BERITA TERKINI
Altruisme, Kesenangan Sederhana, dan PERMA: Membaca “Keys to the Heart” sebagai Refleksi Kebahagiaan

Altruisme, Kesenangan Sederhana, dan PERMA: Membaca “Keys to the Heart” sebagai Refleksi Kebahagiaan

Film Keys to the Heart (2018) dibaca sebagai kisah tentang upaya menemukan kebahagiaan yang tidak berhenti pada pencapaian besar, melainkan bertumbuh dari relasi, empati, dan keberanian menghadapi luka. Dalam refleksi ini, perhatian diarahkan pada altruisme, kesenangan sederhana ala Epikuros, serta kerangka kesejahteraan PERMA yang diperkenalkan Martin Seligman.

Salah satu tokoh yang kerap luput dari sorotan adalah Ga Yool, seorang pianis legendaris yang juga memikul trauma. Kehadirannya dalam cerita dipahami sebagai penanda penting altruisme: ia mendekati Jin Tae bukan untuk dikenal atau dipuji, melainkan karena melihat luka yang serupa. Ga Yool digambarkan memberi bukan dari posisi “berlebih”, tetapi justru dari kekurangan dan pergulatannya sendiri. Dari situ, empati muncul bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai respons manusiawi terhadap penderitaan yang pernah dialami.

Refleksi tersebut disandingkan dengan temuan ilmiah. Studi longitudinal yang dimuat dalam British Journal of Developmental Psychology (Johnson dkk., 2025) disebut menemukan bahwa pengalaman emosi mendalam pada anak—seperti kecemasan atau kesedihan—dapat memprediksi munculnya perilaku prososial altruistik di kemudian hari. Altruisme dipahami sebagai tindakan menolong tanpa mengharapkan imbalan, bahkan kadang melibatkan pengorbanan, yang lahir dari empati dan kepedulian terhadap kebutuhan orang lain.

Di titik ini, refleksi juga mempertemukan sains dengan pandangan spiritualitas sufi yang memaknai penderitaan sebagai cara Tuhan “memanggil” manusia untuk menyebarkan kasih sayang kepada sesama. Dalam kerangka itu, Ga Yool hadir bukan karena hidupnya bebas luka, melainkan karena pengalaman luka membuatnya mampu memahami penderitaan Jin Tae.

Namun altruisme tidak selalu sesederhana memberi tanpa pamrih. Penelitian di Current Psychology (Wang & Liu, 2025) yang dikutip dalam tulisan ini menunjukkan bahwa keputusan menolong dapat dipengaruhi emosi yang beragam. Rasa syukur bisa mendorong seseorang membantu pihak yang pernah menolongnya, sementara rasa berutang budi dapat memicu dorongan menolong di masa depan. Dengan demikian, altruisme dipandang tumbuh melalui pengalaman emosional dan relasi antarmanusia yang kompleks.

Refleksi kemudian beralih pada Epikureanisme. Epikuros mengajarkan bahwa kesenangan tertinggi adalah ataraxia, ketenangan batin saat jiwa terbebas dari kegelisahan, yang lahir dari hidup sederhana dan persahabatan tulus. Dalam pembacaan atas film, kebahagiaan paling kuat tidak digambarkan muncul ketika tokoh meraih kemenangan besar atau menerima tepuk tangan, melainkan pada momen-momen kecil: duduk bertiga di dapur kecil menikmati mi instan sambil tertawa, atau bermain piano bersama tanpa tekanan dan tanpa tujuan tertentu. Kebahagiaan, dalam kacamata ini, hadir dari kesederhanaan dan kehadiran satu sama lain.

Bagian berikutnya menempatkan film dalam kerangka PERMA—Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaning, dan Accomplishment—yang dirumuskan Martin Seligman sebagai unsur kesejahteraan otentik. Positive Emotion terlihat dalam kebahagiaan kecil yang mereka rasakan bersama. Engagement tergambar ketika Jin Tae bermain piano dan tenggelam dalam aliran musiknya. Relationship menjadi inti cerita, terutama saat Jo Ha yang awalnya hidup sendiri perlahan merasa utuh karena kehadiran Jin Tae, In Sook, dan Ga Yool. Meaning muncul ketika Jin Tae menyadari kehadirannya membawa peran, termasuk mengajarkan kesabaran kepada kakaknya. Sementara Accomplishment tidak ditekankan sebagai ketenaran, melainkan keberhasilan Jo Ha membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu dan berharga.

Kerangka PERMA juga ditunjukkan tidak berhenti sebagai teori. Studi dalam Early Childhood Research Quarterly (Chen dkk., 2026) yang menguji program satu tahun—mengintegrasikan model PERMA dengan pendekatan dukungan perilaku positif (SWPBS)—disebut menemukan peningkatan kesejahteraan guru serta perkembangan keterampilan regulasi diri pada anak prasekolah. Temuan itu dipakai untuk menegaskan bahwa PERMA dapat diterapkan dalam program nyata guna menciptakan lingkungan yang lebih sehat secara psikologis.

Di bagian epilog, refleksi merangkum pesan utama melalui sebuah metafora “kunci” yang diparafrasakan dari dialog Jin Tae: kunci menuju hati bukan untuk membuka hati orang lain, melainkan untuk membuka hati sendiri. Manusia, dalam pandangan ini, kerap mengunci hati dengan amarah dan dendam lalu menunggu dunia membukanya, padahal kuncinya ada di tangan sendiri.

Berbagai gagasan filsafat dan sains kemudian dipertemukan pada kesimpulan yang sama: kebahagiaan tidak selalu bisa dikejar secara langsung, melainkan sering hadir sebagai hasil dari keberanian menjalani hidup bersama orang lain, kesiapan menerima hal-hal yang tak dapat diubah, serta kesediaan membuka hati meski ada risiko terluka. Pertanyaan yang ditinggalkan refleksi ini sederhana: maukah manusia “memutar kunci” itu?

Catatan: Kutipan dialog yang disebut dalam refleksi merupakan parafrase interpretatif berdasarkan adegan film, bukan terjemahan resmi subtitle.