Sejumlah video di media sosial menampilkan orang tua yang memberikan teh manis kepada anak balita. Praktik ini memunculkan keprihatinan dari kalangan medis dan pakar tumbuh kembang karena dinilai berisiko bagi kesehatan anak, terutama pada usia bayi dan balita.
Secara ilmiah, pemberian teh pada bayi atau balita disebut dapat menghambat penyerapan zat besi, nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan. Selain itu, teh juga memiliki sejumlah kandungan yang dapat menimbulkan dampak lain, baik dari komposisinya maupun dari cara pemberiannya.
Salah satu perhatian utama adalah kandungan kafein dalam teh. Kafein dapat memicu gangguan tidur, membuat bayi gelisah dan rewel, serta memengaruhi perilaku. Konsumsi kafein berlebihan juga dikaitkan dengan kesulitan berkonsentrasi, hiperaktif, dan peningkatan detak jantung.
Teh juga mengandung tanin. Zat ini dapat mengikat mineral penting seperti zat besi, kalsium, dan aluminium, sehingga penyerapan nutrisi oleh tubuh menjadi tidak optimal. Padahal, zat besi dibutuhkan bayi untuk mendukung perkembangan otak dan pertumbuhan tubuh.
Risiko lainnya muncul ketika teh diberikan dengan tambahan gula. Gula tambahan dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi pada anak. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, kebiasaan mengonsumsi minuman manis juga disebut dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes.
Di luar kandungan di dalamnya, teh bukan sumber nutrisi utama karena tidak mengandung zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta hanya menyediakan sedikit mineral. Pemberian teh pada bayi atau balita juga dapat menimbulkan rasa kenyang, sehingga anak berpotensi mengurangi asupan makanan atau minuman bergizi yang seharusnya dibutuhkan.
Selain itu, pemberian teh melalui dot disebut dapat memicu kebingungan puting pada bayi, yang dapat menyulitkan proses menyusui. Orang tua juga diingatkan untuk mewaspadai efek “kenyang semu” yang bisa timbul setelah anak minum teh.