BERITA TERKINI
Circle of Trust dan Ruang Pulih: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Aktivisme dan Kecemasan Politik

Circle of Trust dan Ruang Pulih: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Aktivisme dan Kecemasan Politik

Puzzle Diri dengan dukungan Rahima menggelar pertemuan bertajuk “Demokrasi dan Kesehatan Mental: Ruang Suara dan Ruang Pulih” pada Sabtu (27/12). Kegiatan yang dihadiri aktivis perempuan, pegiat isu gender, dan mahasiswa itu dimoderatori Mega Puspitasari dari Koalisi Perempuan Indonesia, dengan pemaparan materi oleh Koordinator Program Rahima, Wanda Roxanne.

Dalam pembukaannya, Wanda menekankan pentingnya waktu untuk memulihkan kesehatan mental, baik bagi aktivis perempuan, pegiat isu gender, mahasiswa, maupun warga negara pada umumnya. Menurutnya, paparan berita politik yang tidak menyenangkan, kekecewaan terhadap pemerintah, dan kondisi negara dapat menghambat bahkan memperburuk proses seseorang untuk menjadi lebih sehat secara mental dan fisik.

Wanda juga mengajak peserta menyebutkan hal-hal utama yang mengecewakan dari kondisi Indonesia saat ini. Ia menilai wajar dan valid apabila kepedulian terhadap keadaan negara berpengaruh pada kesehatan mental. Dalam sesi tersebut, ia turut menyinggung fenomena meningkatnya keluhan terkait persoalan negara yang dibawa ke ruang konseling, merujuk pada tangkapan layar cuitan seorang psikolog di aplikasi X yang menangani klien dengan keluhan sebagai warga negara Indonesia.

Dalam pembahasan mengenai kecemasan politik, Wanda menyampaikan bahwa emosi memiliki peran dalam dinamika politik. Ia menyebut rasa antusias, marah, dan takut sebagai perasaan yang wajar: antusiasme dapat membantu politisi mempertahankan dukungan, kemarahan dapat mendorong tuntutan keadilan seperti demonstrasi, sementara rasa takut dapat membuat masyarakat meminta perlindungan dari negara.

Namun, ia mengingatkan bahwa emosi yang berlebihan dapat memunculkan dampak negatif. Selain stres atau burnout, Wanda memperkenalkan istilah political anxiety atau kecemasan politik yang dinilai tidak kalah serius dan perlu ditangani secara tepat. Ia menyebut sejumlah cirinya, antara lain merasa cemas, mudah emosi, dan sulit tidur. Menurutnya, dua kelompok yang rentan mengalami kondisi ini adalah aktivis feminis dan akademisi, karena kedekatan mereka dengan isu serta pengalaman menyaksikan atau mengalami langsung kekecewaan yang memengaruhi kerja advokasi sehari-hari.

Karena itu, Wanda menekankan pentingnya memiliki Circle of Trust atau lingkaran kepercayaan yang terseleksi dengan baik. Dalam penjelasannya, lingkaran kepercayaan menggambarkan orang-orang di sekitar seseorang yang terbagi dalam empat kategori berdasarkan tingkat kepercayaan dan kualitas relasi. Ia menyebut penataan ulang posisi orang dalam lingkaran ini bisa dilakukan, bahkan perlu, demi kenyamanan dan keamanan kondisi mental.

Empat kategori tersebut terdiri dari: pertama, loving and critical, yakni orang-orang yang mendukung dan menemani, sekaligus jujur memberi kritik atau masukan demi kebaikan. Kedua, loving and uncritical, yaitu mereka yang mendukung namun cenderung menghindari kejujuran dan memilih tidak memberi kritik. Ketiga, unloving and critical, yang umumnya hadir dalam relasi profesional—memberi kritik untuk peningkatan kinerja, tetapi sulit diandalkan dalam dukungan personal. Keempat, unloving and uncritical, yaitu mereka yang minim kepedulian, misalnya netizen atau teman yang gemar bergosip.

Wanda menilai pergeseran relasi dalam lingkaran kepercayaan adalah hal yang mungkin terjadi dan perlu disadari, terutama dalam konteks politik. Ia mencontohkan, orang yang sebelumnya berada dalam kategori loving and critical dapat bergeser menjadi unloving and uncritical ketika perbedaan preferensi politik atau isu advokasi memengaruhi hubungan. Menurutnya, apabila seseorang tidak memahami dan menerima perubahan semacam itu, ada risiko terbebani karena mempertahankan relasi yang tidak sehat.

Ia mewajarkan perubahan pertemanan demi menjaga ruang aman dan nyaman dalam mengadvokasikan isu. Pada saat yang sama, Wanda mengingatkan pentingnya menjadi bagian dari Circle of Trust yang positif bagi orang-orang yang dipedulikan. Ia berpesan agar peserta tidak lupa mengecek kabar rekan-rekan aktivis, akademisi, mahasiswa, serta teman dan keluarga dekat, terutama dalam situasi negara yang dinilainya tidak menentu.

Selain menata lingkaran kepercayaan, peserta juga diperkenalkan pada dua pendekatan perawatan diri: Ruang Suara dan Ruang Pulih. Ruang Suara dijelaskan sebagai cara mengekspresikan perasaan negatif melalui tulisan. Wanda menyebut menuliskan emosi di selembar kertas dapat menjadi bentuk katarsis yang efektif, terutama karena perasaan buruk kerap dianggap tidak pantas untuk diungkapkan. Ia juga membuka kemungkinan peserta menggambar emosi agar ekspresi tidak terbatas pada kata-kata.

Dalam praktiknya, kertas tersebut kemudian diremas membentuk bola dan boleh dilempar atau diinjak sebagai simbol meluapkan serta membuang beban perasaan negatif. Setelah itu, sesi berlanjut ke Ruang Pulih yang menitikberatkan pada penguatan emosi positif. Peserta diminta membuat garis atau lingkaran tanpa putus di atas kertas dengan mata tertutup, lalu mewarnai ruang-ruang yang terbentuk. Proses tersebut disebut dapat menenangkan dan membantu mengalirkan emosi. Di akhir, peserta dipersilakan memberi kutipan berisi harapan baik untuk tahun baru pada karya masing-masing.

Menutup sesi, Wanda kembali mengingatkan bahwa emosi muncul bukan tanpa sebab. Ia menilai wajar jika “tangki” emosi meluap ketika seseorang dikelilingi banyak hal dan berita negatif. Karena itu, ia mengimbau peserta menyesuaikan Circle of Trust bila diperlukan, serta memanfaatkan gagasan Ruang Suara dan Ruang Pulih sebagai salah satu solusi—tanpa harus selalu meniru aktivitas yang sama persis. Menurutnya, menjaga kesehatan mental penting agar aktivisme dan perjuangan dapat terus dilanjutkan demi kepentingan bersama.