Segelas kopi kerap menjadi bagian dari rutinitas pagi banyak orang. Di balik fungsinya sebagai pengusir kantuk, muncul pertanyaan yang sering dibahas: apakah kopi benar-benar bisa membuat hidup lebih bahagia, atau efeknya hanya sementara karena kafein?
Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir mencoba menjawabnya. Studi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health (2023) melaporkan bahwa orang yang minum kopi 2–3 cangkir per hari memiliki risiko lebih rendah mengalami depresi dibanding mereka yang jarang mengonsumsi kopi. Penjelasan yang diajukan antara lain terkait peran kafein dalam meningkatkan pelepasan dopamin dan serotonin, dua senyawa di otak yang kerap dikaitkan dengan pengaturan suasana hati.
Temuan lain datang dari University of South Australia (2024). Penelitian ini menyebut konsumsi kopi dalam kategori moderat, sekitar 3–4 cangkir per hari, berkorelasi positif dengan peningkatan mood, kewaspadaan, serta rasa puas terhadap rutinitas harian. Dalam konteks ini, kopi dinilai dapat memberi efek ganda: membantu tetap terjaga sekaligus mendukung suasana hati.
Meski demikian, dampak kopi terhadap kebahagiaan tidak berlaku sama untuk semua orang. Para peneliti menekankan adanya faktor pembeda, mulai dari dosis hingga kondisi tubuh. Konsumsi berlebihan dapat memicu efek sebaliknya, seperti kecemasan dan insomnia. Selain itu, individu yang sensitif terhadap kafein bisa mengalami rasa gelisah meski hanya minum dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.
Faktor genetika juga disebut berperan. Penelitian di Nature Human Behaviour (2023) menunjukkan variasi gen dapat memengaruhi cara tubuh memetabolisme kafein, sehingga respons tiap orang terhadap kopi bisa berbeda.
Di luar aspek kimiawi, kopi juga sering dipahami sebagai aktivitas sosial. Studi dari Yale University (2024) menyatakan bahwa kebiasaan minum kopi bersama orang lain dapat meningkatkan rasa keterhubungan dan solidaritas. Dalam konteks ini, “ngopi” tidak semata-mata soal minuman, melainkan juga ruang interaksi yang dapat memperkuat hubungan sosial—yang pada sebagian orang berkaitan dengan rasa bahagia.
Kopi juga kerap dikaitkan dengan produktivitas dan kreativitas. Penelitian di Journal of Psychopharmacology (2023) menyebut kafein dapat meningkatkan fokus dan kewaspadaan, namun efeknya terhadap kreativitas dinilai lebih kompleks. Kopi dapat membantu menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi, tetapi kreativitas tidak selalu muncul dalam kondisi yang sangat terstimulasi dan bisa lebih mudah muncul ketika otak lebih rileks.
Di sisi lain, ada catatan terkait risiko bila konsumsi melampaui batas moderat. Studi di Mayo Clinic Proceedings (2023) mengingatkan bahwa konsumsi lebih dari 6 cangkir kopi per hari dapat meningkatkan risiko hipertensi, kecemasan, serta gangguan tidur. Artinya, manfaat yang dirasakan pada sebagian orang dapat berubah menjadi dampak negatif apabila asupan terlalu tinggi.
Secara keseluruhan, temuan sains menunjukkan kopi dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung suasana hati, tetapi sifatnya tidak absolut. Efeknya bergantung pada jumlah konsumsi, sensitivitas tubuh, faktor genetik, serta konteks sosial saat kopi dikonsumsi. Kopi bisa membantu sebagian orang merasa lebih baik, namun bukan satu-satunya penentu kebahagiaan.