Menjelang hari pemilihan nasional, lagu-lagu bertema pemilu terdengar di berbagai ruang publik, mulai dari jalanan kota hingga acara budaya. Kehadirannya tidak hanya dimaknai sebagai materi kampanye, tetapi juga sebagai medium yang menyentuh emosi pendengar, membangkitkan keyakinan sekaligus rasa tanggung jawab warga untuk menggunakan hak pilih.
Sejumlah pihak menilai, lagu-lagu populer yang hadir dalam atmosfer pemilu turut membentuk lingkungan politik dan budaya yang lebih sehat. Musik juga dipandang dapat membantu membatasi pengaruh disinformasi maupun produk budaya yang dianggap negatif, sekaligus menguatkan jejak sejarah dan semangat nasional. Melodi dan lirik yang mudah diingat menciptakan ikatan antara individu dan masyarakat, antara pemilih dan negara, sehingga hari pemilihan kerap terasa seperti perayaan bersama.
Salah satu penanda awal tradisi lagu pemilu tercatat pada pemilihan umum pertama, 6 Januari 1946. Di tengah suasana kegembiraan nasional saat itu, lagu “Hari Majelis Nasional” karya mendiang komposer Do Nhuan disebut ikut mendorong warga dari Utara hingga Selatan untuk datang dan memberikan suara. Liriknya menegaskan ajakan berpartisipasi dan memilih wakil rakyat, dengan penekanan pada pengabdian bagi bangsa.
Putra Do Nhuan, komposer Do Hong Quan, menjelaskan bahwa “Hari Majelis Nasional” sejak awal dirancang sebagai lagu mars untuk menyemangati rakyat serta membantu pemilih memahami Majelis Nasional pertama Vietnam. Karena ditujukan bagi khalayak luas, lagu itu dibuat ringkas, mudah dinyanyikan, dan memiliki struktur khas lagu mars. Kejelasan pesan dan bentuk musikalnya disebut menjadi alasan lagu tersebut cepat populer. Mengikuti jejak ayahnya, Do Hong Quan juga menggubah “Lagu Majelis Nasional Vietnam” untuk memperingati ulang tahun ke-70 Majelis Nasional Vietnam.
Selain itu, sejumlah komposer musik revolusioner turut memperkaya khazanah lagu bertema pemilihan umum, di antaranya “Hari Pemilihan Nasional” (Vu Mao), “Menaruh Kepercayaan pada Surat Suara” (Cao Viet Bach), “Surat Suara Penuh Kepercayaan” (Xuan Chung-Quoc Vu), “Mari Kita Pergi Bersama ke Tempat Pemungutan Suara” (Thanh Nhon), “Merayakan Hari Pemilihan Nasional” (Nguyen Quang Vinh), serta “Selamat Hari Pemilu” (Le Dang Khoa).
Dalam beberapa hari terakhir, lagu “Hari Pemilu” kerap diputar melalui pengeras suara, dengan penggalan lirik yang menggambarkan suasana cerah dan penuh harapan pada hari pencoblosan. Komposer Le Dang Khoa menilai, meski liriknya sederhana, kunci lagu tersebut terletak pada ritme dan emosi. Menurutnya, irama yang ceria serta perasaan gembira, bangga, dan percaya diri merefleksikan pemilu sebagai perayaan nasional. Ia juga menyebut pemilu sebagai peristiwa penting ketika warga mengekspresikan kepercayaan kepada pemerintahan melalui suara, dan sebagai musisi ia menuangkan pandangan tentang hak serta tanggung jawab itu lewat karya.
Di luar lagu-lagu yang telah lama dikenal, karya-karya baru bertema pemilu terus dipentaskan untuk melanjutkan tradisi musik rakyat Vietnam dan membangun suasana meriah. Sejumlah seniman muda pun disebut menemukan inspirasi dari tema ini. Pada pemilihan Majelis Nasional ke-15 dan Dewan Rakyat di semua tingkatan periode 2021–2026, dua lagu sempat menjadi “hit” di media sosial, yakni “I’m Going to Vote” karya Le Xuan Duc (Bo Con Sau) dan “Election Song” karya musisi Hua Kim Tuyen.
Belakangan, lagu “Keyakinan dari Surat Suara” hadir dengan melodi cerah dan inspiratif. Lagu yang dibawakan penyanyi Duyen Quynh itu dirilis untuk menyebarkan semangat dan membangkitkan rasa tanggung jawab masyarakat pada pemilihan perwakilan Majelis Nasional ke-16 dan Dewan Rakyat di semua tingkatan periode 2026–2031.
Dalam rangka memperingati 80 tahun pemilihan umum pertama untuk memilih Majelis Nasional Vietnam (6 Januari 1946–6 Januari 2026), sebuah kontes penulisan lagu bertema Majelis Nasional dan Dewan Rakyat memberikan penghargaan kepada 33 karya musik. Karya-karya tersebut digambarkan kaya citra dan emosi, serta mengungkap peran Majelis Nasional dan Dewan Rakyat dalam upaya membangun negara sosialis berdasarkan hukum, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, sekaligus mencerminkan kebanggaan dan kepercayaan publik kepada lembaga perwakilan dan para wakil rakyat terpilih.
Beberapa contoh karya yang disebut antara lain “Majelis Nasional di Musim Semi” (musik dan lirik: Hoang Hong Ngoc), “Aspirasi Dien Hong” (musik: Nguyen Hong Son, lirik: Nguyen Thi Viet Nga), “Perwakilan Rakyat”, serta “Majelis Nasional Vietnam Bersinar dengan Iman Abadi” (musik dan lirik: Vu Huyen Ngoc).
Secara umum, penggunaan musik arus utama dalam propaganda pemilu dinilai membantu menyampaikan kebijakan dan pedoman Partai melalui bahasa artistik yang mudah diakses. Melodi yang akrab bukan hanya memperluas jangkauan pesan, tetapi juga disebut berkontribusi membentuk kepekaan estetika, memperkuat rasa percaya diri, serta menumbuhkan tanggung jawab pemilih terhadap keputusan yang berkaitan dengan masa depan negara.

