Awal 2026 diwarnai sejumlah perbincangan di dunia hiburan Indonesia. Salah satu yang ramai dibahas adalah Broken Strings, buku karya artis peran Aurelie Moeremans yang memuat kisah tentang trauma dan masa lalu kelamnya saat mengalami child grooming ketika masih remaja.
Meski kini berada di luar Indonesia, tulisan Aurelie memicu diskusi di media sosial dan kalangan hiburan. Dalam keterangannya melalui pesan WhatsApp, Aurelie menceritakan proses panjang di balik kelahiran buku tersebut, termasuk alasan ia memilih format e-book yang dapat diakses gratis saat pertama kali dirilis pada 2025.
Aurelie mengatakan ide dan cerita dalam Broken Strings telah ia simpan bertahun-tahun. Namun, proses menulisnya dilakukan secara intens dalam beberapa bulan. “Proses penulisannya sebenarnya cukup panjang. Ceritanya sudah aku simpan di kepala dan hati bertahun-tahun, tapi menulisnya sendiri aku lakukan secara intens dalam beberapa bulan,” ujar Aurelie, Rabu (14/1/2026).
Ia menekankan bahwa ia sengaja menulis dengan ritme pelan, bukan karena kehabisan ide, melainkan karena ingin berhati-hati. Menurutnya, setiap bagian perlu ditulis dengan jujur agar bisa mewakili perasaan pembaca yang mungkin mengalami hal serupa. “Ya aku nulis pelan-pelan, satu per satu, karena aku ingin setiap bagian ditulis dengan jujur dan hati-hati, bukan sekadar cepat selesai,” katanya.
Kejujuran, lanjut Aurelie, menjadi fondasi utama Broken Strings. Ia menyebut tulisan itu pada awalnya tidak ditujukan untuk konsumsi publik. Menulis menjadi cara untuk berbicara dengan dirinya sendiri sekaligus meluapkan trauma. “Awalnya bukan untuk konsumsi publik. Aku menulis sebagai bentuk kejujuran ke diri sendiri,” ucapnya.
Aurelie juga mengungkap alasan mengapa ia memilih menuangkan pengalaman itu lewat tulisan. Ia mengingat bagaimana upayanya bersuara di masa kecil justru berujung pada luka baru. “Dulu, waktu aku masih kecil dan mencoba bersuara, responsnya justru menyakitkan. Jadi ada trauma untuk bercerita,” tuturnya.
Seiring waktu, sudut pandangnya berubah. Aurelie menyadari pengalaman yang ia kira sepenuhnya personal ternyata juga dialami banyak orang lain, termasuk perempuan dan orang tua yang merasa sendirian. Dari kesadaran itu, ia memutuskan membagikan kisahnya melalui e-book gratis yang dapat diakses lewat tautan di media sosialnya. “Seiring waktu, aku sadar banyak perempuan dan orang tua mengalami hal serupa dan merasa sendirian. Dari situ aku merasa, mungkin ceritaku bisa jadi teman buat mereka,” katanya.
Bagi Aurelie, menulis Broken Strings juga menjadi bagian dari proses berdamai dengan masa lalu. Ia menegaskan buku ini tidak ditulis dengan semangat melawan atau membalas. “Menulis Broken Strings bukan tentang balas dendam atau membuka luka lama, tapi tentang memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa itu bagian dari hidupku,” ujarnya. Ia menambahkan, “Lewat buku ini, aku belajar berdamai tanpa harus membenarkan apa yang salah.”
Keputusan merilis e-book secara gratis, menurut Aurelie, bukan strategi pemasaran. Ia menyebut orientasi komersial bukan tujuan utama. “Karena dari awal tujuanku bukan komersial,” ujarnya. “Aku ingin ceritanya bisa diakses oleh siapa pun yang membutuhkan, tanpa hambatan.” Ia mengakui ada pembaca yang sekadar penasaran, namun ada pula yang benar-benar membutuhkan bacaan tersebut untuk merasa tidak sendirian. Ia menyebut versi buku fisik tetap disiapkan, sementara e-book gratis dianggap sebagai bentuk niat awalnya.
Dalam masa kehamilannya bersama Tyler Bigenho, Aurelie mengaku berada pada fase refleksi yang intens sehingga ia banyak menulis. Namun ia menegaskan Broken Strings tidak dirancang sebagai awal dari seri. “Selama hamil memang aku banyak menulis, karena aku lagi di fase refleksi yang dalam,” katanya. “Untuk Broken Strings, berdiri sendiri.”
Jika suatu hari menulis buku lagi, Aurelie menyebut tema yang diangkat kemungkinan masih beririsan dengan pengalaman perempuan, proses pulih, dan berdamai dengan diri sendiri, tetapi bukan kelanjutan langsung dari Broken Strings.
Aurelie juga mengaku tidak menyangka respons publik terhadap bukunya begitu besar, termasuk munculnya dukungan maupun polemik. “Jujur aku tidak menyangka,” ujarnya. “Awalnya aku pikir buku ini akan dibaca secara terbatas. Tapi ternyata responsnya besar sekali. Ada dukungan, ada juga polemik, dan itu aku terima sebagai bagian dari proses.”
Di antara beragam reaksi, hal yang paling menyentuh baginya adalah ketika perempuan muda dan orang tua menyampaikan bahwa tulisan tersebut membantu dan membuat mereka merasa terwakili. “Yang paling menyentuh buat aku adalah ketika perempuan muda dan orang tua bilang mereka merasa terbantu,” katanya. “Itu bikin semua ketakutan di awal terasa sepadan.”

