Hujan deras yang memicu banjir bandang di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, pada Minggu (28/12/2025) meninggalkan kerusakan di sejumlah wilayah. Sedikitnya 27 desa yang tersebar di tujuh kecamatan sempat terendam banjir, membuat warga menghentikan aktivitas dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Seiring air yang berangsur surut, warga mulai kembali ke rumah untuk melakukan pemulihan. Perabot rumah tangga dibersihkan, lumpur dikeluarkan, dan kerusakan yang ada diperbaiki secara seadanya sambil menunggu proses pemulihan pascabencana.
Pemerintah Kabupaten Balangan menyatakan penanganan telah memasuki fase darurat transisi pascabencana. Pada tahap ini, fokus bergeser dari evakuasi dan bantuan darurat menuju pemulihan kehidupan masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Balangan, Rahmi, menyebut fase transisi menjadi penting karena menyangkut pemulihan nyata bagi warga terdampak. “Ini bukan lagi sekadar bantuan darurat. Yang kami dorong sekarang adalah bagaimana warga bisa benar-benar pulih dan kembali menjalani kehidupan normal,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Selasa (5/1/2026).
Salah satu dampak yang paling dirasakan adalah kerusakan rumah warga. Pemerintah daerah menyiapkan bantuan perbaikan rumah dengan besaran yang disesuaikan tingkat kerusakan. Penilaian teknis dilakukan oleh Dinas PUPR Balangan untuk memastikan bantuan tepat sasaran karena tidak diberikan secara merata.
“Nilainya berbeda-beda, tergantung hasil verifikasi. Ada kategori rusak ringan, sedang, sampai berat,” kata Rahmi.
Selain permukiman, banjir bandang juga berdampak pada lahan pertanian dan perkebunan warga. Sejumlah lahan dilaporkan terendam dan rusak sehingga petani terancam kehilangan mata pencaharian. Pemulihan sektor pertanian menjadi perhatian pemerintah daerah melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Balangan agar petani dapat kembali berproduksi.
Dampak lainnya dirasakan di sektor pendidikan. Banyak anak kehilangan seragam dan perlengkapan sekolah akibat terendam banjir. Dinas Pendidikan Kabupaten Balangan telah mendata kebutuhan seragam dan alat belajar mulai dari PAUD, SD, hingga SMP, termasuk sekolah di bawah naungan Kementerian Agama.
“Anak-anak harus bisa kembali sekolah tanpa beban,” ujar Rahmi.
Di luar kerusakan fisik, pemerintah daerah juga menaruh perhatian pada trauma psikologis, terutama pada anak-anak. Untuk itu, disiapkan program Rumah Healing sebagai ruang pemulihan trauma. “Bencana ini meninggalkan rasa takut. Rumah Healing kami siapkan agar pemulihan anak-anak tidak setengah-setengah,” tambahnya.
Meski banjir bandang disebut telah surut di seluruh wilayah Balangan, proses pemulihan masih berjalan. Pemerintah daerah bersama lintas satuan kerja perangkat daerah terus berkoordinasi agar penanganan pascabencana menjangkau kebutuhan masyarakat di 27 desa terdampak.

