Seniman Tran Binh tengah mempersiapkan konser bertajuk Air Mata Keabadian untuk memperingati 25 tahun wafatnya musisi Trinh Cong Son (1 April 2001). Konser ini dijadwalkan berlangsung pada malam 29 Maret di Istana Persahabatan Vietnam–Soviet, Hanoi.
Tran Binh, yang menjabat sebagai direktur umum program di Teater Seni Kontemporer Vietnam, mengatakan konser-konser yang membawakan karya Trinh Cong Son selama 25 tahun terakhir selalu meraih sambutan baik. Ia menyebut, kecuali beberapa tahun ketika pandemi COVID-19, ia rutin menyelenggarakan malam musik Trinh Cong Son untuk penonton Hanoi setiap tahun dan hasilnya konsisten sukses.
Dalam hampir 40 tahun kariernya sebagai penyelenggara, Tran Binh menilai hanya ada dua nama yang “dijamin” laku keras setiap kali konser digelar, yakni komposer Trinh Cong Son dan Van Cao. Ia menambahkan, karya Thanh Tung juga memiliki daya tarik, meski konser untuk komposer tersebut lebih jarang ia adakan.
Menurut Tran Binh, musik Trinh Cong Son tetap menempati posisi khusus di hati penonton Hanoi. Ia menggambarkan lagu-lagu Trinh Cong Son sebagai karya yang sederhana namun sarat perenungan filosofis tentang cinta dan kondisi manusia, sehingga dapat dinikmati berbagai kalangan, dari masyarakat umum hingga mereka yang terpelajar.
Ia juga menilai warisan musik Trinh Cong Son sangat kaya dan dapat terus dieksplorasi. Para penyanyi, kata dia, kerap mencari cara baru untuk menafsirkan karya-karya tersebut, yang pada akhirnya turut memperluas basis penggemar dari waktu ke waktu.
Setelah menyelenggarakan sekitar 30 malam musik Trinh Cong Son dalam 20 tahun terakhir, Tran Binh mengatakan ia terus mencari bentuk inovasi agar konser tetap relevan, termasuk untuk menarik penonton yang lebih muda. Karena itu, dalam konser Air Mata Keabadian ia mengundang penyanyi seperti Thanh Lam dan Ha Le untuk membawakan lagu-lagu Trinh Cong Son.
Terkait kehadiran Thanh Lam, Tran Binh menyebut tujuannya adalah menghadirkan energi yang berbeda dalam membawakan repertoar Trinh Cong Son. Ia mengakui ada penonton yang tidak menyukai interpretasi Thanh Lam dan menilai penyanyi itu tidak menyanyikan karya Trinh Cong Son dengan kedalaman atau semangat yang tepat. Namun, Tran Binh menilai setelah 25 tahun, konser penghormatan tidak cukup jika hanya mengulang gaya lama. Ia mengatakan akan menjaga agar Thanh Lam tetap berada dalam batas yang dapat diterima, sembari memberi ruang untuk menyalurkan hasrat musikalnya demi menghadirkan sesuatu yang baru.
Ha Le juga dipilih untuk memberi warna segar. Tran Binh mengaku menghargai aransemen Ha Le terhadap lagu-lagu Trinh Cong Son serta caranya menggabungkan tarian ke dalam pertunjukan. Ia mengatakan telah mengundang Ha Le di banyak pertunjukan yang ia sutradarai, baik di dalam maupun luar negeri, dan menilai Ha Le belum dikenal luas meski dianggap mampu memodernisasi musik Trinh Cong Son.
Selain itu, Tran Binh turut mengundang penyanyi Ngoc Son untuk membawakan lagu-lagu Trinh Cong Son. Ia menyebut langkah tersebut sebagai keputusan terukur dari promotor yang memahami audiens. Menurutnya, penonton di Istana Persahabatan Vietnam–Soviet didominasi masyarakat umum yang menikmati penampilan Ngoc Son, yang sejak 1990-an dikenal luas di Hanoi melalui rangkaian konser Gala 90 yang saat itu sukses secara komersial.
Dalam konser Air Mata Keabadian, Ngoc Son dijadwalkan membawakan tiga lagu: Chiều một mình qua phố (Walking Alone Through the Streets in the Afternoon), Một cõi đi về (A Realm to Return To), dan Cát bụi (Dust).
Konser ini disutradarai oleh Seniman Berprestasi Quynh Trang, Direktur Teater Seni Kontemporer Vietnam. Selain Thanh Lam, Ha Le, dan Ngoc Son, acara juga menampilkan sejumlah penyanyi yang kerap dikaitkan dengan musik Trinh Cong Son, antara lain Cam Van, Lo Thuy, Tuan Hiep, Ho Trung Dung, dan lainnya.
Sejumlah lagu populer Trinh Cong Son yang akan dibawakan mencakup Nắng thủy tinh (Glass Sunlight), Để gió cuốn đi (Let the Wind Blow Away), Xin mặt trời ngủ yên (Please Let the Sun Sleep Peaceful), Chiều một mình qua phố, Tuổi đời mênh mông (Luasnya Kehidupan), Diễm xưa, Ở trọ, Nhớ mùa thu Hà Nội (Mengingat Musim Gugur Hanoi), Em đi bỏ lại con đường, Cát bụi, Ru đời đi nhé, dan Hạ trắng.

