Musim semi 2026 diproyeksikan menjadi periode istimewa bagi Kota Seoul, Korea Selatan. Grup K-pop BTS menyiapkan comeback yang tidak hanya berfokus pada perilisan album, tetapi juga menghadirkan rangkaian program budaya berskala besar yang memanfaatkan ruang-ruang publik kota.
Melalui proyek bertajuk “BTS The City Arirang Seoul”, BTS berkolaborasi dengan Pemerintah Metropolitan Seoul untuk menyuguhkan pengalaman seni dan musik yang menyatu dengan lanskap perkotaan. Program ini dijadwalkan berlangsung hampir satu bulan, mulai 20 Maret hingga 12 April 2026.
Selama periode tersebut, sejumlah landmark ikonik Seoul akan difungsikan sebagai medium ekspresi kreatif. Rangkaian ini menggabungkan musik modern dengan nilai budaya tradisional, sekaligus mengajak warga dan pengunjung melihat Seoul sebagai ruang seni yang hidup dan dinamis.
Pada hari perilisan album Arirang, beberapa ikon kota seperti Sungnyemun Gate dan N Seoul Tower direncanakan menampilkan visual kreatif berskala besar. Tayangan tersebut disebut akan memadukan unsur tradisi Korea dengan sentuhan modern khas BTS, sehingga dapat dinikmati langsung oleh publik.
Tidak hanya berpusat pada landmark utama, kawasan pusat kota juga akan diubah menjadi galeri seni terbuka. Jalanan, dinding, hingga tangga kota akan dihiasi karya visual yang terinspirasi dari lirik lagu serta elemen musik BTS, memungkinkan masyarakat berinteraksi dengan karya seni di ruang publik.
Puncak rangkaian acara dijadwalkan menghadirkan “BTS Comeback Live: Arirang” di Gwanghwamun Square. Pemilihan lokasi ini menegaskan nilai simbolis acara, mengingat kawasan tersebut memiliki sejarah panjang dan berada di jantung Kota Seoul.
Selain pertunjukan utama, sejumlah agenda interaktif juga disiapkan di berbagai titik kota, termasuk Yeouido Han River Park. Di lokasi-lokasi tersebut, pengunjung dapat menikmati seni, musik, dan suasana kota dengan konsep santai namun tetap imersif.
Melalui proyek ini, BTS menempatkan perannya tidak hanya sebagai musisi pop global, tetapi juga sebagai penghubung antara musik, identitas kota, dan warisan budaya Korea. Pemanfaatan ruang publik menjadi contoh bagaimana seni modern dapat berdialog dengan sejarah dan tradisi.
“The City Arirang Seoul” juga menggambarkan arah baru hiburan global, ketika konser berkembang menjadi pengalaman budaya menyeluruh. Proyek ini sekaligus menunjukkan potensi kolaborasi antara industri kreatif dan pemerintah kota dalam membangun daya tarik pariwisata berbasis budaya.
Rangkaian acara tersebut diperkirakan menarik puluhan ribu pengunjung dari dalam dan luar negeri, serta memperkuat posisi Seoul sebagai kota budaya global.

