Sejumlah anak muda Korea Selatan mulai mengalihkan perhatian dari K-pop ke musik trot, genre lama yang selama ini identik dengan pendengar generasi lebih tua. Pergeseran minat ini disebut dipengaruhi rasa jenuh terhadap industri idol yang dinilai semakin mahal, kompetitif, dan kerap diwarnai kontroversi, sementara trot menawarkan suasana yang dianggap lebih sederhana dan hangat.
Di kolom komentar sebuah artikel Hankook Ilbo yang membahas meningkatnya ketertarikan kelompok usia 20-an dan 30-an terhadap trot, muncul respons yang menggambarkan kekecewaan sebagian publik pada dunia K-pop. Komentar tersebut menyebut penyanyi trot dinilai lebih berbakat dan bersikap lebih baik dibanding beberapa idol K-pop yang terseret skandal, serta menyoroti latar hidup keras sejumlah penyanyi trot yang dianggap membentuk tekad mereka untuk bangkit.
Nada kecewa itu juga terkait rangkaian kontroversi yang berulang di dunia idol, mulai dari polemik wajib militer hingga penyelidikan pemerintah terkait dugaan penggelapan pajak. Situasi tersebut turut memberi gambaran mengapa sebagian pendengar muda mencari alternatif di luar arus utama K-pop.
Apa itu musik trot
Trot merupakan genre musik populer Korea yang telah hadir jauh sebelum K-pop. Genre ini dipengaruhi musik enka Jepang dan gaya musik Barat, serta pernah mendominasi industri musik Korea Selatan selama puluhan tahun. Ketika K-pop kemudian menguasai tangga lagu, trot tetap dicintai generasi lebih tua, sementara di mata sebagian anak muda genre ini sempat dianggap kuno dan perlahan dicap norak.
Belakangan, citra tersebut mulai berubah. Trot kini menikmati kebangkitan dan semakin populer di kalangan pendengar muda Korea.
Jenuh terhadap K-pop
The Korea Times menyoroti bahwa naiknya popularitas trot tidak semata soal perubahan selera musik, melainkan juga kekecewaan sebagian penggemar lama K-pop terhadap cara kerja industri idol. Kim, perempuan berusia 20-an, mengaku memutuskan meninggalkan K-pop setelah merasa diperlakukan tidak layak oleh sistem keamanan dan penyelenggaraan acara.
Ia menceritakan pernah membeli lebih dari 40 album demi kesempatan menghadiri fan meeting, tetapi tetap harus menjalani pemeriksaan tubuh yang sangat ketat. Dalam kesempatan lain, ketika datang ke bandara untuk melihat grup favoritnya, ia mengaku didorong petugas keamanan hingga jatuh meski berada jauh dari para member. Ia tidak terluka, namun pengalaman itu membuatnya mempertanyakan alasan untuk tetap menjadi penggemar jika diperlakukan demikian.
Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian penggemar K-pop menggunakan istilah “Chandala”—yang merujuk kasta sosial terendah di India—untuk menggambarkan perasaan mereka saat berhadapan dengan agensi hiburan. Keluhan tersebut memuncak ketika petugas keamanan di sebuah fan meeting memeriksa pakaian dalam penggemar dengan alasan mencegah perekaman ilegal.
Selain persoalan perlakuan terhadap penggemar, konsep K-pop modern juga dinilai semakin rumit. Contoh yang disebut adalah Kwangya, dunia fiksi yang dikembangkan SM Entertainment dan menjadi bagian penting dari identitas aespa sejak debut. Kwangya digambarkan sebagai dunia virtual atau dimensi digital dengan elemen avatar AI, metaverse, dunia paralel, hingga tokoh villain virtual bernama Black Mamba. Karena penuh istilah dan alur cerita, konsep ini kerap dianggap sebagai simbol kompleksitas K-pop yang semakin sulit diikuti publik umum.
Perubahan selera juga terlihat dalam momen penampilan BIGBANG di festival Coachella, Amerika Serikat, bulan lalu. Disebutkan bahwa sorakan paling keras dari penonton bukan muncul saat lagu hit global mereka dibawakan, melainkan ketika Daesung menyanyikan lagu trot miliknya, “Look at Me, Gwin”.
Trot dianggap lebih hangat
Sejumlah anak muda yang beralih ke trot menggambarkan genre ini sebagai ruang yang lebih menerima. Kim, misalnya, memilih mengikuti Lim Young-woong. Suasana di luar venue pertunjukan trot juga digambarkan berbeda: pada musim dingin, tenda didirikan agar penonton lansia tetap hangat, sementara anak-anak mereka yang sudah dewasa menunggu untuk mengantar orang tua pulang setelah konser.
Sebuah foto yang memperlihatkan petugas muda menggendong seorang lansia di punggungnya pada sebuah pertunjukan trot bahkan sempat viral. Hankook Ilbo melaporkan bahwa dalam budaya trot, konsep “melayani” bukan sekadar gestur, melainkan nilai penting yang terkait norma berbakti kepada orang tua. Melayani penonton yang banyak berusia lanjut dan tidak terbiasa dengan konser live disebut menjadi bagian utama dari budaya pertunjukan trot.
Gambaran tersebut kontras dengan pengalaman sebagian penggemar K-pop yang merasa diawasi, diatur, atau diperlakukan sebagai ancaman potensial.
K-pop makin tak terjangkau
Pergeseran tidak hanya terjadi di sisi penggemar. Semakin banyak musisi usia 20-an dan 30-an yang masuk ke trot, seiring anggapan bahwa dunia K-pop semakin sulit ditembus. Salah satu indikatornya adalah biaya produksi yang meningkat tajam. Disebutkan, agensi i-dle menghabiskan 1,1 miliar won untuk video musik “Super Lady”. Sementara pada era 2000-an, video musik grup seperti BIGBANG, Wonder Girls, dan Girls’ Generation kabarnya berada di kisaran 110 juta won hingga 220 juta won—menunjukkan kenaikan biaya produksi setidaknya lima kali lipat untuk level papan atas.
Hierarki industri juga terlihat di tangga lagu. Berdasarkan Circle Chart yang melacak konsumsi musik dari sembilan platform domestik dan global, tujuh dari 20 lagu paling banyak diputar tahun lalu berasal dari grup idol K-pop, termasuk “Whiplash” milik aespa. Lagu-lagu tersebut diproduksi oleh agensi besar seperti SM Entertainment atau afiliasinya, dan tidak ada lagu grup idol dari agensi kecil yang masuk daftar tersebut.
Situasi ini berbeda dibanding satu dekade lalu. Pada 2014, setidaknya tiga lagu dari agensi kecil berhasil masuk 20 besar tahunan: “Mr. Chu” milik Apink (Play M Entertainment) di posisi ketujuh, “Not Spring, Love, or Cherry Blossoms” dari High4 dan IU (N.A.P Entertainment) di posisi kedelapan, serta “Something” milik Girl’s Day (Dream T Entertainment) di posisi kesembilan.
Dalam sepuluh tahun terakhir, perusahaan menengah dan kecil yang dulu dianggap sebagai batu loncatan bagi idol baru disebut semakin kesulitan mengantarkan artisnya ke tangga lagu unggulan. Uang dan pengaruh industri dinilai kian menentukan keberhasilan grup baru. Kondisi ini disebut membuat lebih banyak grup bubar sebelum kontrak eksklusif tujuh tahun berakhir, termasuk Luminous dan Purple Kiss.
Seorang CEO agensi menengah yang telah lebih dari 20 tahun menangani grup K-pop, dikutip The Korea Times, mengatakan bahwa dua puluh tahun lalu agensi besar menghabiskan sekitar 500 juta won hingga 1 miliar won untuk memproduksi satu album. Kini, biaya disebut dimulai dari minimal 5 miliar won.
Generasi baru trot
Trot digambarkan sebagai genre yang bertumpu pada stabilitas dan tradisi, bukan perubahan. Kim Sung-yoon, peneliti penuh waktu di Institute for Convergence Knowledge and Society, Dong-A University, menyebut trot sebagai “alat ajaib yang sejenak memutar kembali waktu atau menahannya tetap jalan di tempat.” Ia menafsirkan tren ini sebagai reaksi terhadap kejenuhan akibat kompetisi berlebihan dan stimulasi tanpa henti.
Di tengah perubahan tersebut, trot mulai dilihat sebagai jalur karier yang lebih memungkinkan bagi generasi muda. Ha Dong-geun, yang debut sebagai penyanyi trot di usia 20-an, mengatakan kepada Hankook Ilbo bahwa ia memilih genre itu karena ingin tetap bisa tampil di atas panggung bahkan ketika usianya bertambah.
Perubahan juga terasa di akademi musik. Lee Ho-seop, guru vokal dan komposer yang berada di balik lagu trot populer seperti “Let’s Do the Cha-cha-cha” dan “Chan Chan Chan”, mengatakan kepada Hankook Ilbo bahwa lima tahun lalu tidak ada remaja yang ingin belajar trot. Namun kini, mayoritas muridnya justru remaja. Ia menyebut perubahan terbesar adalah anak-anak sekarang mengaku belajar trot dengan bangga, sementara dulu mereka cenderung merahasiakannya.