BERITA TERKINI
Kehilangan Teman Seiring Dewasa: Dari Ramai Menjadi Tenang

Kehilangan Teman Seiring Dewasa: Dari Ramai Menjadi Tenang

Ada momen ketika waktu seolah berhenti: saat seseorang menggulir media sosial dan mendapati satu akun yang dulu terasa sangat dekat, kini tampak asing. Bukan karena pertengkaran besar, bukan pula akibat drama saling memblokir. Pertemanan itu hanya perlahan menguap, tanpa peristiwa yang jelas.

Kenangan masa sekolah dan kuliah kerap menempatkan kebahagiaan pada satu kata: ramai. Di fase pencarian jati diri, memiliki lingkar pertemanan yang solid—bahkan diakui banyak orang—terasa istimewa. Aktivitas sederhana seperti nongkrong sepulang sekolah menjadi rutinitas yang dianggap penting. Ajakan berkumpul pada jam berapa pun mudah disetujui karena energi seakan tidak ada habisnya.

Namun, setelah masa sekolah atau kuliah berakhir, pemandangan itu berubah. Mengajak teman keluar, meski hanya untuk minum kopi di kafe langganan, menjadi jauh lebih sulit. Rencana di grup WhatsApp kerap berakhir sebagai wacana yang tak pernah terwujud. Ajakan kumpul makin sering sekadar lewat begitu saja.

Perubahan ini tidak jarang terasa menyakitkan. Dari yang sebelumnya selalu ramai, suasana mendadak hening. Muncul pula pertanyaan yang mengganggu: apakah teman-teman lama sudah sukses dan melupakan yang lain, atau apakah diri sendiri tidak lagi dianggap penting?

Seiring bertambahnya beban hidup, ada kesadaran yang pelan-pelan muncul: teman-teman yang dulu sedekat nadi tidak selalu sedang menjauh. Mereka, seperti halnya banyak orang, tengah sibuk menghadapi kompleksitas hidup masing-masing. Setelah seharian diperas pekerjaan, dikejar target, dan memikul berbagai tanggung jawab, sisa energi sosial sering kali terkikis. Waktu istirahat kemudian benar-benar dipakai untuk beristirahat dan memulihkan diri demi menghadapi hari berikutnya.

Bagi sebagian orang, membalas pesan basa-basi bisa terasa seperti tugas berat. Keluar rumah di hari libur dianggap mengurangi waktu pemulihan. Ada pula yang memilih menghabiskan hari libur dengan tetap di rumah dan tidak melakukan banyak aktivitas.

Dalam konteks ini, berkurangnya intensitas pertemanan tidak selalu berkaitan dengan kesombongan, melainkan kapasitas. Kemampuan untuk menampung banyak relasi bisa semakin terbatas, sehingga seleksi pertemanan terjadi secara tidak sadar. Kebahagiaan pun bergeser: bukan lagi tentang “ramai”, melainkan tentang “tenang”.

Tanpa disadari, kehilangan teman saat tumbuh dewasa dapat menjadi proses penyaringan yang sehat. Jika pada masa sekolah pertemanan sering dibutuhkan untuk validasi eksistensi, maka pada fase dewasa, yang dicari adalah teman yang mampu mendukung langkah dan perjalanan hidup—meski jumlahnya tidak lagi sebanyak dulu.