Museum 10 November di kawasan Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, dipadati pengunjung pada Minggu (23/11/2025) pagi. Keramaian terjadi seiring adanya pemutaran film pendek sejarah 360 derajat yang diproyeksikan di langit-langit museum.
Dalam pemutaran tersebut, ornamen visual menampilkan sejumlah peristiwa penting, mulai dari adegan ledakan, arsip kota tempo dulu, hingga gambar tokoh-tokoh pergerakan nasional. Proyeksi yang menyelimuti seluruh sisi ruangan membuat pengunjung seolah berada di tengah kejadian yang ditampilkan.
Pemutaran film ini menjadi bagian dari pameran tahunan bertajuk “Bajawara” yang berlangsung pada 20–30 November 2025, sebagai bagian dari program cross musea. Pameran ini menghadirkan pendekatan berbeda dalam menyampaikan sejarah melalui instalasi audio-visual imersif, agar pengunjung dapat memahami konteks peristiwa secara lebih dekat dan menyeluruh.
Staf sekaligus edukator Museum 10 November, Dinar Lyons, menjelaskan Bajawara merupakan pameran kolaborasi antara UPTD Museum dan Gedung Seni Budaya Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya dengan sejumlah museum nasional.
“Pameran ini kolaborasi lintas museum. Tahun ini kami gandeng Museum Naskah Proklamasi Jakarta, Museum Pers Nasional Surakarta, dan Museum Islam Nusantara KH Hasyim Asy’ari Jombang,” kata Dinar.
Ia menyebut nama Bajawara berasal dari bahasa Jawa yang berarti “proklamasi”. Tema besar pameran menampilkan rangkaian peristiwa sejarah sejak 17 Agustus 1945 hingga berdirinya Tugu Pahlawan.
Di area pemutaran film, pengunjung berdiri melingkar menghadap instalasi utama. Visual bergerak di seluruh langit-langit berpadu dengan suara dramatis yang memenuhi ruangan, sehingga pengalaman menonton terasa lebih hidup.
“Kalau weekend biasanya langsung penuh 150 pengunjung dan diputarkan terus. Hari biasa kami undang sekolah datang bergelombang,” ujar Dinar. Menurutnya, trafik Museum 10 November memang tinggi, namun pameran ini turut meningkatkan minat pengunjung.
Dinar menambahkan, tujuan utama penyelenggaraan pameran adalah mengubah cara pandang generasi muda terhadap museum. “Museum itu enggak selalu boring. Dengan konsep seperti ini, materi sejarah bisa tersampaikan dengan cara yang lebih unik,” katanya.
Ia juga mengingatkan pameran Bajawara hanya berlangsung sampai 30 November 2025. “Perlu dicatat, pamerannya cuma sampai tanggal 30 November 2025. Setelah itu selesai,” ucapnya.
Salah seorang pengunjung, Arifatu Yhuwanda, mahasiswa yang datang bersama teman-temannya, mengaku tidak menyangka pengalaman menonton film sejarah bisa terasa seimersif itu. “Tadi ramai sekali di atas, terus sangat seru. Hologramnya bagus, estetik, dan Instagrammable. Penyampaian filmnya juga dapet banget, vibes-nya kerasa,” tuturnya.
Arifatu mengatakan kunjungannya semula untuk menyelesaikan tugas kuliah, namun bertepatan dengan dibukanya pameran Bajawara. “Awalnya cuma buat ngerjain tugas kuliah, eh ternyata bagus. Kayaknya next aku bakal ke sini lagi sambil menyiapkan outfit yang pas biar sekalian foto-foto,” katanya.

