JAKARTA — Penyanyi sekaligus produser asal Inggris, PinkPantheress, mengungkap proses kreatif di balik lagu hitnya, “Tonight”, yang belakangan viral. Melalui video yang diunggah di TikTok, ia menyebut lagu tersebut diproduksi hanya dengan mengandalkan keyboard bawaan laptop, tanpa perangkat studio yang mewah.
PinkPantheress, yang disebut sebagai pemenang Producer of the Year di BRIT Awards 2026, menjelaskan bahwa “Tonight” merupakan single utama dari mixtape keduanya, “Fancy That”, yang dirilis pada April tahun lalu. Dalam video tutorial singkat itu, musisi bernama asli Victoria Beverley Walker menunjukkan cara ia menyusun elemen musik secara manual.
Ia memanfaatkan fitur musical typing pada perangkat lunak Logic Pro untuk memasukkan melodi dan akor melalui tombol-tombol pada keyboard laptop. “Semua orang sangat baik memberikan apresiasi terhadap produksi musikku, jadi aku akan menunjukkan kepada kalian bagaimana aku membuat lagu 'Tonight' dari album 'Fancy That'. Hal pertama yang aku mulai adalah menentukan akornya seperti ini,” ujar PinkPantheress, dikutip Senin, 23 Maret.
Menurutnya, langkah tersebut sekaligus menjadi pesan bagi produser musik muda bahwa keterbatasan alat bukan penghalang untuk berkarya. Ia menilai pengontrol MIDI atau alat musik eksternal kerap berharga mahal bagi pemula. “Pengontrol MIDI bisa sangat mahal! Memasukkannya secara manual ke perangkat lunak apa pun yang kamu gunakan bisa bekerja dengan sama baiknya,” tambahnya.
Selain berbagi teknik produksi, PinkPantheress juga menyampaikan penghormatan kepada Panic! At The Disco. Lagu “Tonight” diketahui mengambil sampel dari lagu mereka pada 2008 berjudul “Do You Know What I’m Seeing?”. Ia menyebut karya-karya ikonik semacam itu bukan hanya menyentuh pendengar, tetapi juga memotivasi banyak orang untuk mengejar mimpi di industri musik.
Karier PinkPantheress disebut tengah menanjak. Selain “Tonight”, lagu lain dari mixtape yang sama, “Illegal”, dinobatkan sebagai lagu terbaik tahun ini oleh NME. Saat ditanya alasan musiknya digemari, ia mengatakan kekuatan ketukan serta penggunaan sampel menjadi faktor penting, di samping dorongan tren di TikTok. “Aku tidak tahu apakah ada alasan yang terlalu mendalam, selain bantuan tren di TikTok dan sampel musiknya yang memang abadi. Aku pikir kekuatan dari ketukan itu sendiri yang benar-benar disukai orang-orang,” pungkasnya.

