BERITA TERKINI
Phoebe Gates Cerita Tekanan Jadi ‘Nepo Baby’ dan Tantangan Awal Kuliah di Stanford

Phoebe Gates Cerita Tekanan Jadi ‘Nepo Baby’ dan Tantangan Awal Kuliah di Stanford

Phoebe Gates, putri pendiri Microsoft Bill Gates, berbicara terbuka tentang tekanan yang ia rasakan sebagai “nepo baby” serta ketidakpastian yang menyertai masa-masa awalnya kuliah di Stanford. Menurutnya, sorotan yang datang dari ketenaran dan kekayaan keluarga justru membuat tahun pertamanya terasa lebih sulit.

Bill Gates disebut memastikan ketiga anaknya tumbuh dengan kesadaran bahwa mereka hidup dalam keberuntungan yang besar. Namun, Phoebe menilai status sebagai anak dari pendiri salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia—dengan kekayaan lebih dari 100 miliar dolar AS—juga membawa beban tersendiri.

Dalam podcast barunya, The Burnouts, yang ia bawakan bersama mitra bisnisnya, Sophia Kianni, Phoebe menceritakan bagaimana ia diliputi rasa tidak aman dan dorongan kuat untuk membuktikan diri saat baru masuk kuliah. Ia menyebut dirinya sadar memiliki banyak privilese dan merasa hal itu menjadi sumber ketidakamanan, terutama karena sebagai mahasiswa baru ia belum memiliki pengalaman maupun pencapaian yang bisa ditunjukkan.

Selain harus menavigasi kehidupan akademik di bawah perhatian publik, Phoebe juga menghadapi situasi tidak biasa terkait identitasnya di internet. Kianni bercerita bahwa salah satu nasihat penting yang ia terima sejak SMA adalah membeli nama domain sendiri untuk kebutuhan portofolio dan email profesional. Namun, Phoebe mengatakan nama domain yang menggunakan nama resminya sudah dibeli orang lain.

Phoebe menyebut situs tersebut berisi foto-foto acak dirinya dan seorang pria berusia 35 tahun. Ia mengatakan pihaknya harus meminta konten itu diturunkan karena saat itu ia masih di bawah umur. Phoebe menambahkan, situs tersebut bahkan pernah memuat kolase foto seolah-olah berupa undangan pernikahan mereka, dan kerap muncul setiap kali namanya dicari.

Bill Gates sebelumnya juga pernah berbicara mengenai dampak kesuksesannya terhadap anak-anaknya, termasuk soal beban akibat perhatian publik. Ia mengatakan pelecehan online yang dialami anak-anaknya menjadi pukulan berat baginya. Dalam pernyataannya kepada CNBC Make It, Gates menilai disinformasi sebagai kekhawatiran utama dan mengaku pernah naif mengira bahwa ketika informasi tersedia, orang akan memilih informasi yang benar.

Ia menambahkan, mendengar putrinya berbicara tentang pengalaman dilecehkan secara online—serta fakta bahwa teman-temannya juga mengalami hal serupa dalam jumlah yang cukup banyak—membuat isu tersebut terasa lebih nyata baginya.

Di sisi lain, Phoebe juga bercerita bahwa ia sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan kuliah. Bill Gates sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh teknologi yang keluar dari perguruan tinggi, setelah meninggalkan Harvard. Bersama Steve Jobs dan Mark Zuckerberg, kisah mereka kerap dijadikan rujukan bagi pengusaha yang memilih fokus membangun perusahaan.

Phoebe, yang berusia 22 tahun, mempertimbangkan keluar dari program biologi manusia di Stanford untuk mengembangkan start-up bernama Phia, yang ia rintis bersama Kianni. Informasi mengenai Phia masih terbatas, namun situs webnya menggambarkannya sebagai “cara baru untuk berbelanja online”.

Meski demikian, Phoebe mengatakan orang tuanya bersikap sangat hati-hati ketika ia menyampaikan keinginan untuk menyelesaikan gelar secara online dan fokus pada start-up. Menurutnya, orang tuanya menekankan bahwa ia harus menyelesaikan pendidikan dan tidak bisa begitu saja keluar untuk membangun perusahaan—sesuatu yang ia anggap ironis karena ayahnya “secara harfiah melakukan hal itu”. Ia juga menyebut bahwa keberhasilannya bisa kuliah di Stanford dan biaya pendidikan yang ditanggung keluarga berkaitan dengan keputusan tersebut.