilan Adrian Khalif membuat peserta bernyanyi bersama.
Di permukaan, itu sekadar penutup yang meriah.
Namun di baliknya, ada pesan sosial yang halus.
Generasi muda tidak hanya butuh materi, mereka butuh rasa memiliki.
Telkom University Jakarta berencana menjadikan JSLS sebagai agenda tahunan.
Jika konsisten, ia dapat menjadi ruang di mana pelajar pulang membawa perspektif baru.
Bukan hanya tentang kampus, tetapi tentang diri.
Dan pada akhirnya, kepemimpinan bukan soal siapa paling lantang.
Kepemimpinan adalah keberanian untuk tetap manusiawi ketika dunia berubah cepat.
“Integritas adalah melakukan hal yang benar, bahkan ketika tidak ada yang melihat.”

