Generasi Z (Gen Z) merupakan istilah yang lazim digunakan untuk menyebut kelompok anak muda saat ini. Menurut Beresford Research, Gen Z adalah mereka yang lahir pada rentang 1997–2012, atau berusia sekitar 11–26 tahun pada 2023.
Di tengah popularitas istilah tersebut, berkembang pula stereotip yang menilai Gen Z sulit lepas dari ponsel karena mereka tumbuh ketika teknologi sudah berkembang pesat. Sejumlah rujukan menggambarkan bahwa ada beberapa karakteristik yang kerap dilekatkan pada generasi ini, mulai dari kedekatan dengan teknologi hingga cara mereka memandang kesehatan dan privasi.
1. Adaptif terhadap teknologi
Salah satu ciri yang menonjol dari Gen Z adalah kedekatan mereka dengan dunia digital. Mereka kerap disebut sebagai “penduduk asli” era digital karena tumbuh tanpa pengalaman menggunakan internet dial-up atau ponsel generasi lama. Berbeda dengan generasi Milenial yang masih mengalami masa transisi—tumbuh bersama televisi kabel dan telepon rumah—Gen Z menjalani kehidupan yang sepenuhnya terkoneksi secara digital.
Sejak kecil, mereka terbiasa dengan gagasan bahwa komunikasi lintas negara dapat dilakukan seketika melalui smartphone dan berbagai platform media sosial. Perangkat elektronik yang sebelumnya dianggap barang mewah bagi generasi orang tua, bagi Gen Z lebih sering dipandang sebagai kebutuhan untuk beraktivitas di dunia modern. Banyak dari mereka juga tumbuh pada masa ketika akses konten streaming sudah menjadi hal yang umum.
2. Cenderung tinggal di perkotaan
Karakteristik lain yang kerap disebut adalah kecenderungan Gen Z untuk tinggal di kota dan wilayah metropolitan. Tidak semua Gen Z tinggal di perkotaan, namun disebutkan hanya 13 persen yang tumbuh di daerah pedesaan.
Penelitian pada 2018 juga menunjukkan bahwa kelompok tertua Gen Z cenderung menunda atau bahkan tidak menikah. Sekitar 4 persen menikah pada usia 18–21 tahun, hampir setengah dari generasi Milenial yang tercatat 7 persen menikah pada rentang usia yang sama. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah prioritas melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan mengejar karier.
3. Tumbuh dalam dunia yang terasa kurang aman
Perbedaan pengalaman sejarah turut membentuk cara pandang Gen Z. Salah satu pembeda yang kerap disebut adalah apakah seseorang mengingat peristiwa 11 September 2001 atau tidak. Bagi Gen Z tertua, peristiwa itu terjadi ketika mereka masih terlalu kecil untuk mengingatnya, sementara bagi sebagian besar Gen Z, peristiwa tersebut terjadi sebelum mereka lahir.
Dalam konteks ini, ancaman terorisme internasional skala besar di negara-negara Barat bukanlah hal yang sepenuhnya baru bagi mereka. Hal tersebut dinilai turut menjelaskan kontradiksi yang kerap tampak: mereka ingin tinggal dan bekerja di berbagai negara, tetapi juga merasa cemas terhadap terorisme, ekstremisme, konflik, dan perang. Bagi Gen Z, dua hal itu tidak selalu dipandang bertentangan karena mereka tumbuh dengan pemahaman bahwa ancaman semacam itu dapat terjadi di dalam maupun luar negeri.
Selain isu keamanan global, Gen Z juga lahir selama atau tepat sebelum krisis keuangan 2007 dan resesi setelahnya. Bagi sebagian yang terdampak, pengalaman awal masa kecil mereka bisa mencakup rumah yang disita, anggota keluarga kehilangan pekerjaan, atau tanda-tanda gejolak ekonomi. Kondisi ini kerap dibandingkan dengan generasi yang lahir pada masa kemakmuran, sehingga tidak mengherankan jika Gen Z memiliki reputasi lebih berhemat dan berhati-hati.
4. Sadar akan pentingnya kesehatan
Gen Z juga sering digambarkan lebih sadar kesehatan dibanding sejumlah generasi sebelumnya. Berbagai generasi terdahulu disebut tumbuh dengan kebiasaan makan yang kurang baik, sementara ilmu nutrisi terus berkembang dan Gen Z dinilai ikut menuai manfaatnya.
Mereka disebut tumbuh dengan pola makan yang lebih teratur, serta pilihan camilan yang lebih sehat seperti kacang-kacangan dan buah. Ketika memasuki usia remaja, pola hidup sehat itu dinilai berlanjut. Gen Z juga disebut lebih kecil kemungkinannya untuk merokok dibanding generasi sebelumnya, dan lebih banyak yang tidak mengonsumsi alkohol, bahkan dalam jumlah yang tidak berlebihan.
Salah satu faktor yang disebut berpengaruh adalah kemudahan bersosialisasi secara online. Dengan interaksi digital yang lebih mudah, sebagian dari mereka dinilai menghabiskan lebih sedikit waktu untuk pergi ke pesta dibanding generasi yang lebih tua.
5. Menghargai privasi
Di ranah digital, Gen Z juga kerap dinilai lebih memahami batas antara ruang publik dan pribadi. Jika generasi sebelumnya sering disebut kurang cermat dalam mengelola privasi digital, Gen Z digambarkan tumbuh dengan pemahaman yang lebih tajam tentang batas tersebut dan lebih berhati-hati menjaga privasi.
Hal ini disebut menjadi salah satu alasan mengapa mereka tidak terlalu tertarik pada Facebook dan lebih memilih platform media sosial yang memudahkan pembatasan interaksi pada lingkar pertemanan terdekat.
Di sisi lain, Gen Z juga tumbuh di era ketika merek-merek mengumpulkan data pengguna untuk menyesuaikan komunikasi pemasaran. Namun, berbeda dengan sebagian generasi yang lebih tua, Gen Z disebut tidak selalu memandang praktik itu sebagai pelanggaran privasi, melainkan sebagai teknik yang dianggap lazim bagi perusahaan yang ingin memberikan pengalaman pelanggan yang baik.