Pada awal 2026, pasar musik Vietnam diramaikan oleh deretan konser solo penyanyi muda yang menyedot ribuan penonton. Konser penggemar pertama Hoa Minzy bertajuk Bac Bling di Kota Ho Chi Minh menarik hampir 8.000 penonton. Menyusul kemudian, Phung Khanh Linh menggelar konser dua malam Giua Mot Van Tour dengan 4.000 tiket yang terjual habis dalam waktu singkat. Tak lama setelah itu, Hoang Dung mengadakan konser live Xuyen Tron di kota yang sama dengan hampir 10.000 penonton, yang disebut sebagai penampilan terbesar dalam kariernya sejauh ini.
Tren serupa terlihat pada konser Luminarhy milik penyanyi Rhyder yang menandai lebih dari satu dekade perjalanan kariernya. Konser tersebut menarik 8.000 penonton. Sementara itu, buitruonglinh mengejutkan banyak pihak setelah tiket konser Every Day dilaporkan habis hanya dalam 12 menit. Rangkaian konser ini menjadi jawaban atas meningkatnya minat penonton pada pertunjukan langsung, sekaligus memunculkan pertanyaan baru tentang daya tahan tren di industri musik Vietnam.
Di tengah dominasi era streaming—ketika musik bisa diakses dengan mudah—menggelar konser untuk ribuan orang dinilai sebagai langkah berisiko bagi artis muda. Namun, langkah tersebut juga mencerminkan pergeseran penting: dari sekadar menaklukkan pendengar online menuju membangun pengalaman nyata bagi penonton. Para artis disebut semakin berinvestasi lebih sistematis pada tata suara, pencahayaan, band pengiring, hingga desain panggung. Konser pun dipandang sebagai produk artistik yang utuh, bukan semata pertunjukan.
Rhyder, yang menggelar konser debut Luminarhy pada usia 25 tahun, menyebut keputusannya sebagai langkah “berisiko tinggi”. Ia mengaku sempat tidak yakin apakah 8.000 kursi akan terisi. Namun, ia menegaskan keyakinannya bertumpu pada musik yang ia buat dan dukungan komunitas penggemar yang telah mengikutinya selama satu dekade. Menurutnya, penonton bersedia membeli tiket karena mencari pengalaman langsung—berdiri di antara ribuan orang, berbagi emosi, serta merasakan suara dan cahaya yang tidak bisa digantikan oleh streaming. Karena itu, ia memilih berinvestasi penuh pada band live serta menaruh fokus pada desain panggung dan penceritaan visual untuk menciptakan pengalaman yang khas.
Musisi Nguyen Huu Vuong, yang menjadi pengarah musik untuk berbagai konser penyanyi seperti Ha Anh Tuan, Tung Duong, Phan Manh Quynh, dan Huong Tram, menilai gelombang konser artis muda sebagai sinyal positif. Ia menyebut setelah periode pertunjukan internasional yang terus berlangsung di Vietnam, penonton membentuk kebiasaan membeli tiket, mengantre, dan memandang konser sebagai pengalaman budaya. Menurutnya, konser kini bukan hanya soal mendengarkan musik; banyak orang datang untuk suasana, pengalaman, atau bahkan karena “tren”, sebagai cara hiburan dan pelepas stres.
Meski demikian, menggelar konser solo disebut menuntut banyak syarat. Artis perlu memiliki audiens yang cukup besar dan bersedia membeli tiket, kepribadian musik yang khas, serta basis penggemar yang stabil. Nama-nama seperti Phung Khanh Linh, Hoang Dung, Rhyder, dan buitruonglinh dipandang menunjukkan investasi serius sekaligus pengembangan gaya unik masing-masing. Di sisi lain, konser juga diposisikan sebagai “ujian” menyeluruh yang menuntut kehadiran panggung, kemampuan mengendalikan program, dan kejelasan pesan yang ingin disampaikan—tantangan besar yang sekaligus menjadi peluang pembuktian.
Seiring meningkatnya jumlah konser solo, sebagian penyelenggara turut menyuarakan kekhawatiran mengenai potensi tren ini. Dalam pasar yang kompetitif, dorongan artis untuk cepat membangun nama melalui pertunjukan berskala besar dinilai dapat dimengerti. Namun, tidak semua konser berakhir sukses atau menghasilkan dampak berkelanjutan. Tekanan biaya, kemampuan menjaga kualitas, dan daya tarik untuk proyek lanjutan masih menjadi tantangan.
Meski ada catatan kehati-hatian, Nguyen Huu Vuong menilai tren ini tetap membawa energi baru bagi pasar musik Vietnam. Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan generasi artis yang semakin profesional dan proaktif menempuh jalannya sendiri, sekaligus mencerminkan kedewasaan penonton yang bersedia membayar untuk pengalaman musik berkualitas.
Setelah konser Luminarhy, Rhyder mengatakan dirinya terharu karena hasilnya melampaui ekspektasi. Ia menilai kepercayaan publik sebagai aset terbesar seorang artis. Baginya, konser bukan sekadar acara, melainkan dorongan yang memberinya kekuatan untuk terus menapaki jalur yang ia pilih.