BERITA TERKINI
Inspirasi dari Film “If I Had Legs, I ‘d Kick You” (2026)

Inspirasi dari Film “If I Had Legs, I ‘d Kick You” (2026)

IBU RAPUH YANG TAK BOLEH GAGAL DAN KELETIHAN EKSISTENSIAL

Oleh Denny JA

Di tengah malam yang terlalu sunyi untuk disebut malam, Linda berdiri di luar kamar motel yang pengap. Lampu neon berkelip seperti denyut nadi yang hampir putus.

Dari dalam kamar, suara mesin kecil terus berdengung. Selang makan putrinya bekerja tanpa henti, seperti kehidupan yang dipaksa berjalan meski jiwa sudah lelah.

Linda tidak tidur. Ia tidak bisa. Ia duduk di lantai, memeluk lututnya sendiri, seperti mencoba menahan tubuhnya agar tidak hancur berkeping.

Di tangannya, segelas anggur murah. Di matanya, kelelahan yang tak bisa ditutupi oleh apa pun. Ia bukan hanya lelah secara fisik. Ia lelah menjadi seseorang yang harus selalu kuat.

Di dalam kamar, anaknya bergantung pada mesin untuk hidup. Di luar kamar, Linda bergantung pada sisa-sisa harapan untuk tetap bertahan.

Ketika akhirnya ia berdiri dan berjalan menuju pantai, langkahnya goyah. Ombak memanggil, atau mungkin hanya menawarkan jeda.

Ia berlari ke laut. Air memeluknya dingin. Ia jatuh. Bangkit. Jatuh lagi.

Seolah ia ingin menghapus dirinya sendiri.

Namun setiap ombak selalu mengembalikannya ke darat.

Seperti hidup yang menolak untuk membiarkan manusia berhenti begitu saja.
Dan di situlah luka terdalam itu berada. Bukan karena ia gagal menjadi ibu. Tetapi karena dunia tidak memberi ruang bagi seorang ibu untuk gagal.

-000-

Film I Had Legs I’d Kick You adalah karya yang ditulis dan disutradarai oleh Mary Bronstein. Ia menghadirkan potret yang begitu jujur dan nyaris menyakitkan tentang keibuan, kelelahan, dan rapuhnya manusia modern.

Saya menonton film ini di atas pesawat, dari Los Angeles ke Jakarta, lewat Hongkong. Salah satu kegirangan saya naik pesawat dengan durasi panjang adalah menonton film.

Tokoh utama Linda diperankan dengan intensitas luar biasa oleh Rose Byrne. Penampilannya melampaui akting. Ia menjadi ruang tempat seluruh kecemasan, rasa bersalah, dan kelelahan manusia ditampung tanpa sisa.

Film ini juga menghadirkan Conan O’Brien dan Christian Slater dalam peran pendukung yang memperkaya lanskap emosi cerita.

Diproduksi oleh A24, film ini pertama kali diputar di Sundance Film Festival 2025 dan kemudian dirilis luas di Amerika Serikat. Respon kritikus sangat positif, terutama terhadap performa Byrne.

Ia memenangkan Silver Bear untuk Best Leading Performance, Independent Spirit Award untuk Best Lead Performance, serta Golden Globe Award. Ia juga mendapat nominasi Academy Award dan BAFTA.

Namun penghargaan terbesar film ini bukan pada trofi. Ia terletak pada keberaniannya membuka sesuatu yang sering disembunyikan. Bahwa di balik tuntutan untuk selalu kuat, manusia menyimpan retakan yang tidak terlihat.

Dalam tangan Bronstein, kamera bergerak pelan, seolah ikut tersengal napas Linda; lorong motel yang sempit, cahaya neon yang getir, dan close-up wajah letihnya menjadikan keibuan tampak seperti penjara yang dibangun diam-diam.

-000-

Kisah film ini mengikuti Linda, seorang psikoterapis yang justru tidak mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Ia merawat putrinya yang mengalami gangguan makan serius, bergantung pada selang makan untuk bertahan hidup.

Suaminya jarang hadir. Rumahnya rusak. Ia pindah ke motel yang dingin dan asing. Hidupnya perlahan runtuh, bukan dalam satu ledakan besar, tetapi dalam retakan kecil yang terus melebar.

Di tempat kerja, Linda menghadapi pasien dengan trauma mendalam. Di rumah, ia menghadapi anaknya yang rapuh. Di dalam dirinya sendiri, ia menghadapi rasa bersalah yang tak berujung.

Ia mulai kehilangan batas antara profesionalisme dan keputusasaan. Ia minum, merokok, tidak tidur. Ia menjadi seseorang yang bertahan, tetapi tidak lagi tahu untuk apa ia bertahan.

Ketika seorang pasien meninggalkan bayinya di kantor, Linda dipaksa menghadapi absurditas dunia. Ketika seorang pria jatuh dan terluka di apartemennya, ia memilih melarikan diri. Setiap keputusan menjadi cermin dari jiwa yang semakin lelah.

Puncaknya terjadi ketika ia mencabut selang makan anaknya. Tindakan ini bukan hanya medis. Ia adalah pemberontakan sunyi terhadap rasa bersalah yang selama ini mengikat hidupnya.

Di akhir, ia berlari ke laut. Ia ingin menghilang. Namun ia kembali.

Pelajaran psikologis dari film ini sangat dalam. Bahwa manusia bisa mencintai sepenuh hati, namun tetap tidak mampu mengendalikan hasil. Bahwa kelelahan bukan tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa seseorang telah berjuang terlalu lama sendirian.

Dan lebih jauh lagi, film ini mengajukan pertanyaan yang mengganggu. Jika seseorang terus dipaksa kuat tanpa jeda, apakah yang tersisa dari dirinya selain kelelahan.

-000-

Buku pertama yang memperkaya pemahaman film ini adalah The Drama of the Gifted Child karya Alice Miller, terbit tahun 1979.

Buku ini mengupas bagaimana individu sejak kecil belajar menekan perasaan mereka demi memenuhi ekspektasi lingkungan. Anak yang dianggap kuat sering kali justru tumbuh menjadi dewasa yang rapuh, karena tidak pernah diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Dalam diri Linda, kita melihat bagaimana ia terus memainkan peran sebagai ibu ideal, profesional yang kompeten, dan manusia yang stabil. Namun di balik itu semua, ia kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar diizinkan untuk gagal.

Alice Miller menunjukkan bahwa emosi yang ditekan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu, lalu muncul dalam bentuk kelelahan, kecemasan, dan kehampaan.

Film ini menjadi cermin dari gagasan tersebut. Linda bukan runtuh karena kelemahan. Ia runtuh karena terlalu lama menahan dirinya sendiri.

Buku kedua adalah Man’s Search for Meaning karya Viktor E. Frankl, terbit tahun 1946.

Frankl menulis bahwa manusia mampu bertahan dalam penderitaan paling ekstrem sekalipun, selama ia menemukan makna. Namun tanpa makna, bahkan penderitaan yang kecil pun bisa terasa tak tertahankan.

Linda berada di titik di mana makna hidupnya mulai menghilang. Ia tidak lagi tahu mengapa ia harus terus berjuang. Hari-harinya menjadi rangkaian rutinitas tanpa arah.

Frankl mengajarkan bahwa makna tidak selalu lahir dari keberhasilan, tetapi dari cara kita menanggapi penderitaan. Dalam konteks ini, akhir film memberi secercah harapan. Ketika Linda berkata ia akan menjadi lebih baik, itu bukan janji kesempurnaan. Itu adalah usaha kecil untuk menemukan kembali alasan untuk bertahan.

-000-

Pada akhirnya, film ini meninggalkan kita pada satu kebenaran yang sunyi.

Bahwa manusia tidak diciptakan untuk selalu kuat. Seorang ibu boleh rapuh. Seorang manusia boleh lelah.

Dan cinta tidak selalu cukup untuk menyelamatkan semua yang kita sayangi.

Namun selama seseorang masih memilih untuk kembali, masih memilih untuk bangkit meski pelan, harapan tidak pernah benar-benar hilang.

Bukan sebagai janji kemenangan.
Tetapi sebagai keberanian untuk tetap hidup.

Melalui Linda, kita belajar bahwa mengakui kerapuhan bukanlah kekalahan. Di sela deru ombak, ada keberanian untuk berhenti berpura-pura, membiarkan luka bernapas, dan menyadari bahwa menjadi manusia yang bisa bertahan dan waras saja sudah cukup tangguh.***

(Di atas pesawat dari Los Angeles ke Hongkong, 31 Maret 2026)

-000-

Referensi:

1. The Drama of the Gifted Child, Alice Miller, Basic Books, 1979

2. Man’s Search for Meaning, Viktor E. Frankl, Beacon Press, 1946