Di era digital, sebuah lagu yang telah melalui proses aransemen dan mixing dengan upaya kreatif serta biaya selama berbulan-bulan kini dapat diubah hanya dalam beberapa langkah. Karya musik bisa diedit, diperlambat, dipercepat, atau dimasukkan ke dalam video pendek tanpa izin, bahkan tanpa pembayaran royalti kepada penciptanya.
Praktik penggunaan musik tanpa izin disebut terjadi luas dalam berbagai bentuk. Mulai dari kafe dan kedai teh yang memutar musik komersial, hingga kreator konten di TikTok dan YouTube yang menggunakan lagu sebagai materi video promosi, memonetisasi konten tersebut, namun mengabaikan kewajiban meminta izin dari pemilik karya.
Komposer Quan Anh Tuan, Wakil Ketua Cabang Musik dari Persatuan Sastra dan Seni Provinsi Thai Nguyen, menilai karya musik merupakan hasil dari “jiwa, keringat, dan air mata” seorang seniman. Ia menggambarkan situasi saat ini ketika lagu yang baru dirilis dapat dengan cepat “didaur ulang” dan diedit di platform daring untuk dijadikan musik latar video parodi maupun klip komedi. Menurutnya, hal yang paling menyedihkan adalah karya tersebut dipakai untuk meraih interaksi dan menghasilkan uang, sementara penulis asli tidak dimintai izin, apalagi menerima royalti.
Sejumlah musisi di Thai Nguyen juga menyampaikan adanya hambatan tambahan dalam melindungi hak cipta digital dibandingkan rekan mereka di kota-kota besar seperti Hanoi atau Ho Chi Minh City. Mereka menilai keterbatasan akses informasi menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, keengganan untuk menempuh prosedur pendaftaran atau memberikan otorisasi kepada lembaga khusus seperti Pusat Perlindungan Hak Cipta Musik Vietnam (VCPMC) membuat musisi di wilayah pegunungan dan daerah terpencil disebut menjadi kelompok yang paling rentan dalam lingkungan daring yang kompleks.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan mencari solusi perlindungan hak cipta dinilai mendesak untuk menjaga keberlangsungan karya dan semangat para musisi di Thai Nguyen. Sejumlah ahli dan seniman setempat berpandangan, penyelesaian tidak cukup hanya mengandalkan pengetatan aturan hukum, tetapi juga harus menyasar akar masalah berupa kesadaran masyarakat pendengar musik.
Komposer Nguyen Ngoc Tuyet, anggota Asosiasi Musik Vietnam, menyoroti persoalan dari sudut pandang Generasi Z. Ia menilai anak muda saat ini sangat melek teknologi, namun kesadaran terhadap hak cipta justru berbanding terbalik. Menurutnya, tidak sedikit yang berpikir naif bahwa mengambil musik bagus untuk dimasukkan ke video “sekadar untuk bersenang-senang” dan tidak merugikan siapa pun. Padahal, tindakan tersebut disebut dapat mengurangi kesempatan musisi untuk memperoleh penghasilan. Ia menekankan pentingnya edukasi kepada pendengar agar menghormati kekayaan intelektual dan nilai kreativitas.
Sejalan dengan itu, sejumlah pandangan mendorong adanya rangkaian solusi komprehensif untuk perlindungan hak cipta musik di lingkungan digital. Di antaranya, musisi didorong lebih proaktif mendaftarkan hak cipta dan memanfaatkan teknologi pengenalan konten digital seperti Content ID untuk mengontrol penggunaan karya mereka secara daring.
Selain langkah teknis, asosiasi profesi dinilai perlu memperkuat pelatihan serta dukungan hukum bagi anggotanya. Sementara itu, pihak berwenang terkait didorong meningkatkan inspeksi dan menangani pelanggaran dengan tegas guna menimbulkan efek jera dan membantu membangun lingkungan kreatif yang sehat.
Pada akhirnya, penghormatan terhadap hak cipta musik dipandang bukan semata urusan kepatuhan hukum. Dalam pandangan para pelaku dan pemerhati, hal itu juga mencerminkan kesopanan masyarakat dalam menghargai nilai kemanusiaan, sekaligus memastikan para musisi—yang kerap bekerja dalam senyap—tetap dapat berkarya dan bertahan.