Perayaan Hari Musik pada 9 Maret tahun ini terasa berbeda seiring melesatnya popularitas lagu-lagu dari Indonesia Timur. Irama menghentak, beat enerjik, serta lirik berbahasa daerah kian sering terdengar di ruang publik, bahkan disebut merambah hingga tembok Istana Negara, menciptakan atmosfer yang segar dan membumi.
Salah satu penanda penting tren ini datang dari platform media sosial. Berdasarkan data TikTok Global Top 20 Songs yang dirilis pada 2025, lagu “Stecu Stecu” karya Faris Adam dari Ternate, Maluku Utara, mencatatkan sejarah sebagai lagu Indonesia pertama yang masuk daftar global tersebut. Lagu itu menempati peringkat kedelapan dunia.
Catatan itu memperkuat narasi bahwa musik dari kawasan timur Indonesia memiliki daya tarik yang mampu bersaing di panggung global. Namun, gelombang penerimaan luas terhadap musik Timur sejatinya bukan hal baru.
Jika menengok ke era 1990-an, lagu “Poco-Poco” ciptaan Arie Sapulette yang dipopulerkan Yopie Latul pada 1995 pernah menjadi bukti awal bahwa musik Indonesia Timur dapat dinikmati secara luas. Kepopulerannya turut ditopang tarian sederhana yang kemudian diadopsi menjadi gerakan senam massal di berbagai instansi pemerintah, lingkungan militer, hingga sekolah-sekolah, sehingga lagu tersebut meresap ke banyak lapisan masyarakat.
Lagu “Sajojo” dari Papua juga menyertai gelombang popularitas serupa. Karakteristik musik yang rancak dan ceria—yang dahulu memikat pendengar—kini kembali mengemuka melalui sejumlah lagu kontemporer seperti “Stecu Stecu”, “Tabola Bale”, dan “Orang Baru Lebe Gacor”.
Perkembangan ini tak lepas dari kreativitas musisi masa kini dalam menyerap pengaruh musikal yang ritmis dan dinamis, lalu memadukannya dengan lirik-lirik yang ceria. Pola serupa pernah terjadi pada musik pop Jawa (campursari) yang lebih dahulu populer, ketika musisi melakukan persilangan kreatif tanpa meninggalkan karakter lokal.
Dalam perspektif etnomusikologi, praktik tersebut dikenal sebagai hibriditas: musisi tidak sekadar mengadopsi tren, tetapi aktif memadukannya dengan identitas dan nilai lokal, baik melalui pilihan instrumen, aransemen, maupun penggunaan lirik berbahasa daerah. Dengan cara ini, musik Timur dapat mempertahankan akar sekaligus beradaptasi dengan selera kekinian.
Media baru, terutama platform berbagi video pendek seperti TikTok, turut mempercepat penyebaran lagu-lagu tersebut. Banyak konten memanfaatkan musik Timur karena komposisinya dinilai menarik, bahkan kreator dari luar negeri ikut mengadopsinya. Jangkauan media baru yang luas juga disebut merobohkan dominasi Jakarta sebagai episentrum musik nasional, sekaligus membuka jalan bagi musik Indonesia Timur untuk dikenal lebih jauh di tingkat global.

