Bibit-bibit korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) disebut dapat tumbuh sejak anak masih kecil, bahkan melalui kebiasaan sehari-hari yang kerap dianggap sepele. Psikolog Tiara Erlita menilai, persoalan kecil dalam relasi anak dan orang tua bisa menjadi cikal bakal perilaku KKN di masa depan.
Tiara menjelaskan, banyak orang menganggap praktik KKN hanya terjadi di dunia orang dewasa seperti kantor, politik, atau pemerintahan. Namun, menurutnya, perilaku tersebut dapat tanpa sadar tertanam melalui pola asuh sejak dini.
Dalam unggahan di Instagram pribadinya pada Rabu (3/9/2025), Tiara mengajak orang tua untuk terus belajar dan menjadi teladan bagi anak. Ia menekankan bahwa keterbatasan pendidikan, pengalaman, atau panutan tidak seharusnya menghalangi orang tua untuk membangun nilai integritas di rumah.
Berikut tujuh kebiasaan orang tua yang, menurut Tiara, berpotensi menumbuhkan bibit KKN dalam kehidupan anak.
1. Meminta nilai dinaikkan meski tidak memenuhi syarat
Di lingkungan sekolah, Tiara mencontohkan situasi ketika nilai anak tidak memenuhi syarat, tetapi orang tua “meminta tolong” kepada guru agar nilainya dinaikkan. Dari pengalaman ini, anak bisa menangkap pesan bahwa hasil dapat diraih tanpa usaha, asalkan ada kuasa.
2. Orang tua mengambil alih masalah anak
Bibit KKN juga dapat muncul ketika orang tua langsung menyelesaikan konflik pertemanan atau tantangan akademis anak. Menurut Tiara, kebiasaan ini membuat anak kehilangan kesempatan belajar bertanggung jawab dan berpikir, sehingga ketika menghadapi masalah, ia terbiasa mengandalkan “orang dalam”.
3. Menggunakan jalur belakang untuk masuk sekolah favorit
Tiara menyoroti praktik memanfaatkan “jalur belakang” ketika anak tidak lolos seleksi sekolah favorit. Ia menilai, tindakan tersebut dapat menanamkan pemahaman bahwa aturan bisa dilanggar jika memiliki koneksi atau uang.
4. Membela anak mati-matian meski jelas salah
Saat anak berbuat salah—misalnya mencontek atau melanggar aturan—namun orang tua membela habis-habisan di depan guru, anak dapat belajar bahwa benar atau salah bukan hal utama. Menurut Tiara, pesan yang tertangkap bisa bergeser menjadi yang penting adalah “menang” atau lolos dari konsekuensi.
5. Memberi hadiah kepada guru atau pelatih dengan tujuan khusus
Pemberian hadiah kepada guru atau pelatih, apabila bukan sekadar tanda terima kasih melainkan bertujuan agar anak memperoleh perlakuan istimewa, dinilai berisiko membentuk cara pandang keliru. Tiara menyebut anak dapat belajar bahwa privilese bisa dibeli.
6. Mengutamakan orang dekat dalam aktivitas anak
Kebiasaan mengutamakan “orang dekat” dalam hal-hal penting—misalnya memilih anggota kelompok tugas atau peserta lomba berdasarkan kedekatan, bukan kemampuan—dapat membuat anak menganggap nepotisme sebagai sesuatu yang wajar. Dalam pola ini, kepentingan keluarga atau teman sendiri menjadi prioritas.
7. Mengajarkan jalan pintas ketimbang mendampingi proses
Tiara juga menyinggung kebiasaan orang tua yang lebih memilih jalan pintas, seperti langsung mengerjakan PR anak. Menurutnya, anak dapat menyimpulkan bahwa proses tidak penting selama tugas selesai.
Apa yang bisa diajarkan orang tua?
Tiara menyarankan beberapa hal yang dapat ditanamkan orang tua untuk membangun karakter anak. Pertama, menunjukkan kejujuran dari hal kecil, misalnya mengakui lupa membayar parkir atau meminta maaf ketika salah. Kedua, menghargai usaha, bukan hanya hasil, dengan merayakan proses belajar meski belum sempurna.
Ketiga, membiarkan anak menghadapi konsekuensi agar belajar tanggung jawab, misalnya menerima teguran guru ketika lupa membawa PR. Keempat, menjadi teladan, karena anak dinilai lebih cepat belajar dari apa yang mereka lihat dibandingkan dari apa yang mereka dengar.