Pengaruh media sosial dalam kehidupan sehari-hari kian besar. Informasi yang menjadi viral atau masuk daftar tren dapat menyebar cepat dan menjangkau audiens luas. Dalam konteks ini, sekelompok pemuda asal Bandung, Jawa Barat, bernama Pandawara memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan ajakan menjaga kebersihan lingkungan. Video yang mereka unggah disebut menyebar dengan cepat ke berbagai daerah di Indonesia.
Media sosial merupakan media daring yang memungkinkan pengguna berpartisipasi, berbagi, dan membuat konten. Bentuknya beragam, mulai dari blog, jejaring sosial, hingga forum dan wiki. Karakter media sosial yang interaktif membuat komunikasi tidak lagi satu arah, melainkan berbentuk dialog antarpengguna.
Kemudahan membuat akun dan mengunggah konten menjadikan media sosial lekat dengan kehidupan anak muda. Aktivitas pribadi, cerita, hingga foto bersama teman kerap menjadi bagian dari unggahan sehari-hari. Di sisi lain, media sosial juga dinilai mampu memperbesar dampak sebuah pesan—baik dalam arti positif maupun sebaliknya—karena penyebarannya yang cepat dan tidak mengenal batas ruang serta waktu.
Di tengah kebiasaan remaja yang kerap dinilai kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar, Pandawara menampilkan pendekatan berbeda. Mereka mendokumentasikan aksi membersihkan sampah, termasuk turun langsung ke sungai untuk mengangkat sampah yang menumpuk. Aksi tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga kebersihan, terutama di area sungai sekitar tempat tinggal mereka.
Kebersihan lingkungan dipandang sebagai tanggung jawab setiap warga. Lingkungan yang bersih mencerminkan kualitas hidup masyarakat sekaligus berkaitan dengan kesehatan. Sebaliknya, kondisi yang kotor dan kumuh disebut rentan memicu berbagai penyakit serta mengurangi kenyamanan dan keindahan lingkungan.
Isu kebersihan lingkungan juga masih menjadi persoalan di Indonesia. Dalam naskah opini ini disebutkan bahwa kasus terkait kebersihan lingkungan terus meningkat setiap tahun, terutama di negara berkembang. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah menjaga kebersihan rumah dan halaman.
Upaya menjaga kebersihan dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti mengumpulkan sampah, membersihkan saluran air, serta memilah sampah sesuai jenisnya. Rendahnya kesadaran kebersihan dapat berdampak langsung pada kondisi fisik lingkungan yang kotor dan tidak nyaman, serta berisiko memunculkan penyakit seperti demam berdarah.
Kurangnya kepedulian terhadap kebersihan juga disebut berpotensi memicu bencana. Banjir, misalnya, tidak hanya dipengaruhi hujan deras, tetapi juga kebiasaan membuang sampah ke sungai yang dapat menghambat aliran air hingga meluap ke permukiman. Karena itu, peningkatan kesadaran menjaga kebersihan dinilai penting, tidak hanya di tingkat keluarga tetapi juga dalam lingkungan masyarakat.
Dalam tulisan tersebut, disertakan pula pandangan sejumlah tokoh mengenai pentingnya kepedulian lingkungan. Akhmad Muhaimin Azzet (2013) menilai persoalan lingkungan perlu mendapat perhatian karena bumi semakin tua sementara kebutuhan manusia terhadap alam semakin besar. Philip Shabechoff (1999) juga menyebut bumi hanya satu dan perlu dijaga serta dirawat.
Perspektif keagamaan turut disinggung, khususnya ajaran Islam yang menekankan kebersihan dalam berbagai aspek, seperti kebersihan makanan, minuman, rumah, sumber air, pekarangan, dan jalan. Hadis yang menyatakan kebersihan sebagai bagian dari iman disebut sebagai prinsip yang perlu terus digaungkan, termasuk melalui pendidikan dan dukungan berbagai pihak, seperti pemangku kebijakan dan penegak hukum.
Melalui pemanfaatan media sosial, aksi Pandawara menjadi contoh bagaimana ruang digital dapat digunakan untuk mendorong perubahan perilaku, khususnya dalam membangun kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan di kalangan anak muda.