BERITA TERKINI
Bleu Clair: Berangkat dari Kamar di Masa SMA, Menembus Panggung Dunia sebelum Diakui di Tanah Air

Bleu Clair: Berangkat dari Kamar di Masa SMA, Menembus Panggung Dunia sebelum Diakui di Tanah Air

Perjalanan Kurniawan Wicaksono di musik elektronik bermula dari kebiasaan sederhana saat masih duduk di kelas 3 SMA, sekitar 2012. Di kamar, ia menghabiskan waktu menonton YouTube dan mendengarkan musik Skrillex—genre yang kala itu belum sepopuler sekarang. Dari sana, ia mulai tertarik pada cara suara memicu emosi, struktur lagu yang bisa menabrak pakem, serta kesan “jujur” dalam musik meski tidak selalu terdengar rapi.

Kurniawan tidak berhenti sebagai pendengar. Ia menonton set DJ luar negeri berulang kali, mencatat tracklist, dan menelusuri label rekaman satu per satu. Kebiasaan riset itulah yang kemudian menjadi benih lahirnya Bleu Clair, bukan hanya sebagai DJ panggung, tetapi juga produser musik.

Lahir di Denpasar 30 tahun lalu, Kurniawan mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari Solo dan Yogyakarta. Ia menyebut kedua kota itu membentuk ritme hidupnya—lebih tenang dan membumi—serta memberi ruang untuk tenggelam dalam proses kreatif. Di masa ketika algoritma media sosial belum menjadi penentu karier, ia membangun langkahnya secara manual dengan rasa ingin tahu, kesabaran, dan ketekunan.

Titik balik besar terjadi pada 2015. Setelah dua tahun kuliah akuntansi di FEB Universitas Gadjah Mada, ia memutuskan berhenti dan memilih menekuni musik sepenuhnya. Keputusan itu, menurutnya, adalah langkah untuk mengejar tujuan hidup dari musik. Namun fase setelahnya tidak mudah. Pada 2016–2017, ia tampil di klub-klub Indonesia dengan sistem bagi hasil, bahkan kerap tanpa bayaran. Musik belum bisa memberi nafkah, dan tidak ada jaminan masa depan. Di fase ini, ia memilih bertahan.

Langkah yang mengubah arah kariernya datang pada 2018 lewat lagu berjudul Phone Call, yang ia buat bersama Irsan dan Devarra tanpa target pasar atau strategi besar. Ia mengirim lagu itu ke label indie Prancis, Noir Sur Blanc Records—pilihan yang disebutnya merupakan hasil riset bertahun-tahun tentang label yang sesuai dengan karakternya dan DJ yang berpotensi memainkannya.

Responsnya melampaui dugaan. Phone Call diputar oleh nama-nama besar seperti Skrillex, DJ Snake, Tchami, Malaa, dan DJ kelas dunia lainnya. Momen ketika Skrillex memainkan lagunya ia sebut sebagai pengalaman yang mengubah hidup. Dari satu rilisan, pintu industri global mulai terbuka—ironisnya ketika namanya masih nyaris tak terdengar di Indonesia.

Sejak awal, Bleu Clair memang menargetkan pasar global. Pendengar terbesarnya hingga kini berasal dari Amerika Serikat. Pada 2019, ia dijemput manajemen internasional, 2NIGHT Management. Lalu pada 2021, ia berkolaborasi dengan Martin Garrix lewat lagu Make You Mine. Di tahun yang sama, ia menjalani tur perdananya di Amerika Serikat: 14 kota, 14 panggung, di klub dan festival berbeda. Ia menyebut tur pertama itu sebagai momen ketika mimpinya benar-benar terjadi.

Karier globalnya berlanjut dengan penampilan di EDC Las Vegas (2021–2023), Tomorrowland Belgia, Lollapalooza Paris, Ushuaïa Ibiza, hingga Ministry of Sound London—panggung yang dulu hanya ia tonton lewat layar. Pada 2023, ia juga tampil di Djakarta Warehouse Project (DWP) Bali, mempertemukan perjalanan internasionalnya dengan panggung di Tanah Air.

Di Amerika Serikat, eksistensinya disebut terukur lewat capaian penjualan tiket: 1.000 tiket terjual habis di Academy LA dan 1.250 tiket di Exchange LA, sebuah capaian yang disebut jarang diraih DJ asal Asia Tenggara. Baginya, angka itu bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa namanya benar-benar dicari di tingkat internasional.

Dalam pandangannya, kultur DJ berbeda dengan band. Lagu bisa dimainkan DJ lain, dan hal itu justru menjadi bentuk pengakuan. Ia menyebut DJ sebagai taste maker. Sejak SMA dan kuliah, ia terbiasa mengamati set DJ luar negeri, mencatat, menelusuri label, dan mengirim demo—dengan strategi membuat musik yang ia sukai, seunik mungkin, serta siap ditolak. Penolakan datang berkali-kali, termasuk pengalaman hampir merilis lagu di label milik Skrillex, namun batal di detik terakhir.

Nama Bleu Clair dipilih tanpa filosofi rumit. Terinspirasi Daft Punk dan Tchami, ia menginginkan nama berbahasa Prancis yang terdengar kuat dan berbeda. Artinya sederhana: biru muda. Tak jarang orang mengira ia warga Prancis, dan kaget ketika ia menyebut dirinya orang Indonesia. Bagi Bleu Clair, pasar global tidak menilai asal negara, melainkan musik, branding, dan cara berinteraksi dengan audiens.

Pengakuan di dalam negeri datang bertahap. Pada AMI Awards 2022, Bleu Clair bersama Teza Sumendra memenangkan kategori Artis Solo Pria/Wanita/Grup/Kolaborasi Elektronika Terbaik lewat lagu Hyperspace. Pada AMI Awards ke-26 tahun 2023, ia kembali masuk nominasi kategori yang sama lewat karya Sand Dunes. Pada 28th AMI Awards 2025 yang digelar 19 November 2025, ia meraih penghargaan Artis Solo/Grup/Kolaborasi Dance Terbaik melalui kolaborasi dengan Jevin Julian di lagu Space & Time. Di tahun yang sama, ia juga masuk nominasi Artis Solo/Grup/Kolaborasi Elektronika Terbaik lewat lagu Places.

Bleu Clair juga menyoroti perbedaan budaya audiens Indonesia dan luar negeri. Menurutnya, di luar negeri orang datang ke klub untuk mendengar DJ dan lagu orisinalnya, sementara di Indonesia musik sering menjadi latar dari pengalaman sosial. Ia mencontohkan, di luar negeri orang meminta lagu miliknya, sedangkan di Indonesia ia kerap mendapat permintaan lagu luar. Ia menyebut ini bukan kritik, melainkan cerminan ekosistem yang berbeda.

Kini, Bleu Clair menyatakan sepenuhnya hidup dari musik, namun memilih tetap tinggal di Indonesia. Alasannya bukan soal pasar, melainkan kenyamanan dan makna rumah. Untuk generasi berikutnya, ia menilai tidak ada satu resep tunggal untuk mendunia karena musik, jaringan, timing, dan keberuntungan saling bertemu. Namun fondasinya, ia menekankan, tetap orisinalitas—ditambah branding serta konsistensi membuat konten.