Isu yang Membuatnya Menjadi Tren
Nama Victoria Kosasie mendadak ramai dibicarakan karena satu hal yang terasa dekat, namun jarang diucapkan: arsip keluarga bisa menjadi seni, sekaligus kesaksian sejarah.
Berita tentang performansnya yang lahir dari memoar sang nenek, lalu berujung pengakuan di Bandung Contemporary Art Awards (BACAA), memantik rasa ingin tahu publik.
Di tengah banjir konten cepat, kisah ini menawarkan sesuatu yang pelan. Ia mengajak orang menengok kembali rumah, ingatan, dan luka yang lama disimpan.
-000-
Tren ini juga menguat karena Victoria tidak berhenti pada panggung kompetisi. Sepulang dari London, ia meluncurkan platform kemBALIkeSENI di Pulau Dewata.
Platform itu disebut sebagai ruang bagi seniman untuk bereksplorasi, dengan gagasan keberlanjutan. Dari berita yang beredar, inisiatifnya berangkat dari pengalaman personal.
Di sini, publik melihat pola yang familiar. Banyak anak muda Indonesia menimba ilmu di luar negeri, lalu pulang dengan pertanyaan: apa yang bisa dibangun di rumah sendiri.
-000-
Ada pula lapisan lain yang membuatnya viral. Victoria disebut sebagai finalis Putri Indonesia 2026 perwakilan Bali, dan ia tegas membawa tema keberagaman serta feminisme.
Ketika seni, pendidikan global, dan panggung publik bertemu, perhatian meluas. Orang tidak hanya membicarakan karya, tetapi juga posisi sosial pembuatnya.
Di titik itulah berita ini menjadi lebih dari profil seniman. Ia berubah menjadi percakapan tentang identitas, ingatan, dan arah kebudayaan.
Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Meledak di Percakapan Publik
Alasan pertama adalah kedekatan emosional. Arsip keluarga adalah benda paling privat, namun hampir semua orang memilikinya dalam bentuk yang berbeda.
Ketika memoar nenek yang tak pernah dibahas di keluarga diangkat menjadi performans, publik menangkap ketegangan universal antara diam dan bicara.
Di banyak rumah, ada cerita yang ditutup rapat karena dianggap memalukan, terlalu sakit, atau terlalu rumit. Seni menjadi cara yang aman untuk membukanya.
-000-
Alasan kedua adalah resonansi sejarah. Catatan nenek Victoria memuat perjuangan sebagai perempuan dan pengalaman bertahan pada masa penjajahan Jepang.
Di Indonesia, sejarah sering hadir sebagai tanggal dan nama besar. Namun publik selalu haus pada sejarah yang berwujud manusia biasa.
Memoar keluarga menghadirkan sejarah dari bawah. Ia mengembalikan peristiwa besar ke skala tubuh, rumah, dan pilihan kecil untuk bertahan.
-000-
Alasan ketiga adalah narasi kepulangan dan keberlanjutan. Victoria pulang dari London, lalu menginisiasi kemBALIkeSENI sebagai ruang eksplorasi di Bali.
Ini menyentuh debat yang terus berulang. Apakah pengalaman global hanya menjadi prestise pribadi, atau bisa menjadi energi kolektif.
Publik cenderung merayakan kisah ketika pencapaian pendidikan tidak berhenti sebagai gelar, melainkan diterjemahkan menjadi kerja ekosistem.
Dari Central Saint Martins hingga Bali: Jalur yang Membentuk Cara Bercerita
Victoria Kosasie, 26 tahun, menempuh Bachelor of Arts (Honours) in Fine Art di Central Saint Martins, University of the Arts London, dan meraih First Class Honours.
Ia melanjutkan Master of Arts in Contemporary Art Practice di Royal College of Art, London, dengan dukungan Deputy Vice-Chancellor's International Scholarship.
Detail pendidikan ini penting bukan untuk menyanjung, melainkan untuk memahami bahasa artistik yang ia bawa pulang: riset, konteks, dan eksperimen medium.
-000-
Di berita yang sama, disebut ibunya seorang penari tango dan aktif berkarya di skena seni Tanah Air. Lingkungan keluarga, lagi-lagi, menjadi sumber energi kreatif.
Namun titik baliknya justru terjadi saat pandemi. Victoria dan keluarga pulang ke Jawa Timur, lalu kembali membuka arsip keluarga yang lama tertutup.
Di situ ia menemukan memoar neneknya, catatan yang tidak pernah dibahas. Ia memilih mengolahnya menjadi performans tentang kisah yang disembunyikan lalu dipublikasikan.
-000-
Performans itu ia kirimkan ke BACAA pada 2022, ketika menyelesaikan tugas akhir. Karyanya menang, dan sambutan yang meriah mengejutkannya.
Kemenangan ini bukan sekadar prestasi. Ia menandai pergeseran: pengalaman keluarga yang personal dapat diterima sebagai wacana publik.
Di sini seni bekerja sebagai jembatan. Ia menghubungkan ruang tamu dan galeri, bisik-bisik keluarga dan diskusi kebudayaan.
Arsip Keluarga sebagai Politik Ingatan
Arsip keluarga sering dipahami sebagai benda pasif. Foto, surat, buku harian, atau memoar dianggap hanya pelengkap nostalgia.
Namun ketika arsip diolah menjadi performans, ia berubah menjadi tindakan. Ia menjadi cara memilih apa yang diingat, dan apa yang akhirnya diakui.
Dalam konteks ini, seni bukan dekorasi. Ia adalah kerja ingatan, dan ingatan selalu punya dimensi politik.
-000-
Memoar nenek Victoria bercerita tentang hidup sebagai perempuan dan bertahan di masa penjajahan Jepang. Ada dua lapisan yang saling mengunci.
Pertama, lapisan kolonialisme yang membekas pada keluarga-keluarga Indonesia. Kedua, lapisan gender yang sering membuat pengalaman perempuan tersisih dari narasi resmi.
Ketika catatan itu lama disembunyikan, kita melihat mekanisme yang lazim. Trauma kerap diwariskan bukan lewat cerita, melainkan lewat keheningan.
-000-
Di sinilah pendekatan kontemplatif menjadi penting. Banyak keluarga memilih diam demi bertahan, namun diam juga bisa menjadi penjara bagi generasi berikutnya.
Dengan mempublikasikan kisah yang dulu disembunyikan, Victoria menempuh risiko sosial. Ia menukar kenyamanan privat dengan kemungkinan penyembuhan kolektif.
Publik menangkap keberanian itu. Bukan karena semua orang setuju, tetapi karena banyak orang memahami beban yang menyertai keputusan tersebut.
Riset yang Relevan: Mengapa Seni Berbasis Arsip Menguat
Dalam studi memori, peneliti sering membedakan ingatan personal dan ingatan kolektif. Keduanya saling memengaruhi, terutama ketika pengalaman pribadi dibagikan ke ruang publik.
Di ranah seni kontemporer, praktik berbasis arsip berkembang karena ia menawarkan bukti, detail, dan kedekatan yang tidak selalu dimiliki narasi besar.
Arsip memberi tekstur. Ia menghadirkan tanggal, tulisan tangan, jeda kalimat, dan hal-hal kecil yang membuat sejarah terasa manusiawi.
-000-
Riset tentang trauma juga kerap menekankan bahwa pengalaman ekstrem tidak selalu mudah diceritakan secara langsung. Ia muncul lewat fragmen, simbol, atau pengulangan.
Karena itu, medium performans menjadi relevan. Tubuh dapat menyampaikan sesuatu yang sulit ditampung bahasa, tanpa harus mengubahnya menjadi laporan kronologis.
Dalam berita, Victoria menyebut ia ingin membuat performans tentang momen itu. Pilihan medium ini sejalan dengan kecenderungan seni sebagai ruang pengolahan emosi.
-000-
Ada pula riset pendidikan seni yang menyoroti pentingnya ekosistem, bukan hanya individu. Seniman membutuhkan ruang, jaringan, dan kesempatan untuk bertemu publik.
Ketika Victoria membangun kemBALIkeSENI, ia menempatkan praktik kreatif dalam kerangka keberlanjutan. Ini menggeser fokus dari karya tunggal ke infrastruktur.
Di Indonesia, isu ekosistem seni sering terkait dengan akses, kesenjangan pusat dan daerah, serta keberlangsungan ruang kreatif yang rapuh.
Isu Besar Indonesia: Pendidikan Global, Ekosistem Lokal, dan Suara Perempuan
Kisah Victoria menyentuh isu brain circulation, bukan sekadar brain drain. Ia memperlihatkan kemungkinan arus balik pengetahuan dari luar negeri ke konteks lokal.
Indonesia membutuhkan lebih banyak pola seperti ini, bukan sebagai mitos kepulangan heroik, melainkan sebagai kerja nyata membangun ruang dan jejaring.
Jika tidak, pengalaman global hanya menjadi simbol status, sementara ekosistem di dalam negeri tetap berjalan tanpa dukungan yang memadai.
-000-
Isu kedua adalah pelestarian sekaligus pembaruan tradisi. Victoria pernah menarikan tari bedhaya bersama enam penari lain di perayaan ulang tahun CAN's Gallery.
Peristiwa itu mengingatkan bahwa tradisi bukan museum. Ia hidup ketika diberi ruang tampil, dipelajari, dan dipahami ulang oleh generasi yang berbeda.
Bali, sebagai ruang yang disebut dalam kemBALIkeSENI, juga berada dalam ketegangan antara pariwisata, komersialisasi budaya, dan kebutuhan ruang kreatif yang sehat.
-000-
Isu ketiga adalah feminisme dan keberagaman, yang disebut Victoria sebagai tema karya-karyanya. Ini penting karena perdebatan soal kesetaraan sering terjebak slogan.
Memoar neneknya memberi contoh konkret: bagaimana seorang perempuan bertahan di zamannya. Pengalaman seperti ini membuat wacana feminisme berakar pada realitas.
Ketika seni mengangkat pengalaman perempuan lintas generasi, ia memperluas pemahaman publik tentang sejarah, kerja perawatan, dan daya tahan yang sering tak tercatat.
Rujukan Luar Negeri: Ketika Arsip Pribadi Menjadi Panggung Dunia
Di luar negeri, seni berbasis arsip keluarga juga berkali-kali menjadi pusat perhatian. Polanya serupa: dokumen privat dipakai untuk membaca sejarah yang lebih luas.
Salah satu contoh yang sering dibahas adalah karya-karya yang mengolah foto keluarga, surat, atau catatan harian untuk menyingkap perang, migrasi, dan diskriminasi.
Praktik ini menunjukkan bahwa pengalaman personal dapat menjadi pintu masuk yang kuat untuk memahami kekerasan struktural.
-000-
Ada pula tradisi teater dan performans dokumenter di berbagai negara, yang menggunakan kesaksian, arsip, dan ingatan sebagai materi artistik.
Ketika dokumen dibawa ke panggung, penonton tidak hanya menilai estetika. Mereka juga berhadapan dengan pertanyaan etika: siapa yang berhak bercerita.
Isu etika ini relevan untuk semua praktik serupa, termasuk di Indonesia. Publik biasanya mendukung, namun juga menuntut kehati-hatian agar pengalaman keluarga tidak dieksploitasi.
-000-
Rujukan internasional itu membantu kita membaca kasus Victoria secara lebih konseptual. Ia berada dalam arus global seni kontemporer yang menempatkan arsip sebagai medan dialog.
Namun konteks Indonesia memberi bobot berbeda. Sejarah kolonial, kekerasan masa perang, dan budaya diam dalam keluarga memiliki bentuk yang khas.
Karena itu, penerimaan publik di Indonesia bukan sekadar mengikuti tren global. Ia menandai kebutuhan lokal untuk menemukan bahasa baru dalam merawat ingatan.
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik perlu menanggapi karya berbasis arsip dengan empati dan literasi. Tidak semua kisah keluarga bisa dipahami hanya dari potongan berita.
Jika karya itu memantik diskusi, diskusi sebaiknya fokus pada gagasan dan konteks, bukan menghakimi pilihan personal pembuatnya.
Rasa ingin tahu penting, tetapi harus disertai batas. Arsip keluarga adalah wilayah sensitif, dan penghormatan pada privasi tetap diperlukan.
-000-
Kedua, institusi seni dan pendidikan dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya ruang aman bagi eksperimen. Platform seperti kemBALIkeSENI bisa menjadi simpul kolaborasi.
Namun keberlanjutan tidak cukup dengan semangat. Ia membutuhkan dukungan ekosistem, termasuk akses ruang, kesempatan belajar, dan jembatan ke komunitas lokal.
Jika banyak inisiatif lahir, tantangannya adalah menjaga agar ruang kreatif tidak menjadi eksklusif, melainkan benar-benar bisa diakses seniman muda dengan latar beragam.
-000-
Ketiga, kita perlu memperluas pendidikan publik tentang sejarah melalui pengalaman manusia biasa. Memoar nenek Victoria adalah contoh bahwa sejarah hidup di rumah-rumah.
Komunitas, sekolah, dan keluarga dapat mulai merawat arsip secara sederhana. Mendengar cerita orang tua, menyimpan dokumen, dan memberi ruang bertanya tanpa menghakimi.
Langkah kecil ini penting agar generasi berikutnya tidak hanya mewarisi diam, tetapi juga mewarisi kemampuan mengolah masa lalu dengan jernih.
Penutup: Ketika Kepulangan Menjadi Cara Baru untuk Mendengar
Kisah Victoria Kosasie menegaskan bahwa seni kadang lahir bukan dari ide besar, melainkan dari keberanian membuka laci yang lama terkunci.
Ia mengolah memoar neneknya menjadi performans, memenangkan perhatian, lalu membawa pulang energi itu dalam bentuk platform kemBALIkeSENI.
Di tengah Indonesia yang terus bergerak cepat, cerita ini mengajak kita melambat. Mendengar yang tak sempat didengar, dan membaca yang lama tak dibaca.
-000-
Barangkali itulah sebabnya ia menjadi tren. Ia menyentuh kebutuhan paling manusiawi: diakui, dipahami, dan tidak sendirian dalam memikul sejarah keluarga.
Ketika arsip pribadi menjadi panggung publik, kita diingatkan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar selesai. Ia menunggu ditafsirkan dengan lebih adil.
Dan pada akhirnya, mungkin kita semua sedang mencari kalimat yang sama, kalimat yang menenangkan sekaligus menuntut: beranilah merawat ingatan.
“Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa mengubah cara kita memaknainya.”

