Bahasa di media sosial kerap terdengar lebih santai dibandingkan bahasa di buku pelajaran atau berita. Di ruang digital, terutama di kalangan Generasi Z, bahasa gaul dan meme tidak lagi dipandang sebagai tren sesaat, melainkan bagian dari cara berkomunikasi sehari-hari.
Generasi Z tumbuh bersama internet, media sosial, dan gawai pintar. Kebiasaan ini membentuk pola komunikasi yang cenderung singkat, visual, dan sarat humor. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter) menjadi ruang utama tempat bahasa gaul, emoji, dan meme dipakai untuk mengekspresikan perasaan, menyampaikan pendapat, hingga melontarkan kritik sosial.
Bahasa gaul juga tidak sekadar kumpulan kata yang dianggap kekinian. Istilah seperti “bestie”, “FOMO”, “flexing”, “gaskeun”, atau “ngab” mencerminkan cara berpikir sekaligus budaya komunikasi generasi muda. Dalam konteks budaya populer, penggunaan istilah tertentu dapat berfungsi sebagai penanda identitas. Orang yang memahami dan memakai kosakata yang sama kerap dianggap “satu frekuensi” dengan komunitasnya, sehingga bahasa menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas digital, bukan hanya alat penyampai pesan.
Sejumlah kajian menempatkan fenomena ini dalam kerangka budaya populer dan perkembangan media digital. Dominic Strinati dalam An Introduction to Theories of Popular Culture (1995) membahas budaya populer sebagai fenomena sosial yang berkaitan dengan nilai, ideologi, dan relasi kekuasaan, dengan meninjau beragam pendekatan teori. Sementara itu, Manovich dalam The Language of New Media (2001) menekankan bahwa media digital menciptakan bentuk komunikasi baru yang ditandai visual, fleksibilitas, dan interaktivitas. Dalam konteks Generasi Z, media sosial dipandang tidak hanya sebagai hiburan, melainkan bagian dari kehidupan sosial yang membentuk identitas dan relasi. Goodyear & Armour (2019) juga menyoroti peran bahasa, emoji, dan meme sebagai sarana ekspresi diri penting bagi generasi muda dalam membangun citra diri dan komunitas berbasis minat, humor, serta gaya hidup.
Di sisi lain, bahasa gaul dan meme juga mulai dimanfaatkan sebagai peluang karier, terutama dalam pemasaran digital. Gaya komunikasi santai dan humor visual di TikTok, misalnya, dinilai mampu menarik perhatian audiens, meningkatkan interaksi, dan mendorong penjualan.
Sejumlah akun TikTok memperlihatkan bagaimana meme dan slang dikomodifikasi menjadi alat promosi. Akun @IamFashionSungaiRumbai menggunakan bahasa gaul ringan dan meme untuk memasarkan produk fashion, sehingga promosi terasa lebih personal dan dapat mendorong pembelian impulsif melalui TikTok Shop. Akun @SumberWangi_Jombang mengemas produk rumah tangga dengan humor dan format meme untuk mendekatkan penjual dengan audiens dan meningkatkan efektivitas promosi. Strategi serupa juga tampak pada @OjilHanoyTheDiva yang memanfaatkan gaya bicara khas untuk membangun tingkat keterlibatan yang tinggi.
Fenomena tersebut menggambarkan komodifikasi budaya populer digital, ketika bahasa gaul, slang viral, dan meme dijadikan identitas konten untuk meningkatkan loyalitas pengikut sekaligus membuka peluang monetisasi. Dalam pola ini, iklan tidak lagi tampil kaku, melainkan dibentuk menyerupai konten hiburan yang relevan dengan keseharian Generasi Z. Sumber pendapatan kreator TikTok pun beragam, mulai dari Creator Fund, endorsement, afiliasi TikTok Shop, hingga promosi bisnis sendiri.

