Duolingo dan Tokopedia resmi berkolaborasi setelah bertahun-tahun menjadi bahan perbandingan warganet Indonesia karena kemiripan maskot mereka. Kolaborasi ini dikemas lewat kampanye yang memanfaatkan kedekatan budaya meme di internet, sekaligus menjadi jalan bagi Duolingo untuk membuka toko merchandise online resmi pertamanya di Asia Tenggara melalui Tokopedia.
Dalam beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan video yang menampilkan Duo—burung hantu hijau maskot aplikasi belajar bahasa Duolingo—dan Toped, maskot Tokopedia, beraksi di akun resmi kedua perusahaan. Keduanya digambarkan saling “bertengkar” dan melakukan aksi jahil yang memancing respons luas serta menjadi viral. Bagi publik yang sudah lama membandingkan keduanya lewat meme dan konten buatan pengguna, rangkaian unggahan tersebut menjadi sinyal bahwa kemiripan itu kini berujung pada kerja sama resmi.
Kolaborasi ini diumumkan pada 4 November 2025. Duolingo dan Tokopedia menyatakan kampanye mereka memang memanfaatkan kemiripan visual Duo dan Toped, yang selama ini telah hidup dalam percakapan digital warganet Indonesia.
Salah satu strategi yang menonjol adalah permainan identitas di media sosial, terutama TikTok. Duo sempat muncul di akun Tokopedia dengan pesan “Bukan Tokopedia, jangan minta promo,” sementara Toped mengambil alih akun Duolingo Indonesia untuk mengklarifikasi, “Saya tidak mengajar bahasa.” Pertukaran ini memantik keterlibatan audiens, diperkuat dengan pembaruan bio akun yang bernada sindiran soal kebingungan identitas, sebelum kedua brand merinci bentuk kolaborasi mereka.
Kampanye juga diperluas ke ruang publik. Di Jakarta, keduanya memasang billboard berdampingan di pusat kota yang menampilkan koreksi “kesalahan identitas” sambil menonjolkan kekuatan masing-masing: Tokopedia untuk promo belanja dan Duolingo untuk pembelajaran bahasa.
Selain aktivasi digital dan luar ruang, kampanye turut memanfaatkan budaya K-Pop. Pada 2 November 2025, Duo dan Toped menggelar K-Pop dance battle di kawasan Stadion Gelora Bung Karno (GBK), yang menarik kerumunan dan memunculkan banyak konten buatan pengguna di media sosial. Pilihan konsep ini selaras dengan keterlibatan kedua brand terhadap budaya K-fandom: Duolingo dikenal kerap menjalankan kampanye sosial yang melibatkan grup K-Pop, sedangkan Tokopedia tercatat menjadi sponsor berbagai konser dan acara musik serta beberapa kali berkolaborasi dengan grup K-Pop untuk kampanye brand. Kampanye juga menampilkan paduan warna hitam dan merah muda, di samping hijau yang menjadi identitas masing-masing merek, yang dikaitkan dengan rangkaian konser Blackpink di GBK pada akhir pekan sebelumnya.
Bagian penting dari kolaborasi ini adalah peluncuran toko merchandise online resmi pertama Duolingo di Asia Tenggara. Toko tersebut dijadwalkan dibuka melalui platform Tokopedia pada 11 November 2025.
“Memperluas kesadaran terhadap karakter dan intellectual properties kami selalu menjadi bagian sentral dari DNA brand Duolingo,” ujar Irene Tong, SEA Marketing Lead Duolingo. Ia menyebut kerja sama dengan Tokopedia untuk meluncurkan toko merchandise resmi pertama Duolingo di Asia Tenggara sebagai langkah penting untuk mendekatkan karakter Duolingo kepada audiens lokal, sekaligus menunjukkan komitmen perusahaan untuk hadir di Indonesia.
Bagi Duolingo, peluncuran ini diposisikan bukan semata penjualan produk, melainkan upaya memperdalam koneksi dengan pengguna melalui karakter seperti Duo, Lily, dan Zari yang selama ini hadir dalam pengalaman belajar.
Dari sisi Tokopedia, Head of Marketing Tokopedia Jonathan Theon Locanawan menilai kolaborasi ini mencerminkan upaya perusahaan untuk tetap relevan sekaligus setia pada tujuan memberdayakan komunitas di Indonesia. “Kolaborasi dengan Duolingo menampilkan komitmen berkelanjutan Tokopedia untuk tetap relevan sambil setia pada tujuan kami memberdayakan komunitas di seluruh Indonesia, serta kekuatan brand dan marketing IP kami sebagai brand lokal yang ikonik,” kata Jonathan. Ia juga menyampaikan harapan agar aktivasi ini dapat menunjukkan Tokopedia sebagai destinasi belanja yang aman untuk memenuhi kebutuhan belanja dan kebutuhan sehari-hari.
Rangkaian kampanye Duolingo dan Tokopedia menyoroti bagaimana percakapan digital yang telah terbentuk lama dapat diolah menjadi kolaborasi brand lintas industri. Alih-alih membangun narasi dari awal, kedua perusahaan merespons budaya meme yang sudah mengakar di komunitas internet Indonesia, lalu mengembangkannya melalui humor, kejutan, serta aktivasi online dan offline yang mendorong partisipasi audiens.

