Isu yang Membuatnya Tren
Di Kota Malang, kemarahan kecil terhadap jalan dan trotoar berlubang berubah menjadi cerita besar tentang cara warga memaknai ruang publik.
Perajin kaca patri bernama Ivan Rachman memilih merespons lubang itu dengan karya seni, bukan dengan umpatan atau unggahan keluhan semata.
Berita ini menjadi tren karena ia menyentuh sesuatu yang akrab, tetapi jarang dibicarakan dengan tenang: rasa lelah warga terhadap kerusakan yang berulang.
Di saat yang sama, tindakan Ivan terasa seperti harapan yang bisa dilihat, disentuh, dan difoto.
-000-
Mengapa Publik Menoleh: Tiga Alasan
Pertama, isu jalan berlubang adalah pengalaman kolektif yang lintas kelas dan lintas profesi.
Setiap orang pernah merasakan hentakan ban, terpeleset, atau setidaknya jengkel karena rute harian tiba-tiba menjadi medan rintangan.
Ketika pengalaman itu muncul dalam bentuk karya, emosi yang biasanya meledak menjadi rasa ingin tahu.
Kedua, ada kontras yang kuat antara masalah dan respons.
Lubang adalah simbol kelalaian, sementara kaca patri mengingatkan pada ketekunan, detail, dan kesabaran.
Kontras itu membuat publik bertanya, bagaimana mungkin sesuatu yang mengganggu bisa diubah menjadi sesuatu yang bermakna.
Ketiga, kisah ini mudah dibagikan karena visual.
Di era pencarian cepat, orang lebih cepat mengetik dan membagikan sesuatu yang bisa langsung dipahami lewat gambar.
Lubang yang menjadi karya seni menciptakan kejutan visual, dan kejutan adalah bahan bakar percakapan di ruang digital.
-000-
Menulis Ulang Peristiwa: Dari Kesal Menjadi Karya
Di Malang, Ivan Rachman dikenal sebagai perajin kaca patri.
Ia menyaksikan jalan dan trotoar berlubang, lalu memilih meresponsnya dengan cara yang tidak lazim.
Alih-alih menunggu perbaikan datang tanpa kepastian, ia menyulap lubang itu menjadi karya seni.
Respons tersebut bukan sekadar tindakan estetika.
Ia juga sebuah pernyataan bahwa warga tidak selalu harus menjadi penonton pasif terhadap kualitas ruang hidupnya.
Namun di balik kekaguman, ada pertanyaan yang tak bisa dihindari.
Apakah seni di lubang jalan adalah tanda kreativitas yang sehat, atau sinyal bahwa standar layanan publik sedang diturunkan diam-diam.
-000-
Lubang sebagai Metafora: Kota yang Retak dan Warga yang Menambal
Lubang jalan sering dianggap gangguan teknis, padahal ia juga bahasa politik yang paling sederhana.
Ia berbicara tentang prioritas, tentang anggaran, tentang koordinasi, dan tentang seberapa serius keselamatan diperlakukan.
Ketika lubang dibiarkan, warga membaca pesan yang sama: ada yang tertinggal.
Di titik itu, karya Ivan bisa dibaca sebagai penambal simbolik.
Ia menambal bukan hanya permukaan, melainkan rasa diabaikan yang pelan-pelan mengendap.
Seni, dalam banyak tradisi, lahir dari ketegangan.
Ketegangan antara harapan dan kenyataan, antara rencana kota dan pengalaman kaki yang menapak tiap hari.
-000-
Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Infrastruktur, Keselamatan, dan Kepercayaan
Isu ini berkelindan dengan agenda besar Indonesia tentang pemerataan infrastruktur dan kualitas layanan dasar.
Di banyak kota, perbaikan fisik sering terlihat, tetapi pemeliharaan rutin kerap luput dari sorotan.
Padahal pemeliharaan adalah bentuk kehadiran negara yang paling sering ditemui warga.
Lubang di trotoar juga menyentuh isu keselamatan pejalan kaki.
Trotoar idealnya ruang aman, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
Ketika trotoar berlubang, kota memberi sinyal bahwa berjalan kaki bukan prioritas.
Di balik itu ada isu kepercayaan publik.
Kepercayaan tidak hanya dibangun lewat pidato, tetapi lewat permukaan jalan yang tidak mengkhianati pengendara dan pejalan kaki.
-000-
Riset yang Relevan: Mengapa Ruang Publik Menentukan Rasa Memiliki
Dalam kajian perkotaan, ruang publik sering dipahami sebagai tempat warga membangun rasa memiliki terhadap kota.
Ketika ruang publik rusak, rasa memiliki itu terkikis.
Warga mulai merasa kota bukan rumah bersama, melainkan sekadar tempat singgah yang harus ditaklukkan setiap hari.
Riset tentang pemeliharaan infrastruktur juga menunjukkan satu hal penting.
Kerusakan kecil yang dibiarkan cenderung memicu kerusakan lanjutan dan biaya yang lebih besar.
Logikanya sederhana: menunda perbaikan jarang membuat masalah mengecil.
Dalam ilmu kebijakan publik, respons warga seperti karya Ivan bisa dibaca sebagai partisipasi.
Namun partisipasi tidak boleh menjadi alasan untuk mengendurkan tanggung jawab institusional.
-000-
Seni sebagai Protes yang Sunyi
Protes tidak selalu berupa teriakan atau poster.
Ada protes yang sunyi, yang justru lebih tajam karena menghindari pertengkaran dan memilih mengubah bentuk ruang.
Kaca patri identik dengan cahaya.
Ia bekerja ketika ada sorot, ketika orang mendekat, ketika detail diperhatikan.
Dalam konteks lubang jalan, kaca patri membuat orang berhenti sejenak.
Berhenti itu penting, karena kota modern sering memaksa orang hanya lewat, tanpa sempat memikirkan mengapa ruangnya seperti itu.
Di sini seni menjadi alat kontemplasi.
Ia mengundang pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar, kapan diperbaiki.
-000-
Bahaya Romantisasi: Ketika Kreativitas Menutupi Kewajiban
Meski mengharukan, kisah ini menyimpan risiko romantisasi.
Kita bisa terlalu cepat memuji kreativitas, lalu lupa bahwa lubang tetap lubang.
Jika publik hanya berhenti pada kekaguman, maka kerusakan bisa dianggap wajar selama ada yang mampu mengubahnya menjadi menarik.
Itu jebakan yang halus.
Karena kota yang baik bukan kota yang indah di atas kerusakan, melainkan kota yang merawat warganya sebelum mereka jatuh.
Karya bisa menjadi pemantik, tetapi tidak boleh menjadi pengganti perbaikan.
Apresiasi perlu berjalan bersama tuntutan standar layanan.
Itulah keseimbangan yang dewasa.
-000-
Rujukan Luar Negeri: Pothole Art dan Tradisi Intervensi Warga
Di berbagai negara, pernah muncul praktik yang mirip, sering disebut pothole art atau street intervention.
Warga menandai lubang dengan cat mencolok, memasang objek, atau membuat karya agar pemerintah dan publik memperhatikan.
Di Inggris, misalnya, pernah muncul aksi menandai lubang jalan dengan gambar agar lebih terlihat.
Di beberapa kota Eropa dan Amerika, seniman jalanan juga menggunakan retakan sebagai kanvas.
Polanya serupa: seni dipakai sebagai alarm sosial.
Ia menyampaikan pesan tanpa harus menunggu ruang formal mendengarkan keluhan.
Namun di banyak tempat, perdebatan yang sama juga muncul.
Apakah intervensi itu membantu keselamatan, atau justru mengganggu tata kelola dan tanggung jawab perbaikan.
-000-
Membaca Malang Lewat Kisah Ini
Malang adalah kota dengan denyut pendidikan, pariwisata, dan mobilitas harian yang padat.
Trotoar dan jalan bukan sekadar fasilitas, melainkan infrastruktur sosial.
Di atas trotoar, orang pulang, berangkat, berdagang, dan berpapasan.
Ketika trotoar berlubang, yang retak bukan hanya beton.
Yang retak adalah rasa aman, terutama bagi mereka yang paling bergantung pada berjalan kaki.
Karya Ivan memperlihatkan bahwa warga memiliki energi untuk merawat kota.
Tetapi energi itu akan lebih bermakna jika bertemu sistem yang responsif.
-000-
Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, apresiasi karya Ivan sebagai ekspresi warga perlu disertai sikap hati-hati.
Jangan menjadikannya alasan untuk menormalisasi kerusakan jalan dan trotoar.
Kedua, pemerintah kota dapat menjadikan momen ini sebagai pintu dialog publik.
Dialog tentang pemeliharaan rutin, prioritas titik rawan, dan mekanisme pelaporan yang cepat.
Ketiga, warga bisa menyalurkan perhatian yang sudah terlanjur besar ini ke partisipasi yang terukur.
Misalnya melaporkan titik berlubang, mendokumentasikan perubahan, dan mendorong transparansi tindak lanjut.
Keempat, komunitas seni dan komunitas kota dapat berkolaborasi secara aman.
Kolaborasi yang tidak menutup lubang secara sembarangan, tetapi mengedukasi tentang keselamatan dan hak pejalan kaki.
Kelima, media dan publik sebaiknya menjaga fokus pada akar masalah.
Karya seni adalah pintu masuk, bukan akhir pembicaraan.
-000-
Penutup: Cahaya di Retakan
Kisah ini mengajarkan bahwa kota bukan hanya urusan rencana dan proyek.
Kota adalah kumpulan emosi harian, termasuk kesal, letih, dan harapan yang tidak selalu mendapat ruang.
Ivan Rachman menunjukkan satu kemungkinan: kemarahan bisa diolah menjadi sesuatu yang mengundang perhatian tanpa merendahkan martabat siapa pun.
Namun pekerjaan rumah tetap sama, yaitu memastikan jalan dan trotoar aman.
Di sanalah seni dan tata kelola seharusnya bertemu, saling menguatkan, bukan saling menutupi.
Karena pada akhirnya, kota yang layak huni adalah kota yang tidak memaksa warganya menjadi penambal permanen.
Seperti kata pepatah yang sering dikutip dalam berbagai bentuk, harapan adalah kerja yang dilakukan bersama.
Dan barangkali, kita perlu mengingat satu kalimat sederhana untuk menutupnya.
“Perubahan besar sering dimulai dari keberanian melihat yang rusak, lalu memilih merawatnya.”