Suara terompet pây-o berpadu dengan irama gendang skor-đăy serta alunan alat musik gesek khum, tro-so, tro-u, dan cha-pây đong-veng mengisi upacara pernikahan di rumah Bapak Liêu Đum, Dusun Tam Sóc B1, Komune Mỹ Tú, Kota Cần Thơ. Rangkaian bunyi itu menghadirkan suasana meriah dan hangat, sekaligus mengiringi pengantin menjalani ritual-ritual tradisional yang menjadi penanda identitas budaya masyarakat Khmer Selatan.
Selama sekitar 40 tahun, sekelompok warga yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan buruh di Dusun Tam Soc C1, Komune Mỹ Tú, mempertahankan keberadaan Grup Musik Pernikahan Tradisional Tum Pók Sók. Saat ada pernikahan, festival, maupun upacara peluncuran perahu Ngo, para anggota mengenakan busana tradisional dan membawa instrumen mereka untuk tampil di hadapan masyarakat. Bagi mereka, musik menjadi cara merawat semangat kebudayaan komunitasnya di tengah perubahan zaman.
Pemimpin grup, Bapak Quyen, mengenang ketertarikannya sejak kecil ketika menyaksikan para tetua desa tampil. Pada 1985 ia mulai mempelajari alat musik khum, kemudian menguasai biola, drum, dan sejumlah instrumen lain. Ia menyebut pengalaman memainkan karya pertamanya sebagai momen yang membuatnya semakin memahami nilai budaya musik tradisional Khmer.
Setahun kemudian, pada 1986, Bapak Quyen bersama sejumlah perajin senior menggagas pendirian Grup Musik Pernikahan Tradisional Tum Pók Sók dengan tujuh anggota. Sejak itu, pertunjukan mereka kerap hadir di berbagai desa dan dusun, baik di dalam maupun di luar wilayah setempat.
Menurut fotografer pernikahan senior, Bapak Truong Minh Quang, grup tersebut tampil penuh semangat. Selain memainkan alat musik, mereka juga bernyanyi dan menari mengikuti lagu-lagu pernikahan khusus, seperti “pembukaan gerbang”, “pi-thi cắt phka-sla” (upacara memotong seikat bunga pinang), serta “pi-thi chon-đăy” (ritual pengikatan tangan). Rangkaian itu, kata dia, menciptakan suasana yang khidmat namun tetap meriah dan mendapat pujian dari para tamu.
Pada tahun-tahun sebelumnya, terutama saat musim pernikahan, Tum Pók Sók sering tampil di banyak daerah di bekas Provinsi Soc Trang. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pesatnya perkembangan orkestra live disebut membuat ketersediaan musik tradisional semakin berkurang. Meski demikian, sejumlah kuil Khmer masih mengundang grup ini untuk tampil dalam upacara peluncuran perahu Ngo, yang menjadi dorongan bagi mereka untuk terus menjaga keahlian bermusik.
Anggota grup, Bapak Danh Som Nang, yang memainkan drum dan bernyanyi, mengatakan seluruh personel kini berusia di atas 60 tahun. Ia menyampaikan kekhawatiran tidak adanya penerus yang mewarisi keterampilan tersebut. Karena itu, grup berharap mendapat dukungan dan perhatian agar dapat membuka kelas bagi generasi muda, sehingga tradisi musik pernikahan tetap hidup dari satu musim pernikahan ke musim berikutnya.
Di tengah kehidupan modern, bunyi-bunyian dari Grup Musik Pernikahan Tradisional Tum Pók Sók masih terdengar sebagai pengingat akan akar budaya yang terus dijaga.

