Karakter Jack Ryan ciptaan Tom Clancy sudah lama menjadi langganan layar lebar, dengan sejumlah aktor—dari Alec Baldwin hingga Harrison Ford, Ben Affleck, dan Chris Pine—pernah memerankannya dalam film-film yang umumnya meraih perhatian penonton. Kini, petualangan terbarunya hadir lewat Jack Ryan: Perang Hantu, yang bukan reboot film baru, melainkan kelanjutan dari serial Amazon setelah empat musim, dengan John Krasinski tetap sebagai analis CIA yang telah lama menjadi wajah versi televisinya.
Pendekatan ini membawa keuntungan tersendiri. Empat musim serial memberi ruang membangun karakter dan dunia Jack Ryan, sehingga film tidak perlu memulai ulang dari nol atau menentukan fase karier Ryan seperti yang kerap menjadi persoalan pada adaptasi baru. Dengan fondasi itu, film dapat langsung menempatkan Ryan pada tahap pertengahan karier tanpa harus “membayar” pengantar panjang lewat beberapa film sebelumnya.
Meski terikat pada sekitar 30 episode terdahulu, Perang Hantu dinilai cukup mampu berdiri sendiri. Alurnya relatif mudah diikuti, bahkan bagi yang tidak mengingat detail serialnya. Dari sisi koherensi cerita, film ini disebut lebih rapi dibanding sebagian versi layar lebar sebelumnya, meski pada akhirnya muncul pertanyaan tentang alasan kebutuhan format film, mengingat sejumlah potensi yang lazim diharapkan—seperti skala yang lebih besar, cerita yang lebih mengguncang, atau peningkatan signifikan—tidak sepenuhnya terwujud dalam durasi 105 menitnya.
Cerita dimulai ketika Ryan sudah keluar dari CIA dan bekerja di sebuah hedge fund, berharap bisa menjalani hidup yang lebih “normal”. Namun mantan atasannya, James Greer (Wendell Pierce) yang kini menjabat wakil direktur CIA, kembali meminta bantuan kecil saat Ryan melakukan perjalanan bisnis ke Dubai. Situasi berubah rumit ketika seseorang terbunuh hanya beberapa meter dari Ryan. Di saat bersamaan, mantan agen sekaligus rekan Ryan, Mike November (Michael Kelly), bekerja sama dengan agen MI6 Emma Marlow (Sienna Miller) untuk melacak rencana mengaktifkan kembali sebuah kelompok teroris.
Premis “menghidupkan kembali kelompok teroris” menjadi inti film, tetapi sudut pandang geopolitiknya dinilai terasa berakar pada atmosfer akhir 2000-an. Ketika film berupaya mengangkat pertanyaan tentang “impian Amerika” melalui perdebatan Ryan dan Greer, isu yang dibahas cenderung bergerak pada ranah operasi internasional yang digambarkan samar dan fiksi, sementara realitas politik era 2020-an terasa dihindari. Akibatnya, semakin film menjauh dari konteks kekinian, semakin ia terasa seperti produk dari masa yang telah berlalu.
Krasinski, yang kali ini ikut menulis naskah, dinilai menanggung beban lebih besar atas dialog yang dianggap lemah. Beberapa kalimat disebut bertumpu pada frasa sederhana yang berulang, dan lelucon tentang etiket spionase pun dianggap tidak segar meski karakter ini sudah dibangun selama empat musim. Dari sisi penokohan, Ryan versi Krasinski dipandang tampil sebagai sosok yang lebih seperti petinju kelas ringan yang percaya diri berlebihan, berbeda dari ragam interpretasi Ryan sebelumnya.
Di ranah aksi, film menawarkan kejar-kejaran mobil yang cukup menghibur dan beberapa baku tembak berskala besar. Sutradara Andrew Bernstein menjaga ritme agar tetap cepat. Namun, keseruan aksi dinilai terbatas dan terasa seperti masih berada dalam skala layar kecil, dengan intrik global yang hanya muncul sekilas. Klimaksnya berlangsung di gedung pencakar langit yang sedang dibangun dan tampak anonim, yang dinilai tidak memberi dampak besar sebagai puncak film.
Bagi penggemar serialnya, film ini dapat menjadi ajang reuni bagi Krasinski, Pierce, Kelly, dan Betty Gabriel, sekaligus memperkenalkan Sienna Miller sebagai tambahan yang menonjol. Film juga membuka peluang untuk kelanjutan waralaba dalam format layar lebar. Namun secara keseluruhan, Jack Ryan: Perang Hantu dipandang lebih sebagai kelanjutan yang “cukup” daripada lompatan besar, dengan skala dan daya tarik yang belum sepenuhnya membenarkan perpindahan dari serial ke film.