Pemenuhan gizi dan nutrisi menjadi salah satu kunci untuk membentuk generasi yang berkualitas. Tumbuh kembang anak tidak hanya diukur dari berat badan, tetapi juga dari tinggi badan. Pertumbuhan tinggi badan berkaitan erat dengan asupan nutrisi, sekaligus menjadi salah satu indikator untuk menilai risiko stunting.
Stunting merupakan kondisi ketika tinggi badan anak kurang ideal atau mengalami gangguan pertumbuhan sehingga tubuhnya menjadi lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Penilaian pertumbuhan anak merujuk pada standar yang digunakan Kementerian Kesehatan RI dan World Health Organization (WHO).
Upaya pencegahan stunting juga menjadi program nasional pemerintah sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Peraturan ini menekankan percepatan penurunan stunting secara holistik, integratif, dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi, serta sinkronisasi antarpemangku kepentingan. Perpres tersebut menggantikan Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi.
Perbaikan gizi untuk mencegah stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua atau pasangan yang sudah menikah. Generasi muda juga dinilai memiliki peran dalam pencegahan stunting. Masa remaja disebut sebagai fase transisi dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial. Remaja yang sehat umumnya terlihat dari pertumbuhan dan perkembangan yang normal sesuai standar usia.
Di Desa Gunungsari, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, khususnya Dusun Baran, masih ditemukan persoalan stunting meski persentasenya disebut rendah. Pihak desa dan bidan desa telah melakukan upaya agar anak-anak di wilayah tersebut terbebas dari stunting, namun dukungan dan kesadaran masyarakat dinilai tetap diperlukan.
Bidan desa, Rini, menekankan pentingnya perhatian pada masa awal kehidupan anak. “1000 hari pertama sangat penting dalam memperhatikan tumbuh kembang anak,” ujarnya. Ia menyebut penurunan angka stunting membutuhkan peran berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, bidan desa, kader posyandu, tokoh masyarakat, hingga warga.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, kelompok praktikum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengangkat isu stunting sebagai salah satu program yang diimplementasikan di Desa Gunungsari. Kegiatan yang digelar berupa penyuluhan dan sesi berbagi bertema “Remaja Sadar Stunting di Desa Gunungsari Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang”. Program ini bertujuan memberikan sosialisasi mengenai stunting, pentingnya pencegahan, serta langkah penanganan masalah stunting.
Rini menyambut baik kegiatan penyuluhan yang menyasar generasi muda tersebut. “Saya sangat bersyukur dengan adanya kegiatan ini sehingga dapat membantu dan memberi pemahaman kepada masyarakat terkait stunting. Sebagai bidan desa saya mengharapkan kegiatan seperti ini terus berlanjut agar masyarakat mendapatkan pemahaman dan dapat sadar akan pentingnya pencegahan stunting,” katanya.