Netflix merilis laporan bertajuk The Netflix Effect yang memaparkan dampak film dan serialnya terhadap aspek ekonomi, sosial, dan budaya di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam laporan tersebut, Netflix mengklaim telah mengalirkan lebih dari US$325 miliar ke ekonomi global selama 10 tahun terakhir.
Menurut Netflix, investasi itu tidak hanya terkait penyediaan tontonan, tetapi juga membuka peluang bagi kreator lokal untuk menjangkau penonton internasional. Perusahaan menilai cerita lokal yang otentik dapat menembus batas negara dan memicu percakapan global.
Co-CEO Netflix Ted Sarandos menyebut ekspansi layanan Netflix—dari 60 negara menjadi 190 negara dalam sehari—mengubah lanskap industri hiburan modern. Ia menyatakan proses produksi yang berlangsung di ribuan kota melibatkan talenta lokal sehingga turut menggerakkan ekonomi dan bisnis di wilayah setempat.
Secara global, Netflix menyebut telah menginvestasikan US$135 miliar khusus untuk produksi film dan serial. Dari aktivitas tersebut, perusahaan mengklaim tercipta 425.000 lapangan kerja utama, menyerap ratusan ribu pekerja harian, serta bekerja sama dengan 2.000 rumah produksi lokal.
Dari sisi kreator Indonesia, sutradara Lucky Kuswandi menceritakan pengalamannya berkolaborasi dalam proyek seperti Dear David dan serial terbarunya Night Shift for Cuties. Ia menilai ekosistem digital memberi ruang bagi pembuat film untuk mengeksplorasi genre di luar pakem tanpa khawatir kehilangan pasar, serta mendorong lahirnya karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton berpikir dan mengkritisi norma sosial.
Laporan itu juga mencatat peningkatan konsumsi tayangan berbahasa non-Inggris. Netflix menyebut konten non-Inggris kini menyumbang sekitar sepertiga dari total tontonan global di platformnya. Untuk memperluas akses, ratusan judul dilengkapi takarir dan sulih suara dalam puluhan bahasa.
Khusus Indonesia, Netflix menyatakan lebih dari 90% pengguna aktif mengonsumsi konten lokal sepanjang tahun lalu. Selain itu, sekitar 35 judul karya sineas Indonesia disebut berhasil masuk daftar Global Top 10 Non-English.
Sejumlah judul Indonesia yang disorot antara lain film zombie Abadi Nan Jaya yang disebut sempat menempati peringkat pertama Global Top 10 dengan belasan juta penayangan dalam hitungan hari. Serial bertema sejarah Gadis Kretek juga disebut menarik perhatian penonton internasional melalui narasi budaya yang kuat.
Netflix turut menyinggung performa film thriller aksi The Shadow Strays yang diklaim masuk daftar Top 10 di 85 negara berkat koreografi laga, serta film Luka Makan Cinta yang memadukan romansa dan lanskap Bali dan disebut mengamankan posisi di jajaran global.
Selain capaian tontonan, laporan tersebut menyoroti dampak budaya populer yang muncul di media sosial. Abadi Nan Jaya disebut memicu perbincangan karena memasukkan unsur tanaman kantong semar dan ramuan jamu tradisional ke dalam alur cerita, sekaligus membuat latar Yogyakarta viral di internet. Sementara karakter Jeng Yah dalam Gadis Kretek disebut ikut menghidupkan tren kebaya janggan di kalangan anak muda, memicu peningkatan kunjungan ke museum-museum bersejarah di Jawa Tengah, dan melahirkan parodi di TikTok.
Netflix juga menekankan investasi jangka panjang melalui pengembangan talenta. Perusahaan menyebut menjalankan program pelatihan berbasis praktik bertajuk Reel Life yang telah melatih ratusan kreator muda di Indonesia dan Thailand. Di Indonesia, Netflix menyatakan bekerja sama dengan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) untuk menggelar workshop berkala, termasuk pelatihan akuntansi produksi hingga penyusunan panduan keselamatan kerja, dengan tujuan memperkuat ekosistem industri.