Pekan Seni 2025 di Palembang akan digelar selama lima hari lima malam dengan mengusung tema besar “Ratu Sinuhun – Perempuan, Warna, dan Karya”. Kegiatan ini dipusatkan di Lawang Borotan, Benteng Kuto Besak (BKB), dan dijadwalkan mulai Senin, 17 November 2025.
Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) M. Nasir bersama Sekretaris Faldy, Ketua Panitia Cheirman, Ketua Program Irfan Kurniawan, serta M. Fitriansyah meninjau langsung persiapan penyelenggaraan acara tersebut di lokasi. Nasir menyebut tema yang dipilih tidak sekadar menonjolkan sisi estetika, melainkan ingin menghadirkan pengalaman yang bermakna bagi pengunjung.
“Tema ini kami pilih bukan sekadar estetika. Perempuan adalah ruang lahirnya nilai. Warna adalah bahasa. Karya adalah bukti. Kami ingin pengunjung tidak hanya melihat seni, tetapi merasakan dan pulang dengan makna,” kata Nasir, Sabtu (15/11/2025).
Menurut Nasir, ruang budaya di Lawang Borotan yang biasanya senyap akan dihidupkan menjadi ruang kreatif. Ia menyampaikan visi DKP untuk menghadirkan festival seni yang berakar pada tiga unsur tersebut, yang dinilai paling hidup dalam ekosistem seni di Palembang.
Peninjauan persiapan juga dilakukan Kepala Dinas Kebudayaan Palembang H. Sulaiman Amin. Ia menyatakan komitmen pemerintah untuk menjaga ruang-ruang kesenian agar terus tumbuh.
“Seni adalah wajah kita. Wajah itu, tahun ini terasa sangat perempuan terlihat kuat, teduh, dan berwarna. Pemerintah berkomitmen menjaga ruang seperti ini agar terus tumbuh,” ujarnya.
Pada malam pembukaan, rangkaian acara dijadwalkan diawali penampilan Syarofal Anam Al Mutmainah dan Tari Tanggai. Setelah itu, Tari Ratu Sinuhun oleh Sanggar Mei-Mei dengan koreografi Sonia Anisah Utami akan ditampilkan di panggung.
DKP juga akan memberikan penghargaan kepada dua seniman yang dinilai berkontribusi bagi kehidupan dan masyarakat Palembang, yakni Dr (K) Silo Siswanto, pencipta Mars DKP, serta Martha Astra Winata, pelukis “Ratu Sinuhun” yang karyanya menjadi ikon visual Pekan Seni 2025.
Malam pembukaan turut diisi penampilan Tanjack Kultur, Kawan Lamo, Rejung Pesirah, Gong Sriwijaya, Bucu Band, serta kolaborasi puisi Anto Narasoma, tarian Salwa Pratiwi, dan biola Nazaruddin.
Memasuki hari kedua, Selasa, 18 November 2025, Komite Sastra disebut akan menjadikan panggung sebagai ruang bagi suara-suara muda. Pada malam harinya, pertunjukan akan diisi talenta muda melalui musik, dongeng, puisi, serta lagu-lagu bertema Ratu Sinuhun dari Dedi Irwanto, Silo Siswanto, dan Ali Gpoik.

