BERITA TERKINI
Raissa Anggiani Tutup Tur Album "Kepada, Yang Terhormat" di Jakarta

Raissa Anggiani Tutup Tur Album "Kepada, Yang Terhormat" di Jakarta

Penyanyi Raissa Anggiani menutup rangkaian tur album Kepada, Yang Terhormat lewat konser mini di M Bloc Live House, Jakarta, pada Sabtu, 17 Januari 2026. Sebelumnya, tur tersebut telah digelar di sejumlah kota, yakni Bandung, Yogyakarta, Malang, Surabaya, hingga Denpasar. Album Kepada, Yang Terhormat juga menjadi album perdana yang dirilis Raissa.

Suasana haru mewarnai penampilan puncak malam itu. Menjelang akhir konser, Raissa menyampaikan terima kasih kepada penonton yang telah mengapresiasi lagu-lagunya. “Aku ingin berterima kasih banyak untuk kalian yang sudah mengapresiasi lagu-lagu ini, aku harap aku bisa ketemu kalian lagi,” ucapnya sebelum menutup penampilan dengan lagu “Ruang Hidup”.

Dalam kesempatan tersebut, Raissa menjelaskan bahwa lagu-lagu di album Kepada, Yang Terhormat ia tujukan untuk menemani pendengar dalam mencari ketenangan dan kedamaian. Namun, ia menekankan bahwa kedamaian bersifat dinamis dan tidak absolut. “Tapi aku harap kamu bisa berdamai dengan seluruhnya, dengan senang dan sedihnya,” pesannya kepada penonton.

Konser mini itu dibagi menjadi dua babak. Babak pertama diisi fase nostalgia dengan membawakan lagu-lagu di luar album Kepada, Yang Terhormat. Pada babak kedua, Raissa membawakan materi dari album terbarunya, termasuk “Baik, Aku Mundur Pelan-pelan”, “Kala Rindu”, dan “Telapak Tanganku”.

Raissa juga menghadirkan kolaborasi dengan sejumlah musisi. Ia tampil bersama Satria STM lewat lagu “if u could see me cryin' in my room” serta Kamga Mo untuk lagu “Jika Nanti”. Selain itu, Raissa mengajak adiknya, Raya Khairiya Sulastyo, untuk bermain bass dalam beberapa lagu.

Dalam sesi wawancara, Raissa menyebut Kepada, Yang Terhormat sebagai versi lengkap dari album mini Renung Resah yang dirilis pada 2023. Ia memandang album ini sebagai gambaran perjalanan panjang yang telah ia lalui. “Di album ini sebenarnya tuh versi di mana aku lebih mengerti cara menghargai baik dan buruknya cinta,” kata Raissa.

Meski memuat aspek percintaan, Raissa menilai tema tersebut dapat dimaknai lebih luas. Ia mencontohkan adanya lagu yang berisi keluhannya kepada Tuhan dan prosesnya mendekat pada rasa damai. “Ada satu lagu di mana aku mengeluh kepada Tuhan, juga tentang cara aku akhirnya lebih dekat dengan damai, terus aku rasa mungkin proses sama-sama pendewasaan,” ucapnya.

Raissa mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari rangkaian tur ini, terutama soal membangun penampilan yang menghibur. “Belajar bagaimana cara untuk bisa performance dengan menghibur, jadi enggak fokus sama terbaiknya aja tapi gimana orang tuh happy,” ujarnya. Ia juga menyebut tur tersebut sebagai perjalanan awal menuju hal-hal baru dan berharap berlanjut pada album berikutnya.

Sebelum memasuki aula utama konser, penonton melewati sebuah lorong yang menampilkan proses perjalanan hidup Raissa. Ibundanya, Winur Wulan Miranti, memandu penonton melewati instalasi yang dibagi menjadi tiga segmen.

Segmen pertama bernuansa nostalgia, menampilkan foto lama Raissa bersama keluarga serta sejumlah memoar yang ia tulis. Segmen kedua menggambarkan fase ketidaknyamanan dalam hidup yang dialami Raissa, diwakili beberapa buku favoritnya, serta barang pemberian mantan pacarnya berupa boneka, foto dan tulisan setengah terbakar, serta mawar yang sudah mengering.

Segmen ketiga menggambarkan fase penerimaan setelah patah hati hingga menemukan kedamaian dalam diri. Menurut Winur, titik baliknya ketika Raissa memahami kebahagiaan tidak hanya berasal dari pacar atau pasangan, tetapi juga keluarga dan orang-orang terdekat. “Di sini dia acceptance dan timbul harapan bahwa mungkin enggak semuanya hitam, biru atau sendu, tapi juga akan ada kebahagiaan yang lain,” tutur Winur.