BERITA TERKINI
Ramadhan di Al-Quds: Masjid Al-Aqsa Ditutup Total, Akses Jamaah Dibatasi Ketat

Ramadhan di Al-Quds: Masjid Al-Aqsa Ditutup Total, Akses Jamaah Dibatasi Ketat

Ramadhan tahun ini berlangsung berbeda di Al-Quds. Aktivitas ibadah di Masjid Al-Aqsa yang biasanya dipadati jamaah, termasuk i’tikaf pada sepuluh malam terakhir, tidak terlihat. Otoritas Israel menutup total kompleks Masjid Al-Aqsa sejak dimulainya eskalasi serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Sejak penutupan diberlakukan, hanya lima orang yang diizinkan berada di dalam kompleks: imam, muazin, petugas iqamah, penjaga mimbar di musala Qibli, serta direktur masjid. Sementara itu, ribuan jamaah yang umumnya memenuhi halaman dan ruang-ruang masjid tidak dapat masuk.

Situasi di sekitar Kota Tua Al-Quds juga berubah. Kawasan yang biasanya ramai oleh peziarah dan jamaah dilaporkan dijaga ketat, dengan ratusan tentara dan polisi Israel dikerahkan untuk menutup akses menuju Masjid Al-Aqsa.

Meski demikian, upaya warga untuk tetap beribadah tidak sepenuhnya berhenti. Sejumlah warga Al-Quds mendekat sejauh yang memungkinkan dan menunaikan salat di area sekitar, termasuk dengan membentangkan sajadah di dinding-dinding Kota Tua, di tengah pembatasan dan ancaman aparat.

Pemerintah Provinsi Al-Quds menilai penutupan ini tidak semata-mata terkait kebijakan keamanan. Dalam pernyataannya, mereka menyebut terdapat dimensi politik dan strategis, yakni upaya memaksakan realitas baru di dalam kompleks Al-Aqsa serta menggerus otoritas pengelolaan yang sah.

Penutupan total Masjid Al-Aqsa dan pelarangan i’tikaf selama Ramadhan disebut sebagai preseden yang belum pernah terjadi sejak 1967, karena dilakukan melalui keputusan langsung otoritas Israel.

Sumber Palestina sebelumnya juga menyatakan penutupan berpotensi berlanjut hingga Idulfitri. Jika hal itu terjadi, puluhan ribu warga Palestina dikhawatirkan kehilangan kesempatan menunaikan salat Id di pelataran Masjid Al-Aqsa.

Di ruang digital, reaksi publik bermunculan. Sejumlah pengguna menilai penutupan Masjid Al-Aqsa pada malam ke-27 Ramadhan sebagai peristiwa yang menyakitkan dan mencerminkan berlanjutnya dominasi Israel. Ada pula yang menyoroti kontras dengan tahun-tahun sebelumnya, ketika pada malam yang sama jumlah jamaah pernah mencapai ratusan ribu meski dalam kondisi pembatasan.

Sejumlah komentar lain menilai langkah ini sebagai bagian dari agenda yang lebih besar untuk mengubah status quo di Masjid Al-Aqsa. Sebagian pihak menyampaikan kekhawatiran bahwa penutupan kali ini dapat menjadi awal dari tindakan yang lebih ekstrem di masa mendatang.

Liga Arab turut menyampaikan sikapnya. Dalam pernyataan mereka, Liga Arab menegaskan Israel tidak memiliki hak melarang umat Islam menjalankan ibadah di Masjid Al-Aqsa dan mendesak komunitas internasional mengambil sikap tegas untuk menghentikan pelanggaran terhadap tempat-tempat suci. Namun, hingga kini, di lapangan belum terlihat adanya perubahan situasi.

Penutupan ini bermula pada 28 Februari, ketika otoritas Israel menutup Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Al-Quds dengan dalih keadaan darurat, bertepatan dengan eskalasi serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.