Linimasa Facebook dalam beberapa hari terakhir diramaikan perdebatan panjang bertema sains, saintisme, serta relasi sains dan agama. Sejumlah penulis dan intelektual ikut meramaikan diskusi melalui status dan esai yang relatif panjang, antara lain AS Laksana, Goenawan Mohamad, Ulil Abshar Abdalla, hingga F. Budi Hardiman. Warganet kemudian memberi label perdebatan ini sebagai “Polemik Sains”.
Polemik tersebut disebut bermula dari sebuah video diskusi bertema Hari Kebangkitan Nasional yang memantik respons AS Laksana. Ia menulis esai sekitar 2.500 kata untuk mengomentari sikap Goenawan Mohamad yang menolak gagasan “berkhidmat pada sains”. Dari titik itu, diskusi berkembang menjadi saling tanggapi, baik mengenai definisi sains, kritik terhadap saintisme, maupun soal kemungkinan sikap “pongah” dalam praktik dan klaim-klaim sains.
Tulisan AS Laksana berjudul Sains dan Hal-Hal Baiknya menjadi salah satu pemicu utama. Dalam esai tersebut, ia menyampaikan catatan terhadap pemahaman Goenawan Mohamad tentang sains. Tak lama kemudian, Goenawan Mohamad merespons lewat tulisan panjang Sains dan Masalah-Masalahnya, Sulak dan Dua Kesalahannya, yang juga memuat rujukan nama-nama intelektual serta kutipan-kutipan.
Respons berikutnya datang dari berbagai arah. Saut Situmorang menulis tanggapan ringkas yang, antara lain, mengkritik gaya esai Goenawan Mohamad yang dipenuhi kutipan. Sementara itu, Ulil Abshar Abdalla menghadirkan esai ‘Qutbiisme’ dan Kepongahan Saintifik yang tidak secara langsung menanggapi AS Laksana maupun Goenawan Mohamad, tetapi ikut menyemarakkan diskusi, terutama pada isu “kepongahan” dalam sains.
Sejumlah penulis lain kemudian menanggapi atau mengembangkan perdebatan tersebut. Nirwan Ahmad Arsuka menggugat anggapan Ulil tentang kepongahan sains dengan mengaitkannya pada sains dan olahraga. Taufiqurrahman menulis bantahan yang ditujukan sekaligus kepada Goenawan Mohamad dan Ulil, termasuk membahas ketepatan sejumlah kutipan yang dipakai dalam tulisan Goenawan Mohamad. Hasanudin Abdurakhman, berlatar pendidikan eksakta, menilai sains tidak pongah dan menulis lanjutan khusus mengenai kritik terhadap saintisme.
Perdebatan juga melebar ke upaya memperjelas istilah. Jamil Massa menulis catatan tentang perbedaan saintis dan saintisme, serta mempertanyakan gagasan “kepongahan sains” yang disinggung Ulil. Azis Anwar Fachrudin menambahkan bahwa “saintisme” merupakan istilah yang eksis dan absah dalam perdebatan akademis, sehingga tidak selalu bermakna peyoratif.
Di sisi lain, beberapa tulisan secara khusus menjadi umpan balik atas argumen Goenawan Mohamad. Lukas Luwarso menulis tentang kepastian sains dan pencarian kebenaran, sedangkan Dwi Pranoto menyoroti penyebutan Heidegger dalam tulisan Goenawan Mohamad dan apa yang dinilai terabaikan. Goenawan Mohamad juga kembali menulis tanggapan lanjutan, termasuk Berpikir Lain tentang Sains dan catatan untuk Taufiqurrahman.
Polemik ini turut diselingi tulisan yang memberi konteks lebih luas tentang hubungan sains dan agama. Salah satunya esai panjang dari Dunia Filsafat-Ledalero mengenai kasus Galileo Galilei. Ada pula tulisan Nuruddin Asyhadie yang mempertanyakan kembali pokok persoalan, termasuk apakah pernyataan Goenawan Mohamad layak dijadikan bahan perdebatan. Berbeda dari banyak respons lain, Ahmad Yulden Erwin menulis komentar ringkas yang cenderung sejalan dengan Goenawan Mohamad dalam hal sikap kritis dan keraguan pada sains.
F. Budi Hardiman kemudian masuk dengan esai Saintisme dan Momok-Momok Lain: Interupsi untuk Goenawan Mohamad dan AS Laksana. Ia berupaya menarik garis tengah dengan mencatat beberapa persoalan, termasuk pandangan bahwa menghadap-hadapkan agama dan sains secara langsung dinilai tidak realistis. Ulil Abshar Abdalla juga kembali menulis lewat Antara Sains dan Soto, yang masih menyinggung isu kepongahan sains melalui analogi yang ia tawarkan.
Rangkaian tulisan yang saling bersahutan ini menunjukkan perdebatan masih terbuka dan berpotensi berlanjut. Di tengah derasnya arus opini di media sosial, “Polemik Sains” menjadi salah satu contoh bagaimana platform seperti Facebook dapat menjadi ruang diskusi panjang mengenai isu-isu pengetahuan, cara berpikir ilmiah, dan batas-batasnya dalam kehidupan publik.