BERITA TERKINI
Laporan Kebahagiaan 2026: Penggunaan Media Sosial Berlebihan Dikaitkan dengan Turunnya Kebahagiaan Kaum Muda di Negara Berbahasa Inggris

Laporan Kebahagiaan 2026: Penggunaan Media Sosial Berlebihan Dikaitkan dengan Turunnya Kebahagiaan Kaum Muda di Negara Berbahasa Inggris

Laporan tahunan “Dunia 2026” yang dirilis pada 19 Maret menyimpulkan bahwa menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial dapat merusak kebahagiaan kaum muda, terutama remaja putri. Temuan ini disusun oleh Pusat Penelitian Kebahagiaan di Universitas Oxford, berdasarkan survei yang meminta peserta menilai tingkat kebahagiaan mereka pada skala 0 hingga 10.

Dalam satu dekade terakhir, laporan tersebut mencatat penurunan tajam tingkat kebahagiaan masyarakat berusia di bawah 25 tahun di negara-negara berbahasa Inggris, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Penurunan ini terlihat seiring menguatnya korelasi negatif antara kebahagiaan dan penggunaan media sosial yang berlebihan, yang disebut paling jelas terjadi pada kelompok remaja putri.

Secara lebih spesifik, siswi berusia 15 tahun yang menggunakan media sosial selama lima jam atau lebih per hari dilaporkan memiliki tingkat kepuasan hidup lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang menggunakannya lebih jarang. Laporan itu juga menyebutkan bahwa anak muda yang menggunakan media sosial kurang dari satu jam sehari menunjukkan tingkat kebahagiaan tertinggi, bahkan lebih tinggi daripada mereka yang tidak menggunakan media sosial sama sekali. Sementara itu, remaja saat ini rata-rata menghabiskan sekitar 2,5 jam per hari di berbagai platform.

Menurut laporan, platform yang dinilai paling berdampak negatif adalah yang mengandalkan algoritma rekomendasi konten, menonjolkan influencer, serta berfokus pada konten visual. Karakteristik ini disebut dapat dengan mudah memicu perbandingan sosial di kalangan pengguna.

Meski demikian, hubungan antara penggunaan media sosial dan kebahagiaan tidak seragam di semua kawasan. Di beberapa wilayah seperti Timur Tengah dan Amerika Selatan, laporan tersebut mencatat hubungan yang lebih positif. Di wilayah-wilayah ini, tingkat kebahagiaan kaum muda tidak mengalami penurunan meskipun penggunaan media sosial meningkat.

Profesor Jan-Emmanuel De Neve, Direktur Pusat Penelitian Kebahagiaan dan salah satu editor laporan tersebut, menyatakan perbedaan antarwilayah dipengaruhi sejumlah faktor. “Kami percaya hal itu disebabkan oleh kualitas kehidupan sosial dan stabilitas yang mereka nikmati saat ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa secara keseluruhan Amerika Latin memiliki ikatan keluarga lebih kuat, hubungan sosial lebih kokoh, dan tingkat kebersamaan lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.

Laporan itu juga menyoroti perubahan peringkat sejumlah negara. Kosta Rika untuk pertama kalinya masuk lima besar, menempati peringkat keempat setelah naik signifikan dari posisi ke-23 pada 2023. Peningkatan tersebut disebut terkait ikatan keluarga dan hubungan sosial yang lebih kuat.

Sementara itu, negara-negara Nordik kembali mendominasi peringkat kebahagiaan berkat kombinasi faktor, termasuk standar hidup tinggi, distribusi pendapatan yang lebih adil, sistem kesejahteraan sosial yang kuat untuk melindungi warga dari risiko resesi ekonomi, serta harapan hidup yang tinggi. Finlandia berada di posisi teratas untuk tahun kesembilan berturut-turut, disusul negara Nordik lain seperti Islandia, Denmark, Swedia, dan Norwegia yang juga masuk 10 besar.

Di bagian bawah daftar, negara-negara yang berada di dalam atau dekat zona konflik tercatat memiliki tingkat kebahagiaan terendah. Afghanistan tetap berada di posisi paling bawah, diikuti oleh Sierra Leone dan Malawi. Untuk wilayah Tiongkok, daratan Tiongkok berada di peringkat ke-65, Hong Kong ke-90, dan Taiwan ke-26.

Peringkat dalam laporan ini disusun berdasarkan survei terhadap sekitar 100.000 orang di 140 negara dan wilayah. Survei dilakukan oleh Center for Happiness Research bekerja sama dengan perusahaan analitik Gallup serta United Nations Sustainable Development Solutions Network. Di sebagian besar negara, sekitar 1.000 orang disurvei setiap tahun melalui wawancara telepon atau tatap muka.

Laporan 2026 juga menandai tahun kedua berturut-turut tanpa kehadiran negara berbahasa Inggris di 10 besar. Amerika Serikat berada di peringkat ke-23, Kanada ke-25, dan Inggris ke-29. Laporan tersebut terbit di tengah meningkatnya jumlah negara yang telah melarang atau mempertimbangkan melarang anak di bawah umur menggunakan media sosial.