BERITA TERKINI
Co-parenting Setelah Berpisah: Manfaat bagi Anak, Tantangan, dan Tips Menjalankannya

Co-parenting Setelah Berpisah: Manfaat bagi Anak, Tantangan, dan Tips Menjalankannya

Sejumlah pasangan selebritas di Indonesia memilih tetap menjaga hubungan baik demi kepentingan anak meski rumah tangga mereka telah berakhir. Pola pengasuhan ini dikenal sebagai co-parenting, yakni kerja sama antara dua orangtua dalam mengasuh serta memenuhi kebutuhan anak walaupun hubungan romantis sudah berubah.

Beberapa figur publik yang kerap disebut menerapkan co-parenting antara lain Natasha Rizky dan Desta, Gading Marten dan Gisella Anastasia, Acha Septriasa dan Vicky Kharisma, serta Ben Kasyafani dan Marshanda.

Psikolog Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan, co-parenting menempatkan kepentingan anak di atas dinamika mantan pasangan. “Co-parenting adalah kerja sama antara dua orangtua dalam mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak, meskipun hubungan romantis mereka sudah berubah, baik itu bercerai, berpisah, atau tidak tinggal dalam satu rumah,” ujarnya.

Menurut Vera, fokus dalam co-parenting bukan lagi pada relasi orangtua sebagai pasangan, melainkan pada peran mereka sebagai satu tim pengasuhan yang konsisten, terstruktur, dan saling mendukung. Jika komunikasi terjaga dan aturan jelas, pendekatan ini dapat menjadi cara yang lebih dewasa untuk memastikan tumbuh kembang anak tetap optimal meski orangtua tidak lagi bersama.

Manfaat co-parenting bagi anak

Vera menyebut co-parenting yang dijalankan dengan baik dapat membawa dampak positif yang signifikan bagi anak.

Pertama, anak cenderung memiliki rasa aman dan stabil karena merasa kedua orangtua tetap hadir dan terlibat. Kondisi ini membuat anak merasa dicintai dan dihargai oleh keduanya.

Kedua, co-parenting dapat membantu regulasi emosi anak menjadi lebih baik. Anak belajar bahwa konflik bisa dikelola secara sehat sehingga tidak terjebak dalam ketegangan keluarga.

Ketiga, hubungan anak berpeluang tetap dekat dengan kedua orangtua. Karena masing-masing pihak tetap berperan aktif, anak tidak merasa harus memilih salah satu.

Keempat, minimnya konflik atau drama keluarga dapat mengurangi stres pada anak. Anak pun lebih nyaman dan bisa fokus pada aktivitas sehari-hari.

Tantangan yang sering muncul

Meski bermanfaat, Vera mengingatkan bahwa co-parenting tidak selalu mudah dijalankan. Sejumlah kendala yang kerap muncul antara lain perbedaan gaya pengasuhan, misalnya terkait disiplin, durasi screen time, atau pilihan sekolah.

Tantangan lainnya adalah komunikasi yang tidak konsisten, luka atau emosi masa lalu yang masih terbawa dalam interaksi, serta persoalan logistik seperti pengaturan jadwal, penjemputan, atau pembagian tanggung jawab. Selain itu, batasan (boundary) yang belum jelas juga dapat menjadi masalah, terutama ketika salah satu orangtua mulai memiliki pasangan baru.

Tips menjalankan co-parenting yang sehat

Agar co-parenting berjalan efektif, Vera menyarankan orangtua memisahkan emosi pribadi dari kebutuhan anak, dengan fokus pada apa yang terbaik bagi anak. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang jelas, singkat, dan terstruktur. Bila berbicara langsung sulit karena emosi, komunikasi dapat dilakukan melalui pesan tertulis.

Vera turut menyarankan penerapan prinsip negosiasi win-win sehingga anak menjadi pihak yang “menang”. Jika konflik sulit mereda, orangtua dapat meminta bantuan mediator keluarga atau psikolog.

Selain itu, orangtua perlu membangun regulasi emosi diri karena anak membutuhkan orangtua yang tenang. Aturan juga perlu diterapkan secara fleksibel dan realistis tanpa mengabaikan kebutuhan anak akan kestabilan. Dalam batas yang sesuai usia, anak dapat dilibatkan dalam pengambilan keputusan agar merasa dihargai.

Pada akhirnya, co-parenting bukan semata tren di kalangan selebritas, melainkan strategi pengasuhan yang dapat membantu anak tetap tumbuh dengan aman, nyaman, dan dekat dengan kedua orangtuanya meski orangtua sudah berpisah.