Netflix merilis laporan terbaru bertajuk The Netflix Effect yang memotret dampak film dan serial Netflix terhadap aspek ekonomi, budaya, dan sosial di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam laporan tersebut, layanan video on demand ini menyatakan telah berkontribusi lebih dari US$ 325 miliar terhadap ekonomi global dalam 10 tahun terakhir.
Laporan itu menggambarkan bagaimana ekspansi Netflix disebut membuka peluang bagi kreator, komunitas, serta industri kreatif secara lebih luas. Netflix menilai, ketika sebuah cerita menjangkau audiens global, dampaknya dapat meluas melampaui tayangan di layar.
Co-CEO Netflix Ted Sarandos mengatakan, sekitar 10 tahun lalu Netflix memperluas jangkauan hiburannya dari sekitar 60 negara menjadi lebih dari 190 negara hanya dalam satu hari. Ia juga menyebut Netflix telah memproduksi film dan serial di lebih dari 4.500 kota dan wilayah di lebih dari 50 negara.
“Setiap produksi Netflix adalah produksi lokal, yang turut menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan bisnis setempat, serta menghadirkan dampak yang jauh melampaui layar,” ujar Sarandos dalam keterangan resmi, Selasa (19/5/2026).
Secara global, Netflix menyatakan telah menginvestasikan lebih dari US$ 135 miliar untuk memproduksi film dan serial. Perusahaan juga mengklaim aktivitas produksinya menciptakan lebih dari 425 ribu lapangan kerja serta melibatkan lebih dari 700 ribu pekerja tambahan, termasuk figuran dan pekerja harian di berbagai lokasi produksi di seluruh dunia.
Netflix juga melaporkan telah bermitra dengan lebih dari 2.000 rumah produksi lokal secara global. Sutradara Lucky Kuswandi, yang berkolaborasi dengan Netflix dalam sejumlah judul seperti Ratu Ratu Queens, A Normal Woman, Dear David, serta serial mendatang Night Shift for Cuties, menilai keragaman audiens di Netflix memberi ruang bagi pembuat film untuk tidak terpaku pada genre atau pola cerita tertentu.
“Bagi sineas Indonesia, ekosistem ini menjadi ruang penting untuk menghadirkan dan memperkuat berbagai suara, sekaligus memungkinkan terciptanya hiburan yang tidak hanya menarik, tetapi juga mampu menantang dan mempertanyakan norma serta kondisi yang sudah ada,” katanya.
Dalam laporan tersebut, Netflix juga menyoroti perubahan konsumsi konten non-Inggris. Sekitar 10 tahun lalu, konten non-Inggris disebut menyumbang kurang dari 10% dari total konsumsi tontonan di Netflix. Kini, porsinya dilaporkan meningkat menjadi lebih dari sepertiga.
Netflix menyatakan film dan serialnya tersedia dengan sulih suara dalam 36 bahasa dan subtitle dalam 33 bahasa. Menurut laporan itu, ketika sebuah judul menarik perhatian di satu negara, karya tersebut dapat menyebar dan ditonton di negara lain.
Untuk Indonesia, Netflix mencatat bahwa hingga Januari 2026 terdapat 35 judul Indonesia yang masuk daftar Global Top 10 Non-English Netflix. Selain itu, lebih dari 90% anggota Netflix di Indonesia tercatat menonton konten lokal sepanjang 2025.