BERITA TERKINI
Pola Asuh dan Trauma Masa Kecil Orang Tua Dapat Terulang pada Anak, Ini Cara Memutus Siklusnya

Pola Asuh dan Trauma Masa Kecil Orang Tua Dapat Terulang pada Anak, Ini Cara Memutus Siklusnya

Banyak orang tua pernah bertekad untuk tidak mengulang cara didik yang mereka alami semasa kecil. Namun, dalam praktiknya, pola yang sama kerap muncul kembali tanpa disadari, baik dalam cara memarahi anak, memberi pujian, maupun mengekspresikan kasih sayang.

Dalam materi yang dibagikan Superbook Indonesia, dijelaskan bahwa pengalaman masa kecil dapat melekat kuat dan terbawa hingga seseorang menjadi orang tua. Salah satu contoh yang diangkat adalah kisah Yakub. Ia tumbuh dalam keluarga yang digambarkan tidak sehat, ketika ayahnya, Ishak, lebih menyayangi Esau, sementara ibunya, Ribka, memihak Yakub. Situasi itu disebut menumbuhkan ketegangan dan persaingan dengan kakaknya, sementara luka yang muncul tidak diselesaikan.

Saat Yakub menjadi ayah, ia disebut mengulang pola serupa dengan lebih menyayangi Yusuf dibanding anak-anaknya yang lain (Kejadian 37:3-4). Akibatnya, keluarga mereka terpecah karena kecemburuan.

Menurut pemaparan dalam Program Pemuridan The Parenting Project, pola penurunan luka masa kecil juga kerap ditemui dalam kehidupan nyata. Ada orang tua yang dibesarkan dengan kekerasan verbal sehingga kesulitan mengontrol emosi saat menghadapi anak. Ada pula yang tidak terbiasa menerima pelukan atau afeksi, hingga merasa canggung ketika mengekspresikan kasih sayang kepada keluarga.

Materi tersebut menjelaskan beberapa alasan mengapa pola pengasuhan yang buruk dapat berulang. Pertama, orang tua cenderung mengasuh berdasarkan pola yang dikenal. Otak kerap memilih sesuatu yang familiar meski menyakitkan; pengalaman sering dimarahi, misalnya, dapat membuat seseorang lebih mudah marah, sementara pengalaman tidak dihargai dapat membuat seseorang kesulitan memberi apresiasi.

Kedua, luka masa kecil yang tidak disembuhkan dapat terbawa ke fase pengasuhan. Dalam contoh Yakub, ia disebut kemungkinan membawa luka karena merasa ditolak oleh ayahnya, ditambah perasaan bersalah yang tidak diproses. Luka yang dibiarkan ini dinilai bisa menjadi “warisan tak terlihat” bagi generasi berikutnya.

Ketiga, ada keyakinan keliru bahwa tindakan keras dilakukan demi kebaikan anak. Dalam contoh yang diberikan, orang tua bisa memaksa anak meraih nilai sempurna karena dulu merasa tidak cukup baik, atau melarang anak menangis karena diajari bahwa tangisan adalah kelemahan. Niat yang dianggap baik itu, menurut materi tersebut, justru berpotensi melukai anak.

Untuk memutus siklus tersebut, Superbook Indonesia memaparkan beberapa langkah. Langkah pertama adalah refleksi diri, antara lain dengan menanyakan pada diri sendiri kalimat apa yang sering diucapkan orang tua dulu, apa pemicu emosi saat menghadapi anak, dan perubahan apa yang ingin dilakukan.

Langkah kedua adalah terbuka kepada orang terdekat, seperti pasangan atau sahabat, agar mendapat dukungan dan pengingat ketika pola lama mulai muncul. Langkah ketiga ialah mencari komunitas atau bimbingan, misalnya melalui kelompok parenting Kristen atau konseling rohani, untuk memperoleh perspektif baru dan dukungan.

Langkah keempat yang disarankan adalah mengganti pola lama dengan nilai-nilai yang diyakini, termasuk merujuk pada ayat-ayat Alkitab seperti 1 Korintus 13:4 tentang kasih yang sabar dan murah hati, serta Efesus 6:4 tentang mendidik anak dalam ajaran Tuhan.

Di bagian penutup, materi tersebut menekankan pentingnya mewariskan kasih, bukan luka. Perubahan dinilai dapat dimulai dari langkah-langkah kecil, seperti memuji anak sekali dalam sehari atau menahan diri untuk tidak membentak saat emosi muncul. Disebutkan pula pesan Roma 12:2 tentang pembaruan budi sebagai ajakan untuk berubah.

Bagi yang masih bergumul dengan trauma masa lalu dan ingin memutuskannya, Superbook Indonesia juga mencantumkan opsi menghubungi Layanan Doa dan Konseling CBN melalui WhatsApp di 0822-1500-2424.