Jakarta — Proyek reboot serial televisi Harry Potter di HBO Max tetap berlanjut di tengah kontroversi yang mengiringinya. Warner Bros. disebut terus mengebut produksi musim pertama demi mengejar target penayangan perdana pada 25 Desember mendatang.
Meski banyak detail produksi masih dirahasiakan, HBO baru-baru ini merilis video promosi singkat berdurasi kurang dari 10 detik melalui media sosial X (Twitter). Cuplikan tersebut memunculkan sinyal bahwa serial ini akan lebih setia pada versi novel dibanding adaptasi film layar lebar sebelumnya.
Dalam teaser itu, penonton diperlihatkan momen ikonis saat Harry Potter—kini diperankan Dominic McLaughlin—mendapatkan tongkat sihirnya di toko Ollivanders. Namun sorotan lain muncul pada adegan berikutnya, ketika Harry berjalan menuju lapangan Quidditch bersama tim Gryffindor untuk menghadapi lawan dengan seragam merah dan kuning.
Bagi pembaca buku pertama, The Sorcerer’s Stone (Harry Potter dan Batu Bertuah), cuplikan tersebut mengarah pada pertandingan melawan asrama Hufflepuff. Momen ini dinilai penting karena sepenuhnya tidak ditampilkan dalam film Harry Potter tahun 2001 yang dibintangi Daniel Radcliffe, di mana Gryffindor hanya diperlihatkan bertanding melawan Slytherin.
Dalam versi novel, keberadaan pertandingan melawan Hufflepuff menjadi salah satu rangkaian peristiwa yang memperkuat kecurigaan Harry terhadap Profesor Severus Snape—yang dalam serial HBO ini diperankan Paapa Essiedu. Pada periode waktu yang sama, Harry memergoki Snape mengintimidasi Profesor Quirrell di hutan, mendesaknya mencari cara melewati Fluffy, anjing berkepala tiga yang menjaga Batu Bertuah. Rangkaian kejadian tersebut menjadi fondasi keyakinan Harry, Ron, dan Hermione bahwa Snape adalah dalang di balik ancaman yang mereka hadapi.
Cuplikan ini sekaligus mempertegas klaim HBO untuk menghadirkan adaptasi yang lebih akurat terhadap materi sumber. Dalam film, keterbatasan durasi membuat sejumlah elemen cerita dan pendalaman karakter harus dipangkas, termasuk ruang bagi Snape yang di novel berkembang sebagai sosok anti-hero kompleks dengan loyalitas yang lama menjadi tanda tanya.
Dengan format serial televisi, HBO memiliki ruang lebih luas untuk menampilkan detail cerita yang sebelumnya terpotong. Pendekatan semacam ini dinilai berpotensi menjadi kekuatan serial, terutama ketika kisah memasuki fase remaja Harry yang alurnya semakin panjang, gelap, dan rumit secara emosional. Sementara film layar lebar tetap memiliki daya tarik nostalgia, narasinya kerap dinilai terasa melompat-lompat akibat pemangkasan adegan.