BERITA TERKINI
Bois Famous Maker: Perilis Single Harus Punya Konsep dan Strategi agar Lagu Dikenal Publik

Bois Famous Maker: Perilis Single Harus Punya Konsep dan Strategi agar Lagu Dikenal Publik

Tokoh pengembang artis dan peluncuran single, Bois Famous Maker, menilai perilisan lagu tidak bisa dilakukan sekadar “asal rilis”. Menurutnya, musisi dan tim perlu menyiapkan konsep serta strategi yang kuat agar karya yang diluncurkan mendapat perhatian dan didengar masyarakat.

“Perilis single itu wajib berpikir secara hebat dalam meng-hits-kan single atau lagunya saat diluncurkan, serta menjalani konsep dan strateginya secara totalitas. Agar masyarakat tertarik untuk mau mendengar lagunya dan melihat artis musiknya,” kata Bois Famous Maker saat ditemui di Radio Bola Koaidi, Rawamangun, Jakarta.

Ia menilai, salah satu masalah yang kerap terjadi adalah musisi pendatang baru, label musik, atau pihak terkait merilis lagu hanya dengan mendistribusikannya ke platform digital, lalu tidak melakukan langkah lanjutan. Pola seperti itu, menurut Bois, dapat membuat sebuah karya kehilangan momentum dan berujung tidak berkembang di publik.

Berdasarkan pengamatannya, hanya sekitar 25% pihak yang merilis lagu benar-benar memikirkan cara untuk membuat karya tersebut dikenal luas. Sementara sisanya, kata dia, cenderung “mempasrahkan” lagu kepada keadaan.

Bois juga menekankan pentingnya melihat lagu sebagai aset. Karena itu, proses peluncuran perlu dipersiapkan dengan serius, termasuk dari sisi perencanaan dan keberanian menjalankan konsep. Ia menyebut biaya promosi dan strategi bersifat relatif, bergantung pada konsep yang dipilih dan kesiapan eksekusinya.

“Untuk ongkos promo yang dijalankan atau konsep satrategi yang digunakan itu harganya relatif. Semuanya tergantung keberanian dalam menjalankan konsep briliant itu. Makanya dibutuhkan pemikiran yang mateng dan persiapan jauh-jauh hari,” ujarnya.

Bois memulai karier di bidang musik sejak masa kuliah di STP/IISIP Jakarta. Ia pernah menjadi promotor musik kampus pada 1994, 1995, dan 1996. Pada 1997, ia mendirikan manajemen artis yang menangani, antara lain, grup musik Stinky dan Base Jam yang berkantor di Jalan Jaksa, Menteng, Jakarta.

Pada 1999, ia mendirikan MIC (Music Industry Consultant) dan bekerja sama dengan sejumlah artis pendatang baru untuk berkolaborasi dengan label musik dalam mengorbitkan artis dan single pertama. Salah satu yang disebut adalah penyanyi Julia Theresia dengan debut single “Lon Kahe” yang dirilis di BMG Music Indonesia. Video klip debut itu masuk nominasi ajang Short Movie International di Oberhausen, Jerman, pada 2000.

Pada 2003, ia bekerja bersama Yudhibuster, AMDI (Asosiasi Music Director Radio Indonesia), Radio Mustang FM Jakarta, dan label Nagaswara untuk mengorbitkan album “Gulalikustik”. Kerja berlanjut pada proyek album pertama Kerispatih “Kejujuran Hati” yang disebut meraih penjualan platinum serta penghargaan MTV Indonesia kategori “Most Favourite New Artist” pada 2005.

Selanjutnya, bersama label Suara Mega Mandiri, ia mengorbitkan band Rama dengan single “Bertahan” dan band Celebrand dengan single “Entah Kenapa Selingkuh itu Indah” pada 2006. Keduanya disebut melejit meski berasal dari label pendatang baru saat itu.

Pada 2008, Bois bekerja sama dengan Ahmad Danish (MI2 Management) untuk meluncurkan album ketiga band Seventeen di label Nagaswara, dengan vokalis baru Ifan atau Riefian Fajarsyah. Album “Lelaki Hebat” dengan single “Selalu Mengalah” dikemas dengan konsep peluncuran di lapak bajakan Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat.

Kemudian pada 2009, ia bersama Arif “Okep” Budiman (Darth Ravenous) meluncurkan album perdana Emil Dardak dengan single “Sesaat Kau Hadir”. Masih bersama Okep dan Wawan Teamlo, pada 2010 ia mengorbitkan album band rock Misterie yang berkonsep seluruh personel bertopeng dengan dandanan ala rock metal, dirilis dalam format kaset dan CD melalui label Suara Mega Mandiri.

Sejak 2011 hingga kini, ia disebut mempopulerkan musisi sekaligus politisi Rafly Kande asal Aceh di kancah musik nasional, dengan sejumlah single seperti “Ingat Bro” dan “Ku Kenang”. Pada 2020, ia mengorbitkan single “Pergilah” dari Missing Madeline, band asal Aceh yang meraih juara 3 “Sing Cover Competition Si Express Cepat” di YouTube.

Masih pada 2020, untuk proyek Pop Kemanusiaan pada masa pandemi Covid-19, ia bersama Life Records Malaysia dan Fabiz Musik meluncurkan single “Tak Ada Yang Tak Bisa”, kolaborasi artis dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Pada 2025, ia mengorbitkan TikToker Galyas dan Qgun melalui single “Bestie Sudahi Patah Hatimu”, yang dibangun citranya sebagai pasangan suami istri dan disebut sebagai “The Couple TikToker” pertama di Indonesia yang konsisten berkarya.

Menutup pernyataannya, Bois menyampaikan harapan agar memasuki 2026, para musisi—terutama pendatang baru—lebih serius menyiapkan konsep dan strategi saat meluncurkan single, bertepatan dengan momentum Hari Musik Nasional.

“Semoga mulai 2026 ini di momen Hari Musik Nasional semua para musisi terutama new comer, wajib bagimu dan tim memikirkan konsep dan strategi hebat disaat meluncurkan karya lagu. Lakukan dengan totalitas!,” pungkas Bois, yang juga pernah menjabat Managing Editor Nagaswara Magazine serta menangani artist development di Nagaswara.